POJOKSATU.id - Tahapan seleksi program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih semakin menyita perhatian peserta.
Setelah melalui serangkaian tes administrasi dan kompetensi, peserta kini dihadapkan pada sesi yang disebut-sebut menjadi salah satu penentu utama kelulusan, yakni wawancara mental ideologi berstandar Kementerian Pertahanan.
Tahapan ini mulai ramai diperbincangkan karena dinilai berbeda dari model wawancara pada umumnya.
Jika selama ini sebagian peserta menganggap tes ideologi identik dengan hafalan sila Pancasila atau pertanyaan normatif mengenai nasionalisme, pola seleksi terbaru disebut bergerak jauh lebih kompleks.
Baca Juga: Gaji Guru Dinilai Masih Kecil, Prabowo Soroti Aliran Kekayaan RI Rp5.500 Triliun ke Luar Negeri
Peserta tidak lagi sekadar diminta menjelaskan definisi atau mengulang konsep teoritis.
Penguji justru lebih banyak menghadirkan situasi nyata yang menuntut kemampuan berpikir cepat, ketegasan sikap, hingga cara seseorang mengambil keputusan saat menghadapi persoalan di lapangan.
Perubahan pola pertanyaan tersebut mengejutkan sebagian peserta.
Baca Juga: Gubernur Al Haris Tegaskan Tidak Ada Ruang untuk Narkoba di Jambi
Banyak yang mengaku menduga sesi wawancara hanya akan berisi pertanyaan umum mengenai wawasan kebangsaan.
Namun saat pelaksanaan, sejumlah peserta justru dihadapkan pada simulasi situasi yang menuntut jawaban spontan dan berbasis pengalaman.
Model evaluasi ini disebut berfokus pada aspek mental ideologi yang selama ini digunakan pada lingkungan strategis tertentu.
Tujuan utamanya bukan mencari jawaban paling ideal secara teori, melainkan menilai bagaimana nilai kebangsaan benar-benar diterapkan dalam tindakan sehari-hari.
Baca Juga: Transformasi Ekonomi Sungai Penuh dan Kerinci Hadapi Tekanan Fiskal Nasional
Dalam proses wawancara, peserta dapat saja diminta menjelaskan cara menghadapi konflik antarrekan kerja dengan latar belakang berbeda.
Penguji disebut lebih tertarik mengetahui langkah konkret yang akan diambil dibanding jawaban umum seperti menjaga toleransi atau menghormati perbedaan.
Beberapa simulasi bahkan mengangkat situasi yang cukup sensitif.
Misalnya bagaimana sikap peserta ketika menemukan ujaran kebencian di lingkungan kerja, menghadapi ketegangan akibat perbedaan pilihan politik, atau menyelesaikan persoalan diskriminasi terhadap rekan tertentu.
Baca Juga: Oknum DPRD Madina dan Kepala OPD Diduga Terlibat Narkoba, IPM Desak BNN Tes Rambut
Dari situ, penguji ingin membaca pola berpikir kandidat, termasuk cara meredam konflik, kemampuan menjaga profesionalisme, dan konsistensi dalam memegang prinsip.
Aspek lain yang juga menjadi perhatian ialah kemampuan bermusyawarah dan menerima keputusan bersama.
Dalam sejumlah skenario, peserta dapat diminta menjelaskan sikap ketika hasil rapat tidak sejalan dengan pendapat pribadinya.
Penguji biasanya menilai apakah kandidat mampu tetap profesional dan menghormati proses pengambilan keputusan meski berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Baca Juga: Drama Seleksi Koperasi Desa Merah Putih, Jadwal H-1 Bikin Peserta Pilih Mundur
Bagian yang dinilai paling menantang oleh sejumlah peserta justru muncul ketika wawancara memasuki isu integritas serta keadilan sosial.
Pada tahap tersebut, peserta dapat memperoleh studi kasus mengenai pembagian bantuan, penentuan prioritas penerima program, hingga situasi yang berkaitan dengan konflik kepentingan.
Salah satu skenario yang disebut sering muncul adalah ketika kuota bantuan terbatas sementara terdapat tekanan dari kerabat atau pihak tertentu agar mendahulukan orang dekat.
Dalam kondisi seperti itu, peserta dituntut menunjukkan dasar pengambilan keputusan yang objektif, transparan, dan tidak dipengaruhi hubungan personal.
Baca Juga: TPG Non ASN Mei 2026 Belum Cair? Ini Penyebab SKTP Tak Kunjung Terbit dan Jadwal Resminya
Peserta yang terlalu berhati-hati atau hanya memberikan jawaban diplomatis tanpa sikap yang jelas disebut berpotensi kehilangan poin.
Sebab penguji tidak sekadar menilai isi jawaban, melainkan juga ketegasan prinsip dan konsistensi argumentasi.
Seiring meningkatnya kompleksitas pola seleksi, simulasi wawancara dan latihan berbasis studi kasus mulai banyak diminati peserta.
Persiapan semacam itu dinilai membantu karena tantangan terbesar bukan terletak pada pemahaman teori, melainkan kemampuan merespons situasi secara spontan.
Selain isi jawaban, aspek lain seperti ekspresi, bahasa tubuh, kestabilan emosi, hingga cara menyampaikan pendapat juga disebut menjadi bagian penting dalam penilaian.
***



