POJOKSATU.id – Seberapa besar sebenarnya investasi yang diberikan orang tua kepada anak?
Pertanyaan itu menjadi pembuka materi tentang parental investment dalam Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026 pada hari kedua, Selasa (30/6).
"Kalau keluarga memiliki penghasilan Rp10 juta setiap bulan, untuk apa saja uang itu akan digunakan?"
Baca Juga: Bukan di Monas, Polri Kali Ini Gelar HUT Bhayangkara ke 80 Tahun di Satlat Brimob Cikeas
Pertanyaan sederhana tersebut langsung menghidupkan suasana kelas.
Para peserta diminta berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menyusun prioritas pengeluaran sebuah keluarga yang memiliki anak balita.
Beragam jawaban pun muncul, mulai dari kebutuhan pokok, cicilan rumah, tabungan, hingga biaya pendidikan dan kesehatan anak.
Baca Juga: Bukan di Monas, Polri Kali Ini Gelar HUT Bhayangkara ke 80 Tahun di Satlat Brimob Cikeas
Melalui simulasi tersebut, pemateri Dr. Istiqlaliyah Muflikhati mengajak peserta melihat kembali sejauh mana keluarga benar-benar mengalokasikan sumber dayanya untuk investasi kepada anak.
Ia menekankan bahwa investasi orang tua tidak hanya diukur dari besarnya uang yang dikeluarkan, tetapi mencakup seluruh sumber daya yang dicurahkan demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Selama ini, investasi sering dipahami sebagai kepemilikan aset seperti emas, tanah, rumah kontrakan, atau instrumen keuangan yang memberikan keuntungan.
Padahal dalam kehidupan keluarga, investasi memiliki makna yang jauh lebih luas.
Baca Juga: 8 Cara Merawat Rambut Panjang Pria agar Tetap Sehat, Bebas Kusut, dan Tidak Mudah Rontok
Waktu yang dihabiskan untuk mendampingi anak belajar, kesabaran dalam berkomunikasi, keteladanan dalam bersikap, perhatian terhadap kebutuhan emosional, hingga kasih sayang yang diberikan setiap hari merupakan bentuk investasi yang nilainya tidak kalah besar dibandingkan investasi materi.
Investasi Terbaik Dimulai dari Cara Orang Tua Memandang Anak
Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak menghitung kembali berapa besar pengeluaran keluarga yang benar-benar ditujukan untuk kebutuhan anak.
Banyak peserta yang menyadari bahwa investasi kepada anak bukan hanya berupa biaya sekolah, makanan bergizi, vitamin, atau layanan kesehatan.
Kehadiran orang tua dalam setiap fase pertumbuhan anak, komunikasi yang hangat, serta pendampingan yang konsisten juga menjadi investasi yang memberikan dampak jangka panjang.
Baca Juga: Warga Laporkan Dugaan Kejanggalan PADes Mertapadawetan ke Kejari Cirebon
Menurut Dr. Istiqlaliyah, cara orang tua memandang anak akan sangat memengaruhi besarnya investasi yang diberikan.
Ketika anak dipandang sebagai amanah, anugerah, sekaligus penerus keluarga, orang tua akan lebih terdorong untuk menyediakan waktu, perhatian, dan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.
Untuk memudahkan pemahaman, peserta diajak membayangkan dua telepon genggam dengan harga yang berbeda.
Barang yang dianggap lebih bernilai tentu akan dijaga dengan lebih hati-hati.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi nilai yang diberikan orang tua terhadap keberadaan anak, semakin besar pula perhatian yang akan dicurahkan dalam mendidik, melindungi, dan memenuhi seluruh kebutuhannya.
"Mulut orang tua itu luar biasa. Kata-kata yang diucapkan kepada anak bisa menjadi doa sekaligus membekas dalam ingatan mereka.
Karena itu, salah satu bentuk investasi terbaik adalah menjaga ucapan, memperbanyak kalimat yang membangun, dan menghindari kata-kata yang menyakitkan hati anak," ungkap Dr. Istiqlaliyah.
Tiga Bentuk Parental Investment yang Menentukan Masa Depan Anak
Dalam pemaparannya, Dr. Istiqlaliyah menjelaskan bahwa investasi orang tua mencakup tiga aspek utama yang saling melengkapi.
Pertama adalah investasi sumber daya manusia, yaitu melalui pendidikan, penanaman nilai agama, pembentukan karakter, moral, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua adalah investasi waktu, berupa pendampingan saat anak belajar, bermain bersama, membangun komunikasi yang positif, serta memberikan perhatian secara konsisten sesuai kebutuhan perkembangan anak.
Ketiga adalah investasi materi untuk memenuhi kebutuhan gizi, kesehatan, pendidikan, serta berbagai sarana yang mendukung proses tumbuh kembang anak secara optimal.
Baca Juga: Daftar HP Samsung yang Diprediksi Kebagian Android 17 dan One UI 9.0, Cek Apakah Punya Kamu?
Ketiga bentuk investasi tersebut merupakan investasi jangka panjang.
Hasilnya memang tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat menentukan kualitas kehidupan anak pada masa depan.
Anak yang tumbuh dengan perhatian, stimulasi, kasih sayang, dan dukungan orang tua yang memadai cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, kesehatan yang lebih optimal, kecerdasan emosional yang lebih matang, hingga peluang ekonomi yang lebih tinggi ketika dewasa.
Investasi Dimulai Sejak Masa Kehamilan
Dr. Istiqlaliyah juga mengingatkan bahwa investasi kepada anak bahkan dimulai jauh sebelum anak dilahirkan.
Selama masa kehamilan, bentuk investasi dapat diwujudkan melalui pemenuhan gizi ibu, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perhatian terhadap kondisi emosional ibu, komunikasi dengan janin, hingga dukungan psikologis dari seluruh anggota keluarga.
Setelah anak lahir, investasi tersebut berlanjut melalui pemberian ASI, imunisasi, stimulasi bermain dan belajar, pemenuhan kebutuhan gizi, pendidikan, serta penciptaan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.
Ia menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase emas yang sangat menentukan kualitas pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, serta kesehatan anak hingga dewasa.
Melalui materi parental investment ini, para fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas diharapkan mampu mengajak masyarakat memahami bahwa membangun generasi unggul tidak semata ditentukan oleh besarnya penghasilan keluarga.
Komitmen orang tua dalam menginvestasikan waktu, perhatian, pengetahuan, keteladanan, dan kasih sayang setiap hari justru menjadi modal terbesar dalam melahirkan anak-anak yang sehat, cerdas, berkarakter, serta siap memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
"Marilah berinvestasi untuk anak, agar kelak menjadi manusia berkualitas dan berguna bagi keluarga, masyarakat, negara, dan agama," tutup Dr. Istiqlaliyah Muflikhati. ***




