POJOKSATU. Id-Lahir dan besar di Bandung, Din Muhammad Kautsar dikenal sebagai entrepreneur muda yang sukses mengelola bisnisnya di bidang konveksi “Cerita Kita”. Di tengah kesibukannya sebagai pelaku usaha.
Ia juga aktif berkontribusi di dunia aktivisme sebagai Ketua Narasi Jawa Barat.
Dalam sebuah kesempatan, Din membagikan pandangannya tentang generasi muda dan tantangan yang dihadapi.
Menurutnya, anak muda yang keren adalah yang memiliki adab dan akhlak baik. “Adab itu di atas ilmu. Yang beradab dan bisa berargumentasi dengan baik, itulah
yang keren,” ujarnya.
Namun, mencapai hal tersebut tidak mudah. Din melihat bahwa tantangan utama generasi saat ini adalah kondisi yang kompleks, tidak pasti, ambigu, dan rapuh fenomena yang sering dikaitkan dengan istilah VUCA (Vulnerability, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).
Dampaknya, kita banyak menemui anak muda yang masuk dalam kategori Generasi NETT (Not in Education, Employment, or Training).
Menjalani aktivitas di kota kelahirannya, Bandung, dengan masyarakat yang heterogen dan individualis, juga menambah tingkat kesulitan. Oleh karena itu, tantangan kita adalah menjadi agile cepat tanggap, mengenali kemampuan diri, serta fokus mengembangkannya.
Jika di tengah jalan menghadapi hambatan, kita dituntut untuk dapat beradaptasi dengan cepat.
Sebagai seorang entrepreneur, ia menyadari bahwa tidak ada jaminan kepastian dalam karier karena kesuksesan sepenuhnya bergantung pada upaya mandiri. Selain itu, ia juga kerap menghadapi tantangan berupa fake branding (pencitraan palsu) dari mitra bisnis, serta pergulatan batin untuk bisa keluar dari zona nyaman.
Perjalanannya menuju titik ini tidaklah mulus. Ada satu fase kelam yang harus dilaluinya: masa "down" selama hampir dua tahun saat berkuliah di jurusan Manajemen Bisnis.
"Saat itu, saya benar-benar merasa terpuruk," akunya. Justru dari titik terendah itulah, sebuah kesadaran penting muncul.
Din menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial. Pengalaman pertemanan di kampus mengajarkannya bahwa dalam hubungan, ada prinsip saling membutuhkan dan menguntungkan. Kesadaran inilah yang memicu tekadnya untuk menjadi pribadi yang berguna.
Ia memilih untuk bangkit dengan caranya sendiri, “There is nothing called motivation, you just only need to discipline, diligent, and strict to your commitment”, ujarnya.
Proses penyembuhan dari keterpurukannya dimulai dari dalam diri dengan rajin membaca buku-buku psikologi, mempelajari bahasa Inggris, menyimak podcast inspiratif, dan aktif mengikuti kajian yang bermanfaat. Perlahan, langkahnya kembali tegak.
Prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Din adalah “Khoirunnas anfauhum linnas” (sebaik-baikmanusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Prinsip ini menjadi pedoman dalam kesehariannya.
Terkait peran laki-laki, Din berpendapat bahwa laki-laki memang harus kuat, namun bukan berarti tidak boleh mengekspresikan kesedihan.
“Menangis atau sedih itu manusiawi. Dalam islam, laki-laki adalah pemimpin yang dituntut untuk kuat dan pantang menyerah,” jelasnya.
Di usianya yang masih muda, Din merasa bersyukur atas beberapa pencapaian yang telah diraih:
1.Bisa bertahan dan melewati berbagai fase hidup hingga usia 24 tahun.
2.Bisa berkontribusi sebagai seorang Aktivis dan Ketua di Komunitas Narasi Jawa Barat.
3.Berhasil mendirikan Pondok Pesantren Tahfidz.
4.Dapat mengembangkan usaha sebagai entrepreneur muda.
Bagi anak muda yang masih mencari jati diri, Din memberikan tiga pesan:
1. Sampai kapan akan terus mencari jati diri? Sadari bahwa waktu terus berjalan, jangan terlalu lama ragu.
2. Lakukan prosesnya selangkah demi selangkah, yang penting terus maju dengan usaha maksimal, bahkan langkah kecil pun akan membawa kamu terus maju.
3. Hargai waktu, karena “time value is time” (nilai waktu adalah waktu itu sendiri).
Ia juga merekomendasikan dua buku yang dianggapnya inspiratif untuk menemani proses pengembangan diri: “Asah Pikiran dan Jadilah Diri Sendiri” karya Margriet Sitskoorn dan “Can’t Hurt Me” karya David Goggins.
Melalui perjalanannya, Din Muhammad Kautsar menunjukkan bahwa dengan prinsip hidup yang uhur untuk bermanfaat dan upaya nyata,
Ia membuktikan bahwa di tengah kompleksitas zaman, adab, ketangguhan, dan kontribusi nyata adalah kunci untuk menjadi pemuda yang tak hanya sukses, tetapi juga bermakna***



