POJOKSATU.id - Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak boleh membuat proses pembelajaran berhenti.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan, murid kelas XII SMK tetap perlu mendapatkan layanan pembelajaran meskipun sedang menjalani pengalaman kerja di dunia usaha dan dunia industri.

Menurut Mu'ti, pembelajaran perlu dibuat lebih fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan kondisi murid selama berada di lokasi PKL.

Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah pembelajaran asinkron. 

Baca Juga: Talenta Muda Bina Patra Army, Nazeef Khan Masuk Jajaran Top Skor FLAK 26

Melalui model ini, murid bisa mengakses materi dan mengerjakan tugas secara mandiri tanpa harus mengikuti pembelajaran pada waktu yang sama dengan guru.

"Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran," ujar Mu'ti dalam siaran pers, Senin, 14 September 2026.

PKL memang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada murid menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah dalam situasi kerja nyata.

Pengalaman tersebut bukan hanya soal kemampuan teknis. Murid juga belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, komunikasi profesional, budaya kerja, keselamatan kerja, hingga tuntutan kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri.

Namun, Mu'ti mengingatkan pengalaman kerja tersebut tetap harus diimbangi dengan penguatan kemampuan dasar.

Baca Juga: Daftar Delapan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pengurusan HGB di Kantor Menteri Nusron Wahid

Literasi dan numerasi, menurut dia, menjadi dua kemampuan fundamental yang perlu terus dikembangkan selama murid menjalani PKL.

"Literasi dan numerasi merupakan kemampuan fundamental. Keduanya diperlukan bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja," tutur Mu'ti.

Dalam kegiatan PKL, kemampuan literasi dapat digunakan ketika murid membaca prosedur kerja, memahami petunjuk penggunaan peralatan, menafsirkan informasi teknis, menyusun laporan, mengisi formulir, hingga berkomunikasi dengan pembimbing dan rekan kerja.

Sementara itu, numerasi dibutuhkan dalam berbagai aktivitas pekerjaan. 

Misalnya menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel dan grafik, menghitung waktu pengerjaan, memperkirakan biaya, menghitung persentase, hingga membandingkan hasil pekerjaan.

Baca Juga: Perwakilan KM Virgo Transport 8 Lebih Banyak Diam, Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah Korban

Karena itu, penguatan literasi dan numerasi tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan nilai mata pelajaran.

Kemampuan tersebut juga menjadi fondasi bagi murid untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan bekerja secara efektif.

Nilai TKA SMK Jadi Perhatian

Mu'ti kemudian mengungkit hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK Tahun 2025 yang menunjukkan masih perlunya penguatan kompetensi akademik murid.

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, rata-rata capaian murid SMK pada Matematika tercatat 34,84.

Sementara itu, rata-rata capaian Bahasa Inggris berada di angka 22,69 dan Bahasa Indonesia sebesar 53,68.

Baca Juga: 45 Contoh Soal TKP SKD Sekolah Kedinasan 2026 Lengkap dengan Jawaban dan Pembahasan

Data tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembelajaran akademik murid SMK tetap membutuhkan perhatian, meskipun mereka juga harus mendapatkan pengalaman langsung melalui PKL.

Tantangannya sekarang adalah memastikan dukungan pembelajaran tetap tersedia ketika murid berada di tempat PKL.

Kondisi setiap murid pun tidak selalu sama. Ada yang menjalani PKL dengan jadwal kerja berbeda, berada di lokasi yang jauh, memiliki akses internet terbatas, atau menggunakan perangkat dengan kemampuan berbeda.

Pola pendampingan di tempat PKL juga bisa berbeda antara satu murid dengan murid lainnya.

Karena itu, pembelajaran asinkron dinilai dapat menjadi pilihan untuk memberikan fleksibilitas tanpa menghilangkan peran guru.

Baca Juga: Panja KM Virgo Transport 8 akan Dibentuk Komisi V DPR, Kalau Cuaca Kurang Bagus Kenapa Berlayar

Guru dapat menyiapkan video pembelajaran, modul ringkas, lembar kerja, kuis, tugas pemecahan masalah, hingga jurnal refleksi yang dapat dikerjakan murid sesuai waktu yang tersedia.

"Fleksibilitas bukan berarti tanpa arahan. Guru tetap memiliki peran penting dalam menetapkan tujuan pembelajaran, memberikan instruksi, memantau perkembangan, dan memberikan umpan balik kepada murid," ucap Mu'ti.

Pembelajaran Bisa Dikaitkan dengan Pengalaman PKL

Yang menarik, materi akademik tidak harus diberikan secara terpisah dari pengalaman kerja murid.

Mu'ti mendorong agar pembelajaran justru dikaitkan dengan aktivitas yang mereka temui selama PKL. 

Dengan begitu, murid dapat melihat secara langsung manfaat materi yang dipelajari di sekolah.

Baca Juga: 30 Contoh Soal TWK SKD Sekolah Kedinasan 2026 Lengkap dengan Jawaban dan Pembahasan

Murid bidang teknik, misalnya, dapat diberikan tugas membaca petunjuk teknis sekaligus menghitung kebutuhan material.

Murid bidang bisnis dan manajemen dapat menganalisis data penjualan atau menghitung keuntungan dari sebuah aktivitas usaha.

Sementara itu, murid bidang kesehatan dapat berlatih membaca informasi prosedural dan menafsirkan data sederhana.

Pendekatan seperti ini juga dapat membantu murid mempersiapkan diri menghadapi TKA.

"Pendekatan kontekstual tersebut sekaligus dapat mendukung persiapan menghadapi TKA.  Persiapan tidak hanya dilakukan dengan mengerjakan latihan soal secara berulang, tetapi melalui penguatan pemahaman konsep, penalaran, kemampuan membaca informasi, pengolahan data, dan pemecahan masalah," ujar Mu'ti.

Baca Juga: 25 PTN-BH di Indonesia 2026, Universitas Udayana Jadi yang Terbaru, Cek Daftar Lengkapnya

Dengan pola tersebut, PKL tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang membuat murid harus memilih antara pengalaman kerja dan pembelajaran akademik.

Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Pengalaman di dunia kerja menjadi ruang praktik, sementara pembelajaran akademik membantu murid memahami, menganalisis, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka temui.

Pemerintah berharap pembelajaran asinkron dapat membantu menjaga keberlangsungan pendidikan murid kelas XII selama menjalani PKL.

Penguatan literasi dan numerasi pun diharapkan tidak berhenti pada kebutuhan menghadapi asesmen. 

Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi murid untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun menjalani kehidupan bermasyarakat.

"Demikian, PKL dan pembelajaran akademik tidak ditempatkan sebagai dua kegiatan yang saling berlawanan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk lulusan SMK yang memiliki keterampilan kerja sekaligus kemampuan berpikir dan bernalar yang kuat," tegas Mu'ti. ***