POJOKSATU.id - Nilai matematika Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA tahun 2025 ternyata benar-benar memprihatinkan.
Hal itu diungkap langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam pembukaan Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, baru baru ini.
Mu’ti secara blak-blakan menyebut hasilnya jeblok.
“Saya bocorkan di sini walaupun belum taklimat, yang kita selenggarakan itu matematikanya juga jeblok-blok-blok-blok,” kata Mu’ti.
Baca Juga: Tonggak Baru Pasar Modal Syariah: BRI Manajemen Investasi Catatkan KIK EBA Syariah Perdana di BEI
Nah, pernyataan itu sontak membuat perhatian publik langsung mengarah pada kualitas pembelajaran matematika kita.
Menurut Mu’ti, rendahnya nilai tersebut bukan karena para siswa SMA sederajat tidak mampu mengerjakan soal matematika. Bukan itu.
Ia menilai, persoalannya mungkin terletak pada kualitas buku yang digunakan serta cara guru mengajarkan materi yang tidak cukup membuat siswa ingin terus belajar matematika.
Ia juga melanjutkan, masalah rendahnya numerasi di Indonesia terjadi karena ada anggapan lama yang terus terbawa: Matematika itu pelajaran sulit.
“Jadi STEM itu buku-buku Science yang Science, Technology, Engineering, and Math itu kita kembangkan dalam buku-buku sains yang mudah, murah dan menyenangkan,” ujarnya.
Pemerintah, kata Mu'ti, sedang menyiapkan pendekatan baru agar anak-anak mulai menyukai bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Gerakan Numerasi Nasional Mulai Digulirkan
Sebelumnya, Mu’ti juga pernah menyinggung alasan pembelajaran STEM masih terasa sulit bagi banyak siswa.
Kondisi ini, menurutnya, turut berkontribusi pada menurunnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.
Untuk menjawab persoalan ini, pemerintah kini menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional.
Baca Juga: PSI Buka bukaan! Jokowi Dijadikan Senjata Gaet Anak Muda, Ini Alasannya
Gerakan ini dibangun untuk menanamkan budaya numerasi sejak usia dini dengan cara-cara yang menyenangkan.
“Agar anak-anak Indonesia tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, dan adaptif dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mu’ti dalam kesempatan lain.
Mu’ti juga menekankan pentingnya pembelajaran STEM dengan metode 3M: Mudah, Murah, dan Menarik.
Tidak hanya itu, ia mendorong agar matematika diperkenalkan sejak tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dengan cara yang sederhana dan dekat dengan dunia bermain anak.
Pembelajaran yang Lebih Menyenangkan untuk Anak Usia Dini
Mu’ti menegaskan bahwa anak-anak perlu mengenal konsep dasar logika sejak dini melalui aktivitas bermain.
“Kami mendorong Matematika mulai diajarkan dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), lewat konsep dasar dan kegiatan bermain logika yang sederhana,” ujarnya.
Dengan pendekatan seperti ini, diharapkan ketakutan terhadap matematika bisa perlahan hilang.
Namun, bukan hanya soal metode belajar yang jadi PR besar. Masalah pemerataan pendidikan juga terus menghantui kualitas numerasi nasional.
Terutama bagi wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang masih kekurangan sarana dan tenaga pendidik.
Baca Juga: Lipstick Gampang Pudar? Ini Teknik Layering Biar Warna Lipstick Nempel Lama
Mu’ti menjelaskan bahwa kesenjangan mutu pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan, antara sekolah negeri dan swasta, hingga antarwilayah masih sangat terasa.
“Kesenjangan mutu pendidikan yang masih terlihat antarwilayah, antara negeri dan swasta, maupun antara kawasan perkotaan dan pedesaan,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) turut menjadi fokus pemerintah dalam memperbaiki keseluruhan kualitas pendidikan nasional.
Pada akhirnya, berbagai persoalan ini menunjukkan bahwa perbaikan pendidikan tidak bisa dilakukan hanya dari satu pintu.
Perlu pembaruan kurikulum, pelatihan guru yang lebih kuat, hingga pemerataan akses pendidikan yang benar-benar terasa. ***




