POJOKSATU.ID - Di tengah dinamika perdebatan mengenai status kewarganegaraan dan penggunaan dana negara, muncul sebuah profil inspiratif yang menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Sastia Prama Putri, seorang ilmuwan asal Indonesia yang kini berkarier di Jepang, menjadi simbol kebanggaan nasional melalui prestasinya dalam meneliti tempe.
Sastia dikenal sebagai sosok yang meniti karier di luar negeri melalui kerja keras dan jalur mandiri.
Keberhasilannya menetap di Jepang selama lebih dari dua dekade tidak memudarkan jati dirinya.
Baca Juga: Shell Resmi Hengkang dan Lepas SPBU di Indonesia, Target Rampung pada 2026
Yang menarik, perjalanan akademis dan profesionalnya ditempuh tanpa bergantung pada dana beasiswa pemerintah Indonesia, seperti LPDP, melainkan melalui usaha pribadi dan dukungan beasiswa internasional.
Meskipun telah tinggal di Jepang selama 21 tahun waktu yang lebih dari cukup untuk memenuhi syarat perpindahan kewarganegaraan di banyak negara.
Sastia memilih untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).
Keputusan ini dianggap sebagai bentuk rasa cinta tanah air yang murni, terutama karena ia tetap membawa nama baik Indonesia melalui riset ilmiah mengenai makanan tradisional, yaitu tempe, di kancah global.
Baca Juga: GEGER! Kabar Status PNS dan PPPK Resmi Dihapus? Ini Sebenarnya Aturan Baru 2026
Narasi mengenai Sastia sering kali disandingkan dengan fenomena sosial yang sedang viral saat ini.
Banyak pihak yang membandingkan dedikasinya dengan kasus-kasus penerima beasiswa negara yang justru dianggap kurang menunjukkan rasa nasionalisme setelah menyelesaikan studi.
Kontras ini memicu diskusi luas mengenai tanggung jawab moral para intelektual yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Di satu sisi, ada mereka yang mandiri namun tetap setia pada paspor merah putih.
Ssementara di sisi lain terdapat kekhawatiran mengenai fenomena "brain drain" atau pengabaian status kewarganegaraan oleh mereka yang telah dibiayai oleh pajak rakyat.
Kisah Sastia Prama Putri memberikan pelajaran berharga bahwa kesuksesan internasional tidak harus mengorbankan identitas nasional.
Sikap rendah hati dan nasionalisme yang ia tunjukkan menjadi contoh nyata bagi generasi muda Indonesia untuk tetap berkontribusi bagi bangsa, di mana pun mereka berada.***




