POJOKSATU.ID - Awal dibentuknya Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang digagas oleh Mayor (Laut) Husein Mutahar menghadirkan 5 orang pemuda pemudi Indonesia yang berada di Yogyakarta.
Salah satu dari kelima orang tersebut adalah Siti Dewi Sutan Assin atau Siti Dewi Suryo Sutan Assin yang akrab disapa Titik.
Usai kemerdekaan RI tahun 1945, situasi politik memanas di Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1946, ibu kota Republik Indonesia berada di Yogyakarta.
Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama Presiden Soekarno memerintahkan ajudannya Husein Mutahar untuk menyusun acara.
Baca Juga: Pelatihan Menulis Cerita di SDN Medalsari III, Siswa Antusias Kembangkan Kreatifitas
Ia pun merancang acara pengibaran bendera pusaka oleh tiga orang putra dan dua orang putri yang berstatus pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, yang sedang bersekolah di Yogyakarta.
Pada upacara yang bersejarah di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta itu, Siti Dewi dipercaya sebagai pembawa nampan yang menerima Bendera Pusaka dari Presiden Indonesia.
Penampilannya yang elegan dan cerdas telah membuat Siti Dewi terpilih membawa nampan Bendera Pusaka. Bahkan saking terkesannya, Mutahar kerap mengingatkan nama Siti Dewi bagian dari Paskibraka yang harus diketahui oleh seluruh mantan anggota Paskibraka yang merupakan pelajar-pelajar pilihan dari berbagai daerah di Tanah Air.
Baca Juga: Edukasi Seru! Begini Cara Guru PAUD dan TK di Sumut Kampanyekan Keselamatan Berkendara
Profil
Siti Dewi lahir pada di Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Oktober 1926. Ia merupakan anak dari pasangan Sutan Assin dan Rangkayo Limbak Tjahaja.
Ayahnya, Sutan Assin merupakan suku Minangkabau berasal dari Lintau. Dan Ibunya, Rangkayo Limbak Tjahaja juga bersuku Minangkabau dari Pitopa Kubu Gadang, Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh.
Siti Dewi bersekolah di Yogyakarta, karena sang ayah yang berprofesi dokter berpindah tugas dari Manado.
Baca Juga: Perumda Pasar Berintan Kota Cirebon Selamatkan Keuangan Negara Senilai 6 Miliar
Ia juga aktif sebagai relawan di Palang Merah, kepanduan, dan dapur umum.
Pada tahun 1950, setelah ibu kota Indonesia kembali di Jakarta, perempuan yang menguasai bahasa Belanda, Inggris dan Prancis ini melanjutkan pendidikannya di bidang keguruan dan pendidikan di Belanda, sesuai dengan cita-citanya yang ingin memajukan pendidikan di Tanah Air.
Siti Dewi kemudian bertemu dengan kakak kelasnya di Yogyakarta yaitu Atmono Suryo. Pada 29 September 1959, keduanya pun menikah.
Selanjutnya Siti Dewi pindah ke Amerika Serikat mendampingi suaminya yang bekerja di salah satu perwakilan Indonesia di sana.
Baca Juga: Mengingat Sejarah Paskibraka di Indonesia yang Tengah Jadi Kontroversi Karena Lepas Hijab
Karier suaminya terus menanjak sehingga ditunjuk menjadi duta besar di negara sahabat. Siti Dewi juga ikut berpindah-pindah domisili dan mendampingi suaminya dengan setia.
Sebagai istri seorang diplomat, Siti Dewi dikenal sebagai seorang yang ramah dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat kecil.
Dari pernikahannya dengan Atmono Suryo, keduanya dikaruniai tiga anak yang bernama Denny Suryo, Adwina Armstrong, dan Riza Suryo.
Siti Dewi meninggal dunia pada 20 Desember 2000 di Jakarta. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta Pusat. ***




