POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap hasil pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD/MI sederajat menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi.
Namun di balik capaian tersebut, hasil asesmen juga memperlihatkan pekerjaan rumah besar dalam pembelajaran Matematika.
Pelaksanaan TKA SD/MI sederajat berlangsung pada 20–30 April 2026 dalam empat gelombang.
Berdasarkan data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), sebanyak 8.708.891 murid mengikuti TKA dari total 8.875.362 peserta yang terdaftar pada jadwal utama.
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Penipuan Wedding Organizer di Jaktim, Ternyata untuk Ini
Sementara itu, jadwal susulan diikuti oleh 463.533 murid dari total 490.551 peserta yang terdaftar. Secara keseluruhan, tingkat partisipasi mencapai 98,51 persen.
Kepala BKPDM, Toni Toharudin, menilai angka tersebut menunjukkan kesiapan sekolah dan peserta didik yang semakin baik dalam mengikuti asesmen nasional.
“Persentase partisipasi dari SD/MI sederajat mencapai 98,51 persen dan konsisten di berbagai gelombang.
Ini menunjukkan bahwa sejak hari pertama pelaksanaan, kesiapan satuan pendidikan dan siswa yang mengikuti TKA sudah sangat baik.
Ini juga menjadi sinyal kuat bahwa TKA diterima dan dijalankan dengan serius oleh ekosistem pendidikan kita,” ujarnya.
Baca Juga: Dilatih Kodim Karawang, Cindy Tampil Memukau di Upacara Hari Lahir Pancasila
Hasil TKA 2026, Bahasa Indonesia Ungguli Matematika
Meski tingkat partisipasi tinggi, hasil nasional TKA menunjukkan capaian Matematika masih tertinggal dibandingkan Bahasa Indonesia pada jenjang SD maupun SMP.
Untuk jenjang SD/MI sederajat, rerata nilai Bahasa Indonesia mencapai 60,14, sedangkan Matematika berada di angka 43,41.
Sementara pada jenjang SMP/MTs sederajat, rerata Bahasa Indonesia tercatat 60,83 dan Matematika hanya mencapai 40,34.
“Untuk SD/MI sederajat, rerata Bahasa Indonesia mencapai 60,14 sedangkan Matematika 43,41. Sementara pada jenjang SMP/MTs sederajat, rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34,” kata Toni Toharudin.
Baca Juga: UPI 2026 Dibanjiri 56 Ribu Pendaftar, Psikologi Paling Diminati dan Kedokteran Prodi Paling Ketat
Menurut Toni, hasil tersebut bukan untuk memberi label terhadap daerah, sekolah, maupun peserta didik.
Namun, data itu menjadi sinyal penting bahwa kemampuan berpikir logis, bernalar, dan memecahkan masalah masih perlu diperkuat.
“Ini menjadi perhatian bersama bahwa kemampuan berpikir logis, penalaran matematika, dan problem solving perlu terus diperkuat dalam proses pembelajaran sehari-hari,” tuturnya.
Wamendikdasmen Respons Nilai Matematika yang Masih Rendah
Menanggapi capaian Matematika yang masih rendah, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, menegaskan salah satu tujuan utama TKA memang untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran yang selama ini berlangsung di sekolah.
“Salah satu tujuan dari TKA adalah untuk mengevaluasi hasil pembelajaran khususnya matpel Matematika,” kata Atip.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila 2026, Prabowo Ungkap Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Namun Belum Merata
Ia memastikan hasil asesmen tersebut tidak berhenti sebagai data statistik semata.
Kemendikdasmen akan menggunakan hasil TKA sebagai dasar untuk menyusun berbagai strategi peningkatan kualitas pembelajaran.
“Hasil yang diperoleh menjadi informasi penting untuk perbaikan,” ujarnya.
Atip menyebut sejumlah program telah dan akan terus diperkuat, mulai dari penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan literasi numerasi, hingga pembelajaran matematika yang lebih menyenangkan bagi siswa.
“Penggunaan papan digital interaktif yang merupakan salah satu bentuk digitalisasi pembelajaran yang menghadirkan pembelajaran matematika lebih mudah dipahami oleh murid dan berlangsung secara lebih menyenangkan,” jelasnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Bansos, 400 Ribu Lebih Warga Aceh Kini Dijamin PBI JK oleh Kemensos!
Hasil TKA Jadi Dasar Perbaikan Pembelajaran
Dalam pelaksanaannya, TKA menggunakan sistem penskoran klasik dengan rentang nilai 0 hingga 100.
Sebelum hasil diumumkan, seluruh paket dan butir soal terlebih dahulu melalui proses verifikasi serta validasi statistik untuk memastikan keadilan bagi seluruh peserta.
Selain nilai numerik, hasil TKA juga dilengkapi kategori capaian dan deskripsi kemampuan peserta didik.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu siswa, guru, dan orang tua memahami kekuatan maupun area yang masih perlu ditingkatkan.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, mengatakan hasil TKA telah diumumkan pada 26 Mei 2026 melalui satuan pendidikan dalam bentuk Daftar Kolektif Hasil TKA (DKHTKA) sebelum diterbitkan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA).
“Pada 26 Mei, hasil TKA diakses oleh satuan pendidikan dalam bentuk DKHTKA untuk dilakukan verifikasi. Setelah proses tersebut, hasil akan disampaikan kepada peserta didik,” jelas Rahmawati.
Menurut Toni, pemanfaatan hasil TKA sangat penting bagi seluruh pihak dalam ekosistem pendidikan.
Orang tua dapat memahami kemampuan anak secara lebih akurat, guru memperoleh dasar untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif, sementara sekolah dan dinas pendidikan dapat memetakan kualitas pembelajaran secara lebih tepat.
Baca Juga: Dua Eks Menhan Meninggal Dunia Kurun 3 Bulan Belakangan, Juwono dan Ryamizard
“Hasil TKA dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk memahami kemampuan anak sehingga pendampingan belajar dan arah pendidikan menjadi lebih tepat.
Bagi guru, hasil ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi kompetensi siswa dan menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif, termasuk pembelajaran terdiferensiasi,” tuturnya.
Terdapat 69 Pelanggaran Selama Pelaksanaan TKA SD
Kemendikdasmen juga mencatat terdapat 69 pelanggaran selama pelaksanaan TKA jenjang SD.
Temuan tersebut telah ditindaklanjuti oleh dinas pendidikan melalui teguran tertulis, pembinaan, hingga penghapusan konten media sosial yang dinilai melanggar ketentuan.
“Tindak lanjut temuan TKA, beberapa dinas telah memberikan teguran tertulis, melakukan pembinaan dan penguatan pemahaman, serta pihak yang bersangkutan menghapus konten media sosial yang melanggar,” kata Toni.
Ia menambahkan bahwa petugas yang terbukti melakukan pelanggaran telah ditandai melalui sistem sehingga tidak direkomendasikan kembali menjadi pengawas, penyelia, maupun proktor pada pelaksanaan TKA berikutnya.
Meski sempat menghadapi kendala eksternal seperti pemadaman listrik dan bencana alam di sejumlah wilayah, pelaksanaan ujian susulan dinilai mampu menjaga kelancaran keseluruhan proses asesmen.
Bagi dunia pendidikan, hasil TKA 2026 menjadi cermin yang menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam penguatan numerasi siswa. ***




