POJOKSATU.id — Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Arjawinangun Cirebon bersama Himpunan Alumni Ma’had Dar Al Tauhid (HAMADA) kembali menggelar Pengajian Bulanan Shahih Bukhori edisi ke-5 pada Ahad (12/10/2025).
Kegiatan yang digelar rutin setiap minggu kedua ini menghadirkan Gus Nayil Abdurohman, Lc., sebagai narasumber utama.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai acara dilaksanakan di Musholla pesantren.
Baca Juga: Bentuk Kepedulian Pemerintah Kota Bekasi, Ratusan Paket Makanan Dibagikan Kepada Masyarakat
Pengajian ini diikuti dari berbagai kalangan, mulai dari santri, alumni, hingga masyarakat sekitar.
Bagi jamaah yang tidak sempat hadir langsung, panitia juga menyiarkan kegiatan secara live streaming melalui kanal YouTube dan Facebook Pondok Pesantren Dar Al Tauhid.
Dalam kajian sebelumnya, Gus Nayil membahas makna iman sejati yang menjadi tema utama dalam kitab Shahih Bukhori.
Baca Juga: Terikat Janji Sehidup Semati, Amanda Manopo dan Kenny Austin Resmi Menikah Hari Ini
Beliau menekankan bahwa keimanan seorang Muslim tidak hanya diukur dari ucapan atau ibadah ritual, tetapi dari rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama.
Mengutip sabda Rasulullah SAW, Gus Nayil menyampaikan, “Sebaik-baik amalan dalam Islam adalah memberi makan dan menebar salam kepada siapa pun, baik yang dikenal maupun yang belum dikenal.” (HR. Bukhari)
Menurutnya, amalan sederhana seperti memberi makan dan menyapa dengan salam merupakan wujud nyata iman yang hidup dalam diri seorang Muslim.
Baca Juga: PAMA Buka Lowongan Fresh Graduate Program, Siap-Siap Berkarier di Dunia Tambang Astra
Tindakan ini mencerminkan kasih sayang, kepedulian, dan rasa persaudaraan antarumat manusia.
Gus Nayil juga menambahkan sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis tersebut, ia menjelaskan bahwa cinta kepada sesama bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang memupuk persatuan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
“Iman bukan hanya pengakuan di lisan, tetapi rasa yang tumbuh dari cinta, kepada Allah, Rasulullah, dan sesama karena Allah,” ungkap Gus Nayil.
Baca Juga: Bupati Aep Resmikan Parkland Bridge, Ikon Baru Kabupaten Karawang
Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa puncak keimanan adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai pusat cinta dan tujuan hidup.
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)
Pesan tersebut, kata Gus Nayil, menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah dan Rasulullah adalah fondasi dari seluruh amal kebaikan.
Pengajian yang berlangsung khidmat ini juga membahas hadis tentang tiga hal yang menumbuhkan manisnya iman dalam hati seorang mukmin.
“Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada segalanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pengajian rutin bulanan Shahih Bukhori ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperdalam ilmu agama dan meneladani ajaran Rasulullah SAW.
Selain menambah wawasan keislaman, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarjamaah serta menumbuhkan semangat untuk mengamalkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.***




