POJOKSATU.id - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan seluruh pihak untuk mewaspadai potensi praktik eksploitasi dalam pelaksanaan Program Magang Nasional 2025.
Ia menegaskan, program magang tidak boleh bergeser menjadi ajang pemanfaatan tenaga kerja tanpa perlindungan yang layak.
“Kita tidak ingin magang dijadikan sarana eksploitasi,” ujar Yassierli.
Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat pengawasan melalui sistem monitoring and evaluation (monev) serta membuka kanal pengaduan resmi bagi peserta magang yang mengalami pelanggaran di tempat kerja.
Program Magang Nasional 2025 berlangsung selama enam bulan. Selama periode tersebut, peserta magang tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh perusahaan mitra.
Hak Peserta Program Magang Nasional 2025
- Uang saku setara upah minimum kabupaten/kota
Peserta magang berhak menerima uang saku dengan nominal setara upah minimum kabupaten/kota (UMK/UMP setempat).
Uang saku ini menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi peserta selama menjalani magang, sekaligus penjamin pemenuhan kebutuhan dasar.
- Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Peserta magang mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan yang mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
Perlindungan ini penting untuk memastikan keselamatan peserta selama menjalankan aktivitas magang.
- Pengalaman kerja dan pembelajaran terstruktur
Magang dirancang sebagai sarana pembelajaran. Peserta berhak mendapatkan tugas yang relevan dengan pengembangan keterampilan dan pemahaman dunia kerja, bukan sekadar pekerjaan rutin tanpa nilai edukatif.
- Pendampingan dari mentor atau pembimbing
Setiap peserta magang berhak mendapatkan bimbingan dari mentor di perusahaan.
Peran mentor penting untuk memberi arahan, evaluasi, serta membantu peserta memahami standar kerja profesional.
- Sertifikat setelah menyelesaikan program
Peserta yang menyelesaikan program magang selama enam bulan berhak memperoleh sertifikat resmi. Sertifikat ini dapat menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan atau melanjutkan pendidikan.
Baca Juga: Rocky Gerung Anggap Presiden Prabowo Antikritik Mengatasi Persoalan Bencana Sumatera
Meski hak telah diatur, realitas di lapangan menunjukkan bahwa peserta magang kerap menghadapi berbagai tantangan.
Pemahaman atas masalah yang sering muncul dan cara mengatasinya menjadi bekal penting agar pengalaman magang tetap bermakna.
Masalah Saat Magang dan Cara Mengatasinya
- Perbedaan teori dan praktik
Materi yang dipelajari di kampus sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja. Hal ini wajar karena industri memiliki dinamika sendiri.
Baca Juga: SIMAK! PPPK Berhak Menerima THR Proporsional Jika Memenuhi 2 Syarat ini!
- Cara mengatasinya adalah dengan aktif bertanya kepada mentor, mengamati cara kerja di lapangan, serta mencoba mengaitkan teori dengan tugas yang diberikan.
- Kurang dianggap di tempat kerja
Sebagai peserta magang, tidak jarang seseorang merasa dipandang sebelah mata.
Dampaknya, ide atau kontribusi kurang diperhatikan. Solusinya adalah tetap profesional, disiplin, dan konsisten menunjukkan kualitas kerja agar kepercayaan perlahan terbentuk.
- Kurang bimbingan dari mentor
Minimnya pendampingan bisa terjadi karena mentor terlalu sibuk atau keterbatasan sumber daya perusahaan.
Peserta magang dapat mengambil inisiatif belajar mandiri melalui buku, sumber daring, atau berdiskusi dengan rekan kerja yang lebih berpengalaman. Dukungan dari dosen pembimbing juga bisa dimanfaatkan.
- Tugas yang terlalu berat dan eksploitatif
Beberapa peserta magang menghadapi beban kerja yang berat, capaian target tinggi dan jadwal padat. Kondisi ini berpotensi memicu stres dan kelelahan.
Mengatur waktu dengan baik, menjaga kesehatan, serta berkomunikasi secara terbuka dengan atasan menjadi langkah penting untuk mencegah kelelahan berlebih.
- Tidak menjamin jenjang karier
Magang sering diharapkan menjadi pintu masuk dunia kerja, namun kenyataannya tidak selalu berujung pada penawaran kerja.
Agar tetap bermanfaat, peserta magang perlu menjadikan program ini sebagai sarana membangun relasi dan memperjelas tujuan karier jangka panjang.
- Minimnya kesempatan belajar
Tidak sedikit peserta magang yang hanya diberi tugas administratif seperti fotokopi atau input data.
Jika hal ini terjadi, peserta dapat menunjukkan inisiatif dengan meminta dilibatkan dalam tugas yang lebih relevan kepada pembimbing di lapangan.
- Manajemen waktu yang buruk
Magang yang berjalan bersamaan dengan kuliah dan urusan pribadi kerap membuat kewalahan. Tanpa manajemen waktu yang baik, performa bisa menurun.
Baca Juga: PPPK Wajib Tahu! Ini Aturan THR Proporsional Sesuai Masa Kerja
Membuat jadwal harian atau mingguan serta menentukan prioritas menjadi solusi agar semua tanggung jawab tetap terkendali.
- Kurang percaya diri
Rasa minder saat magang adalah hal yang wajar, terutama bagi yang baru pertama kali terjun ke dunia kerja. Magang memang ruang belajar, bukan tuntutan untuk langsung menjadi ahli. Jangan ragu bertanya dan mencoba hal baru agar kepercayaan diri tumbuh perlahan.
- Kesulitan adaptasi pekerjaan
Peserta magang pemula sering kebingungan menghadapi ritme dan budaya kerja.
Dalam kondisi ini, meminta bimbingan langsung kepada mentor atau karyawan lain menjadi langkah tepat agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
Baca Juga: Malam Puncak Duta Kampus ITB 2025, Enam Mahasiswa Terpilih Jadi Representasi Resmi Kampus
- Ketidaksesuaian ekspektasi dan tugas yang tidak jelas
Ada laporan mengenai ketidakjelasan tugas karena mentor tidak sempat memberikan arahan mendalam.
Para ahli menyarankan agar pemerintah memperketat pengawasan kurikulum magang di setiap perusahaan mitra, termasuk memastikan keberadaan mentor yang benar-benar aktif mendampingi peserta.
Dengan pengawasan pemerintah yang ketat dan kesadaran peserta terhadap hak serta tantangan yang mungkin dihadapi, Program Magang Nasional diharapkan benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan adil.
Baca Juga: Nilai TKA SMA 2025 Rendah, Kemendikdasmen Soroti Soal Bernalar dan Ajak Sekolah Bedah Cara Belajar
Magang bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal yang menentukan arah masa depan dunia kerja generasi muda. ***




