POJOKSATU.id — Matematika sering kali menjadi momok bagi sebagian siswa.

Banyak yang merasa gugup bahkan sebelum membuka buku pelajaran.

Fenomena ini dikenal dengan istilah math anxiety atau kecemasan terhadap matematika.

Bukan sekadar rasa malas belajar, math anxiety adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa takut, tertekan, atau cemas ketika berhadapan dengan angka dan hitungan.

Baca Juga: Kapan TPG Cair Tiap Bulan? Ini Penjelasan Lengkap Mendikdasmen soal Sinkronisasi BPJS!

Penelitian dari University of Cambridge (2019) menunjukkan bahwa lebih dari 30% siswa di berbagai negara mengalami tingkat kecemasan matematika sedang hingga tinggi.

Kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan berpikir logis dan fokus siswa.

Akibatnya, potensi mereka dalam memahami konsep numerasi menjadi terhambat.

Padahal, kemampuan numerasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengatur keuangan pribadi, menganalisis data, hingga membuat keputusan yang rasional.

Baca Juga: Guru Hebat, Sekolah Aman, 7 Langkah Ini Efektif Hentikan Bullying di Kelas, Simak Peran Penting Pendidik ala UNICEF

Mengatasi math anxiety bukan hanya soal nilai di rapor, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri dan kesiapan menghadapi dunia nyata.

Tantangan Numerasi di Era Modern

Kemampuan numerasi menjadi salah satu indikator penting dalam sistem pendidikan abad ke-21.

Di Indonesia, kemampuan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD (Organisation for Economic Co-operation Development).

Salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat dan kepercayaan diri siswa dalam belajar matematika.

Tekanan akademik, metode pembelajaran yang terlalu berfokus pada hasil, serta stigma bahwa matematika itu “sulit” turut memperparah kecemasan ini.

Baca Juga: Awas Jadi Korban! Ini Cara Tahu NIK Kamu Dipakai Pinjol atau Judi Online

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih empatik dan kontekstual untuk menumbuhkan rasa nyaman saat belajar angka.

Cara Mengatasi Math Anxiety dan Meningkatkan Kemampuan Numerasi

1. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Positif

Guru dan orang tua memiliki peran besar dalam membentuk persepsi anak terhadap matematika.

Hindari memberi label seperti “kamu memang tidak berbakat berhitung”, karena dapat memperkuat rasa takut.

Sebaliknya, berikan dorongan positif dan apresiasi sekecil apapun kemajuan yang dibuat siswa.

Baca Juga: Mengenal Bung Tomo: Tokoh Pahlawan yang Membakar Jiwa Bangsa, Mengukir Sejarah di Hari Pahlawan

2. Gunakan Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Matematika

Pembelajaran numerasi akan terasa lebih ringan jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya menghitung uang saku, waktu perjalanan, atau resep masakan.

Cara ini membuat siswa memahami bahwa matematika itu berguna dan dekat dengan kehidupan mereka.

3. Latihan Bernapas dan Mengelola Stres

Math anxiety atau kecemasan pada matematika adalah reaksi emosional.

Sebelum belajar atau ujian, siswa dapat melakukan latihan pernapasan sederhana untuk menenangkan pikiran.

Cara ini terbukti membantu menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan fokus.

Baca Juga: MKD Nyatakan Tak Bersalah, Publik Masih Debat, Sudahkah Uya Kuya Rehabilitasi Nama Baiknya?

4. Bangun Mindset Bertumbuh (Growth Mindset)

Konsep yang dikenalkan oleh psikolog Carol Dweck ini menekankan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha.

Siswa yang memiliki growth mindset tidak takut gagal dan justru melihat kesalahan sebagai peluang belajar.

5. Libatkan Teknologi Secara Bijak

Platform belajar digital seperti Kelas Pintar, RuangGuru, atau Zenius dapat membantu siswa memahami konsep numerasi dengan visualisasi yang menarik dan interaktif.

Namun, penggunaannya tetap perlu diarahkan agar tidak sekadar pasif menonton.

Baca Juga: Mentri Keuangan Purbaya Sadewa Curigai Ada Bank Langgar Aturan Penyaluran Kredit Rakyat

Mengatasi kecemasan matematika adalah langkah awal menuju peningkatan kemampuan numerasi.

Program seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN) dari Kemendikbudristek menjadi bukti nyata bahwa literasi dan numerasi tidak bisa dipisahkan dari pembangunan karakter bangsa.

Dengan dukungan guru, orang tua, dan lingkungan belajar yang positif, siswa Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas berhitung, tetapi juga percaya diri menghadapi tantangan dunia modern. ***