POJOKSATU.id - Numerasi finansial menjadi istilah yang makin sering muncul terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.

Kemampuan menggunakan angka kini memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

Seseorang perlu memahami cara membandingkan nilai, menghitung bunga, atau menghitung tabungan dengan tepat.

Kemampuan tersebut sebenarnya bukan lagi sekadar keterampilan matematika biasa, melainkan bagian dari kecakapan hidup yang penting.

Kemampuan ini sudah menjadi bagian penting dalam keterampilan hidup sehari-hari.

Baca Juga: Truk Tanah Kuasai Jalan Maja–Curugbitung, Warga: Ini Jalan Umum atau Jalur Tambang

Numerasi finansial merupakan kemampuan untuk memahami informasi angka dalam konteks keuangan pribadi.

Kemampuan ini juga mencakup keterampilan menganalisis data kuantitatif dan menggunakannya dalam pengambilan keputusan keuangan.

Dengan numerasi finansial, seseorang mampu membaca laporan keuangan sederhana.

Orang tersebut juga dapat menghitung potongan harga, memahami bunga tabungan atau cicilan, serta membuat keputusan keuangan yang lebih bijak berdasarkan data.

Dalam dokumen resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dijelaskan bahwa Pendidikan Literasi Finansial dilaksanakan dalam satuan pendidikann.

Tujuannya agar profil Pelajar Pancasila tidak hanya menguasai konten akademik.

Baca Juga: Kota Bogor Tindak Tegas Penunggak Pajak, 10 Lokasi Dipasangi Plang Tunggakan

Mereka juga diharapkan memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan abad ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi numerasi memiliki korelasi positif dengan literasi finansial.

Semakin baik kemampuan numerasi seseorang, semakin tinggi pemahamannya mengenai konsep-konsep keuangan.

Mengapa Harus Dimulai Sejak Muda?

Menanamkan numerasi finansial sejak muda memiliki sejumlah keuntungan utama.

Pertama, pada masa remaja hingga awal dewasa, kebiasaan finansial mulai terbentuk.

Baca Juga: Viral! Menu MBG di Medan Ditemukan Cacing Tanah, Orangtua Siswa Kaget dan Pertanyakan Kualitas

Pada fase ini, seseorang belajar mengatur uang saku, menabung, dan menahan belanja impulsif.

Di saat yang sama, mereka juga mulai terbiasa menggunakan layanan keuangan digital.

Menurut survei dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan pada kelompok usia 15–17 tahun hanya sekitar 51,7%.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kelompok usia 18–25 tahun.

Kebiasaan finansial yang buruk sejak muda sering kali terbawa hingga dewasa.

Kebiasaan tersebut dapat berupa konsumsi berlebihan atau mengambil utang tanpa perencanaan matang.

Jika dibiarkan, hal ini dapat berdampak negatif pada kesejahteraan keuangan seseorang di masa depan.

Baca Juga: Ini Daftar Lengkap Peraih Medali Emas OMI Nasional 2025 Bidang Sains

Dengan numerasi finansial yang kuat, generasi muda lebih siap dalam mengambil keputusan keuangan.

Mereka juga mampu memahami risiko sekaligus peluang yang mungkin muncul.

Kemampuan ini membantu mereka menghindari jebakan keuangan, seperti investasi bodong atau pinjaman online ilegal.

Elemen-Elemen Penting dalam Numerasi Finansial

Menguasai numerasi finansial berarti menguasai beberapa elemen kunci, antara lain;

-Mengelola Pendapatan dan Pengeluaran

Salah satu langkah dasar adalah membuat anggaran sederhana sehingga pemasukan dan pengeluaran berada dalam rasio yang sehat.

Baca Juga: Terdakwa Kirun Kini Justice Collabolator Korupsi Jalan PUPR Sumut, Minggu Lalu Cuma Dituntut 3 Tahun

Mecermati perbandingan kebutuhan dan keinginan menjadi bagian dari numerasi finansial.

