POJOKSATU.id — Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar kembali memantik perdebatan luas soal kesejahteraan guru di Indonesia.

Saat membuka Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Batch 3 Tahun 2025 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Nasaruddin menegaskan bahwa guru memiliki tugas mulia mencerdaskan anak bangsa dan sebaiknya tidak berorientasi pada uang.

Ucapan itu langsung menuai reaksi, terutama ketika publik membandingkan gaji guru di Indonesia dengan negara-negara lain di ASEAN.

Fakta yang muncul adalah posisi Indonesia justru paling tertinggal dalam hal kesejahteraan guru.

Baca Juga: Pendaftaran PPG Guru Tertentu 2025 Periode 3 Telah Dibuka, Cek Info GTK!

Di Indonesia, gaji guru sangat bergantung pada status kepegawaian. Guru PNS mengacu pada PP Nomor 5 Tahun 2024 dengan gaji pokok Rp1,68 juta hingga Rp6,37 juta per bulan.

Guru PPPK mengikuti Perpres Nomor 11 Tahun 2024 dengan kisaran Rp1,93 juta sampai Rp7,32 juta. Keduanya mendapat tambahan tunjangan keluarga, pangan, sertifikasi, hingga tunjangan kinerja.

Namun, kondisi berbeda dialami guru honorer. Banyak di antara mereka digaji jauh di bawah standar.

Dalam rapat bersama Komisi X DPR pada Juli 2025, seorang guru honorer di Bengkulu mengaku hanya menerima Rp540 ribu per bulan.

Baca Juga: Alvi Maulana Terungkap! Jasad Korban Mutilasi di Mojokerto Dipotong hingga Dikabarkan Ratusan Bagian Olehnya

Bahkan, 74 persen guru honorer di Indonesia mendapat gaji di bawah UMK atau kurang dari Rp2 juta per bulan.

Pemerintah memang memberi insentif tahunan, tetapi jumlahnya kecil hanya Rp2,1 juta untuk guru formal dan Rp2,4 juta untuk guru PAUD non-formal.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, ketimpangan sangat terlihat.

Di Singapura, gaji guru rata-rata mencapai Rp46 juta hingga Rp66 juta per bulan dengan aturan ketat melindungi kesejahteraan guru, termasuk larangan membebani mereka di luar jam kerja.

Vietnam, meski guru baru hanya mendapat Rp4,1–4,6 juta, nyatanya negara tersebut sudah menargetkan peningkatan tunjangan hingga 80 persen dan reformasi besar di sektor pendidikan.

Baca Juga: Mutilasi di Mojokerto: Terancam Hukuman Mati, Siapa Sebenarnya Alvi Maulana dan Mengapa Ia Nekat Berbuat Keji?

Guru berpengalaman bisa meraih hingga Rp24,8 juta per bulan.

Di Malaysia, gaji guru bervariasi mulai Rp10,5 juta di Perak Tengah hingga Rp25 juta di Muar.

Mereka yang mengajar di pedalaman mendapat tunjangan tambahan Rp1,9 juta hingga Rp5,8 juta.

Sementara itu, guru di Brunei menjadi salah satu yang paling sejahtera di ASEAN dengan gaji Rp22,9 juta sampai Rp76 juta, tergantung jenis sekolah.

Di Thailand, gaji guru berkisar Rp9,2 juta hingga Rp17,7 juta, sedangkan di Filipina Rp8,1 juta–Rp8,5 juta.

Guru di Laos mendapat Rp2,1 juta hingga Rp4,9 juta dengan rata-rata Rp4,5 juta untuk universitas dan Rp3,9 juta di sekolah dasar.

Baca Juga: Rekrutmen Guru Penggerak Tubaba 2025: Pendaftaran Ditutup, Kini Masuk Tahap Seleksi

Di Kamboja, gaji guru bisa mencapai Rp13,1 juta–Rp41 juta, sedangkan di Myanmar guru negeri rata-rata mendapat Rp11,4 juta–Rp16,4 juta dan di sekolah internasional mencapai Rp24,6 juta.

Perbandingan ini semakin menyoroti urgensi pembenahan sistem penggajian guru di Indonesia.

Dengan beban besar mencerdaskan generasi penerus bangsa, guru seharusnya mendapat penghargaan yang sepadan, bukan sekadar ucapan “tidak berorientasi uang”.***

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami: