POJOKSATU.ID - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2025 diwarnai berbagai cerita.
Salah satunya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wayut 01, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Hingga saat ini, baru 1 orang siswa berusia 6 tahun yang mendaftar di SDN Wayut 01 tersebut.
Kondisi ini tentunya membuat para guru di SDN Wayut 01 harap-harap cemas menanti siswa siswi baru pada tahun ajaran 2025/2026.
Baca Juga: Sudah Tiga Hari Harga Emas Antam Anjlok, Berikut Pecahannya yang Tercatat di Logam Mulia
Kepala Sekolah SDN Wayut 01, Sri Hartatik mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan pendekatan terhadap wali murid.
"Kebetulan kakeknya masih sekitar sekolah, sedangkan orang tuanya itu beda desa," ungkap Sri, dikutip Sabtu (28/2/2025).
Sri Hartatik sendiri tidak berharap muluk-muluk. Baginya mendapat 10 orang murid pada SPMB 2025 merupakan pencapaian yang luar biasa.
"Sekolah kami dari kelas 1 sampai kelas 6 juga tidak memenuhi pagu, bahkan cenderung sangat kecil," tutur Sri Hartatik.
Baca Juga: 2029 Tak Pakai 5 Kotak Suara Lagi, MK Putuskan Pemilu Nasional dan Daerah Dipisah
"Rata-rata per kelas paling tinggi hanya lima murid," tambahnya sedih.
Berbagai upaya telah dilakukan Sri Hartatik dan para guru demi menarik minat orang tua, agar mau mendaftarkan putra putri mereka di sekolah tersebut.
"Sosialisasi berupa pemasangan banner dengan harapan bisa dibaca masyarakat atau desa yang ada di sekitar," jelasnya.
Baca Juga: Sudah Terdaftar Penerima PIP 2025? Simak Cara Verifikasi NISN dan Ikuti Langkah Ini untuk PENCAIRAN
"Untuk memahami bahwa kami membutuhkan atau menerima siswa baru," imbuh Sri lagi.
Tak sampai disitu, Sri Hartatik pun telah berupaya untuk berkomunikasi dengan guru PAUD dan TK yang ada di desa setempat.
"Kami pantau kelulusannya berapa, kami adakan sosialisasi biar mau jadi murid di sekolah kami."
Bahkan pihaknya pun bekerjasama dengan kader Posyandu desa untuk mengetahui data anak usia yang akan masuk SD.
"Terus kerja sama juga dengan kader Posyandu yang ada di desa, guna mengetahui data anak usia yang masuk ke sekolah dasar. Kami juga berhubungan dengan guru-guru yang sudah purna alumni SD." ungkapnya.
Sri Hartatik berharap dengan adanya pendekataan secara riil kepada orang tua, mereka mau menyelekolahkan anak mereka ke SDN Wayut 01.
"Dengan harapan untuk memberikan pendekatan secara riil kepada orang tua siswa, supaya berminat masuk di sekolah kami," sambung Sri.
Baca Juga: Perkara Utang 12 Ribu, Tetangga Ribut Berujung Penganiayaan. Endingnya Lapor ke Polres Metro Jaktim
Pihaknya tetap optimistis dan berpikir positif, melalui upaya yang dilakukan semaksimal mungkin, akan dapat membuahkan hasil terbaik di tengah persaingan antar lembaga.
"Walaupun untuk TK yang dekat dengan SDN Wayut 01 itu hanya satu, demikian juga dengan PAUD, tapi kebanyakan PAUD di sini tidak langsung menuju ke TK, itu yang menjadi kesulitan kami," katanya.
Di satu sisi, kata Sri, tanggapan masyarakat terhadap SDN Wayut 01 sudah baik.
Akan tetapi keinginan orang tua menjadi kendala hingga menyebabkan kesulitan untuk diajak masuk SDN Wayut 01.
Baca Juga: Tunjangan Apa Saja yang Diterima PNS atau Guru ASN, Terbaru Sri Mulyani Gelontorkan Rp 16,7 Triliun
"Kami tidak jauh berbeda dengan sekolah lain. Pengembangan yang diberikan 11 tenaga pengajar kami itu sama. Kegiatan siswa juga ada pramuka, pendidikan karakter, bahkan Kurikulum Merdeka juga kami terapkan," bebernya.
Dengan adanya situasi kekurangan murid tersebut, tidak menutup kemungkinan tahapan SPMB tetap dibuka meski sudah memasuki tahun ajaran baru.
"Meski sudah ditutup oleh pemerintah, kami tetap membuka peluang-peluang yang ada sampai kapanpun. Kami menerima karena memang pagu kami belum terpenuhi," ujar Sri optimis.
Baca Juga: BERSIAP, Ini Dia JADWAL, Isi MODUL dan JENIS TUGAS PPG Dalam Jabatan Guru Madrasah Mapel Umum 2025
Sri juga berharap agar masyarakat setempat agar memanfaatkan lembaga yang ada. Ia berpesan jangan sampai lembaga yang sudah bagus milik pemerintah terbengkalai gara-gara tidak ada peminat.
"Kami siap membimbing anak anak. Sekolah ini juga menghasilkan alumni, sekarang di ITS Ahli Kimia."
"Kami kemarin lomba seni tari juga juara. Itu kan padahal dengan keterbatasan jumlah siswa bisa menghasilkan prestasi," pungkas Sri.
Baca Juga: Nadiem Makarim Dicegah ke Luar Negeri, Hotman Paris Akui Belom Tau
Penjelasan Pemdes
Sementara itu, pemerintah desa (Pemdes) menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab SDN Wayut 01 kekurangan murid pada tahun ajaran baru 2025/2026.
Menurut Kepala Desa Wayut, Subroto, faktor geografis dekat dengan wilayah perbatasan Kabupaten Madiun, menjadi pemicu orang tua untuk memilih menyekolahkan anaknya ke Kota Madiun.
"Banyak SD Negeri Kota Madiun menjadi alternatif," ujar Subroto, Senin.
"Di antaranya SD Negeri Ngegong, SD Negeri Madiun Lor, SD Negeri Winongo, dan SD Negeri Sogaten," imbuh dia.
Baca Juga: Dapodik Jadi Tulang Punggung Digitalisasi Pendidikan, Dana BOS hingga Ijazah Kini Terintegrasi
Subroto juga berpendapat, keputusan serupa bisa ditemui di wilayah perbatasan Kabupaten Madiun lainnya, seperti Kecamatan Madiun yang juga dekat dengan Kota Madiun.
"Ingin menyekolahkan anaknya demi masa depan yang terjamin. Serta tidak mau berjudi dengan masa depan putra putrinya," tutur Subroto.
Lebih lanjut Subroto mengatakan jika ada juga orang tua atau wali murid, memutuskan menyekolahkan buah hatinya ke lembaga pendidikan lain yang menonjolkan pendidikan keagamaan.
Baca Juga: KIP Kuliah dan Siswa SMA 2025 Semester Ganjil Kapan Cair, Berikut Cara Cek Status Pencairan
"Alasannya sekolah agama masih jadi favorit orang tua. Bahkan, faktor lainnya adalah program KB, yang menekan angka kelahiran." tuturnya.
Sejatinya, pihak pemerintah desa sudah berkali kali mengimbau orang tua atau wali murid setempat, supaya memanfaatkan sekolah yang ada.
Tujuannya jangan sampai lembaga yang sudah bagus milik pemerintah terbangkalai, gara gara tidak ada peminat.
"Kami juga ikut mantau jumlah calon murid SD, di Desa Wayut ada 1 TK sama 1 PAUD. Lalu jumlah penduduk kami sekitar 6.000 dan berdasarkan DPT Pemilu sekitar 4.000," pungkas Subroto. ***