-Menabung dan Menentukan Prioritas

Metode sederhana seperti aturan “50-30-20” (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan) dapat diterapkan sejak muda.

Menabung bukan hanya soal menyimpan uang, melainkan juga menumbuhkan kebiasaan disiplin angka.

-Memahami Bunga dan Cicilan

Numerasi finansial membantu seseorang memahami konsep bunga.

Pemahaman ini mencakup bunga tabungan maupun bunga utang.

Melalui kemampuan tersebut, seseorang juga dapat melihat dampak cicilan konsumtif yang berpotensi membebani keuangan.

Baca Juga: 7 Jurus BK Hebat Strategi Kemendikdasmen Cegah Perundungan di Sekolah

-Membaca Informasi Harga dan Diskon

Kemampuan membandingkan harga merupakan bagian penting dari literasi finansial.

Begitu pula kemampuan menghitung diskon atau promo.

Semua keterampilan ini sangat bergantung pada numerasi yang kuat.

Pengambilan Keputusan Berdasarkan Data

Kemampuan membaca data sederhana juga menjadi aspek penting numerasi finansial.

Data tersebut bisa berupa grafik keuangan, tabel pengeluaran, atau simulasi anggaran.

Dengan kemampuan ini, remaja dapat membuat keputusan finansial yang lebih tepat dan terukur.

Baca Juga: Bogor Pecahkan Rekor!!! 9.687 P3K Paruh Waktu Dilantik di Lapangan Terbuka, Pelayanan Publik Siap Melesat

Cara Sekolah dan Guru Mengajarkan Numerasi Finansial

Sekolah dan guru memiliki peran penting dalam pembentukan numerasi finansial siswa.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan materi numerasi finansial ke dalam berbagai mata pelajaran.

Materi ini dapat dimasukkan dalam pelajaran Matematika, IPS, maupun PPKn.

Selain itu, numerasi finansial juga dapat diterapkan melalui kegiatan proyek profil Pelajar Pancasila.

Pembelajaran berbasis konteks kehidupan nyata terbukti sangat efektif. Contohnya, peserta didik dapat diberi tugas menggunakan uang saku mingguan secara terencana.

Tugas lain yang bisa diberikan adalah membuat rencana tabungan untuk membeli barang impian.

Infografik dan simulasi digital juga bisa digunakan untuk memperkuat pemahaman numerasi finansial.

Baca Juga: Mengenal UKPPPG, Struktur Ujian, Sistem Penilaian, dan Kunci Kelulusan Guru

Kolaborasi dengan orang tua berperan penting dalam memperkuat penerapan numerasi finansial di rumah.

Orang tua dapat mengajak remaja memahami struk belanja, menjelaskan perhitungan harga, atau menabung bersama sebagai latihan sederhana.

Guru juga memiliki peran besar dalam proses pembelajaran.

Guru dapat memfasilitasi diskusi tentang keputusan keuangan yang sering dihadapi remaja.

Selain itu, guru dapat mengajak siswa membaca data sederhana, seperti tabel atau grafik, untuk memperkuat pemahaman numerasi sehari-hari.

Contoh Aktivitas Numerasi Finansial untuk Remaja

Sebuah sekolah dapat menghadirkan kegiatan sederhana seperti “Catat Uang Saku Harian”.

Baca Juga: Tips Lolos Wawancara PPG! Cek Strategi Bicara, Sikap Profesional, dan Kunci Penilaiannya

Dalam kegiatan ini, siswa menuliskan pemasukan dan pengeluaran setiap hari.

Setelah itu, mereka menghitung sisa uang untuk melihat pola penggunaan uang secara lebih jelas.

Ada juga tugas membuat rencana tabungan untuk membeli barang impian.

Pada tugas ini, siswa menghitung harga barang yang diinginkan.

Mereka kemudian menentukan target tabungan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Simulasi jajan sehat dapat dilakukan dengan memberi anggaran tertentu, misalnya Rp50.000 per minggu.

