POJOKSATU.id - Numerasi buruk menjadi salah satu persoalan mendasar dalam pendidikan Indonesia.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kemampuan akademik siswa, tetapi juga masa depan dunia kerja.

Berbagai laporan dan survei nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kemampuan numerasi generasi muda Indonesia masih berada pada level mengkhawatirkan.

Jika pendidikan dasar tidak segera dibenahi, Indonesia berpotensi menghadapi krisis sumber daya manusia (SDM) yang serius.

Baca Juga: Bocah 10 Tahun di Samarinda Diduga Jadi Korban Kekerasan, Kakinya Patah Usai Dibanting Teman

Kondisi Numerasi Indonesia Saat Ini, Fakta yang Tidak Bisa Diabaikan

Kemampuan numerasi siswa Indonesia terus menjadi sorotan.

Hasil PISA 2022 mencatat bahwa skor matematika Indonesia berada di bawah rata-rata global.

Skor yang rendah ini menggambarkan keterbatasan siswa dalam memahami konsep dasar matematika, memecahkan masalah sederhana, dan mengaplikasikan logika numerik dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut tidak hanya dialami siswa di daerah terpencil, tetapi juga di wilayah perkotaan.

Banyak siswa kesulitan memahami soal cerita dasar, melakukan perhitungan logis, atau menghubungkan informasi numerik dengan situasi nyata.

Baca Juga: Skor PISA Merosot, Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Ada Apa dengan Fondasi Pendidikan Kita?

Riset nasional juga mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar belum mencapai kompetensi numerasi minimum yang diharapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan numerasi sudah terjadi sejak pendidikan dasar dan sering terbawa hingga jenjang pendidikan menengah.

Mengapa Numerasi Buruk Bisa Menghambat Peluang Kerja?

Kemampuan numerasi bukan hanya dibutuhkan dalam pelajaran matematika, tetapi juga berbagai aspek kehidupan.

Dunia kerja saat ini sangat mengutamakan kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pengolahan data. Semua kemampuan tersebut bertumpu pada numerasi.

Industri modern, mulai dari manufaktur, perbankan, teknologi, kesehatan, hingga logistik semakin mengandalkan keterampilan berbasis angka dan analisis data.

Baca Juga: Jadwal PPG Calon Guru Terlalu Padat? Semester 1 dan 2 Hanya Libur Sehari, Mahasiswa Pertanyakan Kesehatan Mental dan Beban Studi

Seseorang yang tidak memiliki kemampuan numerasi yang baik akan kesulitan memahami instruksi kerja, menghitung risiko, membaca laporan, atau mengikuti pelatihan teknis.

Pada akhirnya, individu dengan numerasi rendah akan memiliki peluang kerja yang jauh lebih sempit.

Mereka akan terjebak dalam pekerjaan berupah rendah atau informal, sehingga sulit meningkatkan taraf hidup.

Mengapa Numerasi Siswa Bisa Sedemikian Rendah?

Masalah numerasi yang terjadi secara meluas tentu tidak muncul tanpa sebab.

Ada beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan numerasi siswa di Indonesia.

Baca Juga: Kemnaker Bahas Regulasi Transportasi Online, Driver Gelar Aksi Tolak Ranperpes

Pertama, metode pembelajaran matematika yang masih cenderung berfokus pada hafalan, bukan pemahaman konsep.

Banyak siswa mampu menghafal rumus, tetapi gagal memahami bagaimana dan mengapa rumus tersebut digunakan.

Kedua, kurangnya latihan soal kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Siswa jarang dilatih untuk mengaplikasikan matematika dalam situasi nyata, sehingga pembelajaran terasa abstrak dan sulit dipahami.

Ketiga, kurangnya pelatihan guru dalam mengajar numerasi secara kreatif dan efektif.

Banyak guru masih menggunakan metode tradisional yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman atau kebutuhan siswa.

Baca Juga: Menguak Statistik BPS, Provinsi Mana Saja Punya Indeks Literasi Terendah di 2024-2025?

Keempat, keterbatasan fasilitas belajar, terutama di daerah 3T.

Tanpa alat peraga, buku pendukung, dan akses teknologi, pembelajaran numerasi tidak dapat berjalan optimal.

Dampak Jangka Panjang bagi SDM Indonesia

Rendahnya numerasi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masa depan bangsa.

Indonesia memiliki bonus demografi yang besar, namun bonus ini dapat berubah menjadi beban jika kualitas SDM rendah.

Individu dengan kemampuan numerasi lemah akan sulit mengikuti perkembangan teknologi.

Padahal, dunia industri bergerak menuju otomatisasi, digitalisasi, dan penggunaan data dalam berbagai lini pekerjaan.

Keterbatasan numerasi juga menurunkan produktivitas tenaga kerja.

Baca Juga: Merapikan Taman Berujung Maut, Petugas Pertamanan Di Ancol Jakarta Tewas Tertabrak Truk

Banyak perusahaan akan kesulitan menemukan karyawan yang mampu mengoperasikan perangkat digital, membaca data, atau melakukan analisis sederhana.

Jika situasi ini tidak diperbaiki, Indonesia dapat menghadapi krisis tenaga kerja terampil.

Sumber daya manusia lokal akan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.

Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Mengatasi Krisis Numerasi

Perbaikan numerasi harus dimulai dari pendidikan dasar. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan agar siswa memiliki fondasi yang kuat dalam matematika dan logika.

Sekolah perlu menerapkan pembelajaran numerasi berbasis konsep dan konteks.

Guru perlu dilatih dengan metode baru yang menekankan pemahaman, bukan sekadar hafalan.

Pemerintah perlu memperkuat pemerataan fasilitas belajar, terutama di daerah terpencil.

Baca Juga: Kejari Jakbar Eksekusi Terpidana Wijanto Tirtasana ke Lapas Cipinang

Tanpa infrastruktur pendidikan yang memadai, kesenjangan numerasi antara daerah kaya dan daerah miskin akan semakin lebar.

Orang tua dan masyarakat juga harus terlibat dalam membangun budaya numerasi.

Aktivitas sederhana seperti permainan hitung, membaca grafik, atau diskusi angka sehari-hari dapat membantu meningkatkan kemampuan numerasi anak.

Numerasi Adalah Fondasi Masa Depan

Kemampuan numerasi adalah salah satu pilar terpenting dalam membentuk kualitas SDM yang unggul.

Jika pendidikan dasar tidak segera dibenahi, Indonesia terancam mengalami krisis SDM yang serius.

Peluang kerja akan semakin sempit bagi mereka yang memiliki numerasi rendah.

Baca Juga: Literasi Itu Lebih dari Bisa Baca: Ketika Siswa Tak Bisa Pahami Teks, Apa Dampaknya Bagi Masa Depan?

Industri masa depan membutuhkan individu yang mampu berpikir logis, menghitung risiko, dan menganalisis informasi dengan tepat.

Dengan memperbaiki numerasi sejak dini, Indonesia dapat membangun generasi yang lebih siap menghadapi tantangan global. ***