POJOKSATU.id - Fenomena janggal kembali terjadi dalam pencairan TPG Triwulan 4.

Banyak guru melaporkan bahwa mereka yang SKTP-nya terbit 11 November justru lebih dulu menerima pencairan, sementara guru lain dengan SKTP 27 Oktober belum mendapatkan transfer apa pun.

Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan guru, karena secara logika SKTP lama seharusnya diproses lebih dulu.

Baca Juga: Vokal Bicara tentang Bencana Banjir Sumatra hingga 'Diserang' Buzzer, Chiki Fawzi Heran Dicap Belum Move On sebagai Pendukung Anies

Namun hasilnya berbeda dan membuat guru bingung apakah sistem sedang bermasalah atau ada mekanisme tertentu yang belum dipahami.

Untuk menjawab kebingungan tersebut, berikut penjelasan lengkap mengenai pola pencairan yang sering disalahpahami.

Sistem Pembayaran Tidak Berdasarkan Tanggal SKTP, Melainkan Batch Penarikan Data

Banyak guru mengira SKTP yang keluar lebih dulu otomatis dibayarkan lebih cepat.

Baca Juga: Innalillahi Epy Kusnandar Tutup Usia, Kepergian Mendadak Bikin Publik Terkejut, Selamat Jalan 'Kang Mus'

Namun sistem pembayaran TPG tidak menggunakan urutan tanggal terbit SKTP sebagai dasar pencairan.

Pusat memproses pembayaran berdasarkan batch penarikan data, bukan kronologi tanggal SKTP.

Artinya, SKTP 27 Oktober bisa saja belum masuk batch pertama, sementara SKTP 11 November sudah ikut batch berikutnya yang terproses lebih cepat.

Baca Juga: Publik Syok! Dunia Hiburan Berduka! Epy Kusnandar Meninggal Mendadak, Dimakamkan Besok di Jeruk Purut

Proses batch berjalan otomatis dan tidak mempertimbangkan urutan manual.

Inilah alasan pencairan terlihat “terbalik”.

Validasi Ulang dari Daerah Bisa Menahan Guru SKTP Awal Masuk Batch Berikutnya

Selain batch, validasi ulang daerah juga sangat berpengaruh.

SKTP yang terbit lebih awal bisa saja memerlukan koreksi kecil, seperti perubahan jam mengajar, beban kerja, atau catatan operator.

Baca Juga: Mengapa Guru di Daerah TPP Tidak Dapat Tambahan TPG? Begini Penjelasan Kebijakan Nasional!

Jika terjadi revisi data setelah SKTP keluar, sistem mencatat data tersebut sebagai “updated” dan tidak dapat masuk batch pertama.

Sebaliknya, guru yang SKTP-nya terbit 11 November namun datanya bersih sejak awal bisa langsung masuk batch tanpa revisi.

Hal inilah yang membuat SKTP lama justru tertinggal.

Baca Juga: Drama Pungli Rp3 Juta Ramai di Medsos, TNI Tegaskan Tak Benar dan Pelapor Sudah Minta Maaf, Netizen pun Terheran heran

Perbedaan kondisi data menjadi faktor penting dalam urutan pencairan.

KPPN Memproses Wilayah Berdasarkan Antrian, Bukan Tanggal SKTP

KPPN sebagai pihak yang mencairkan dana TKD memiliki antrian wilayah tersendiri.

Baca Juga: Antisipasi Curah Hujan Tinggi di Jakarta, Gubernur DKI Bakal Lakukan Modifikasi Cuaca di Mingggu Kedua Bulan Desember-Januari

Mereka tidak melihat tanggal SKTP guru, melainkan kelengkapan dan kecepatan pengajuan wilayah.

Wilayah yang mengirim data lengkap dan cepat diproses terlebih dahulu, meskipun SKTP gurunya lebih muda.

Sementara wilayah yang lambat mengirim data harus menunggu giliran meski SKTP-nya terbit lebih awal.

Perbedaan kecepatan antarwilayah ini menciptakan ilusi bahwa sistem tidak berurutan.

Padahal semuanya mengikuti antrian normal KPPN.

Data Dapodik dan Sinkronisasi Operator Berpengaruh pada Masuknya Batch

Data Dapodik yang tidak sinkron sering menyebabkan SKTP lama tidak masuk batch awal.

Jika operator memperbaiki data setelah SKTP terbit, sistem akan menganggap data tersebut mengalami perubahan.

Baca Juga: Prabowo Instruksikan Bencana Sumatera Dilakukan Maksimal Lintas Kementerian, BMKG Perpanjang Modifikasi Cuaca

Perubahan data setelah SKTP keluar memaksa guru menunggu batch berikutnya.

Sebaliknya, guru yang SKTP-nya baru namun datanya tidak pernah berubah dapat lolos batch awal.

Ini menjelaskan mengapa yang lebih baru sering terlihat “menyalip” pencairan.

Baca Juga: Prabowo Instruksikan Bencana Sumatera Dilakukan Maksimal Lintas Kementerian, BMKG Perpanjang Modifikasi Cuaca

Semuanya kembali pada kualitas sinkronisasi dan frekuensi perbaikan data.

Jumlah Guru dalam Satu Wilayah Menentukan Kecepatan Pencairan

Daerah dengan jumlah guru besar biasanya memiliki waktu proses lebih panjang.

Baca Juga: Daerah Anda Tidak Masuk Penerima Tambahan TPG? Ini Faktor Utamanya

Penarikan data membutuhkan waktu lebih lama karena harus menyelesaikan seluruh data satu wilayah.

Guru-guru dengan SKTP awal bisa ikut tertahan karena menunggu penyelesaian data massal ini.

Sementara daerah kecil yang jumlah gurunya sedikit dapat menyelesaikan validasi lebih cepat.

Hasilnya, pencairan terlihat mendahului daerah besar meski SKTP lebih akhir.

Fenomena ini berulang setiap tahun dan dianggap wajar dalam proses TPG nasional.

Tidak Ada Keanehan, Hanya Mekanisme Teknis yang Tidak Simetris

Meski terlihat janggal, pencairan SKTP baru mendahului SKTP lama bukan karena sistem bermasalah.

Proses TPG berjalan melalui batch otomatis, antrian wilayah, dan validasi data yang terus berubah.

Guru dengan SKTP akhir bisa saja cair duluan karena datanya paling bersih dan batch pencairannya diproses lebih cepat.

Yang penting, semua guru dengan SKTP valid dipastikan tetap menerima hak TPG TW 4.

Baik melalui pencairan Desember maupun carry over Januari–Februari, tidak ada hak guru yang hilang.

Guru cukup memantau Info GTK dan menunggu proses sistem selesai bekerja.***