Dengan anggaran tersebut, siswa harus memutuskan alokasi untuk makanan, hiburan, dan tabungan.

Baca Juga: Warga Depok Heboh! Sabun Palsu Dijual Murah di Marketplace Diduga Diproduksi Dekat Rumah Mereka, Ternyata Pakai Nama Merk Besar!

Latihan seperti ini membantu mereka memahami cara membuat keputusan finansial sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan lainnya adalah tugas “bandingkan harga”.

Pada tugas ini, siswa diberi dua produk serupa di minimarket.

Mereka kemudian diminta menghitung selisih harga, mempertimbangkan alasan memilih salah satu produk, atau memutuskan untuk menunggu promo.

Semua aktivitas tersebut menumbuhkan numerasi finansial dalam keseharian.

Tantangan Penerapan Numerasi Finansial

Meskipun sangat penting, penerapan numerasi finansial masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kurangnya kebiasaan literasi angka di rumah membuat siswa sulit terbiasa berbicara dengan angka keuangan.

Baca Juga: Peluang dan Tantangan bagi Calon Pendaftar KIP Kuliah 2026

Gaya hidup konsumtif, mudahnya akses finansial digital, dan pengaruh media sosial juga menjadi tantangan besar.

Minimnya bahan ajar kontekstual dan belum semua guru memperoleh pelatihan numerasi finansial juga menjadi hambatan.

Integrasi materi ke dalam kurikulum formal terkadang belum maksimal sehingga pembelajaran masih bersifat teoritis dan kurang praktik.

Manfaat Numerasi Finansial dalam Kehidupan Nyata

Numerasi finansial yang matang membawa banyak manfaat nyata. Remaja dan dewasa muda menjadi lebih mandiri dalam mengatur keuangan.

Mereka juga lebih mampu menghindari keputusan keuangan yang buruk.

Baca Juga: Skandal Radioaktif! Produsen Sepatu Global di Indonesia Terpapar Cs-137, Kok Bisa Tembus hingga Eropa?

Keterampilan ini turut membantu menumbuhkan mindset jangka panjang mengenai pengelolaan uang.

Individu yang menguasai numerasi finansial cenderung lebih terencana.

Mereka mampu menyusun perencanaan keuangan dengan lebih baik.

Mereka juga tidak mudah terjerat utang konsumtif.

Selain itu, mereka bisa melihat peluang investasi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Pemahaman ini sejalan dengan aspirasi pembentukan generasi yang siap menghadapi dinamika ekonomi modern.

Generasi tersebut diharapkan mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga: Viral Ucapan Sampai Kiamat Mafia Tanah Akan Tetap Ada, Kritik untuk Nusron Mengalir Deras!

Numerasi finansial bukan sekadar kegiatan menghitung uang.

Keterampilan ini merupakan bagian penting dari kecakapan hidup, terutama bagi generasi muda yang menghadapi banyak pilihan keuangan di era digital.

Kemampuan memahami angka, membuat rencana keuangan, dan mengambil keputusan berdasarkan data merupakan inti dari numerasi finansial.

Kemampuan tersebut dapat membawa seseorang pada kondisi finansial yang lebih stabil, bahkan menuju kebebasan finansial.

Sekolah, guru, siswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menumbuhkan keterampilan ini.

Masing-masing memiliki kontribusi untuk membantu generasi muda terbiasa dengan keputusan finansial yang sehat.

Baca Juga: Raih ISO 9001:2015, LAZ Zakat Sukses Diharap Jadi Mitra Strategis Pemkot Depok Entaskan Kemiskinan

Dengan persiapan dan pelatihan sejak dini, generasi muda Indonesia dapat menjadi lebih bijak dalam mengatur uang.

Mereka juga lebih siap menghadapi tantangan keuangan di masa depan.

Pada akhirnya, keterampilan numerasi finansial membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang mandiri secara finansial. ***