POJOKSATU.id - Bagi pelajar SMA/SMK yang sedang bingung memilih melanjutkan pendidikan, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) bisa menjadi pilihan. 

STMKG merupakan Perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah naungan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia.

Sekolah kedinasan STMKG menawarkan jaminan langsung bekerja setelah lulus.

Baca Juga: Sudah Desil 3, Isi Formulir Berkali-kali, Tapi Tetap Tak Terdaftar Bansos, Ternyata Ini Biang Masalahnya!

Adapun jenjang pendidikannya adalah D4 dan akan menyandang gelar Sarjana Terapan. 

Pada tahun 2025, STMKG mendapati jumlah pendaftar terbesar sepanjang sejarah.

"Tahun ini hampir 19.000 yang daftar. Biasanya 8.000, 10.000 (orang)," ujar Ketua STMKG, Deni Septiadi. 

Baca Juga: Menilik Penyebab Hilangnya Kampung Garuga dan Munculnya Sungai Baru di Tapanuli

Di samping itu, pada tahun 2026, STMKG menetapkan kuota sebanyak 350 orang. Biasanya hanya 80 hingga 100 orang.

Kuota total itu dibagi lagi untuk empat prodi yang ada di STMKG. 

"Kami mendidik anak-anak daerah dari ujung barat sampai dengan timur Indonesia, supaya mereka kembali menjadi tenaga andal untuk menjaga keamanan ketahanan nasional dari sisi kebencanaan, apapun yang terkait dengan itu," tutur Deni.

Baca Juga: Kontrak Habis! 359 PPPK Blora Kini Menunggu Vonis dari OPD! Diperpanjang Tidak?

Tentunya, bagi taruna yang lulus dari STMKG akan langsung bekerja di BMKG.

Deni menduga lonjakan jumlah pendaftar tahun ini karena STMKG menawarkan jaminan langsung mendapatkan pekerjaan yakni menjadi staf BMKG dengan status Aparatur Sipil Negara alias ASN. 

"Ya, dia (lulusan STMKG) pasti masuk ke BMKG," ujar Deni.

STMKG tergolong sebagai sekolah vokasi yang tugasnya mendidik dan mengangkat langsung lulusannya menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 

Baca Juga: Gus Ipul Bicara Izin Donasi, Rakyat Kepanasan Pemerintah Sibuk Aturan!

Jumlah kuota penerimaan taruna-taruni di STMKG ditentukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). 

"Misalnya, 350 (orang) itu udah kuota dari Menpan. Jadi 350 itu akan menjadi kuota ASN-nya BMKG," jelas Deni. 

Maka itu pula tahap awal penerimaan masuk STMKG dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) menggunakan sistem Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Computer Assisted Test (CAT).

Baca Juga: Gaji PPPK Akan Dirombak! Komisi II DPR Minta Pemerintah Pusat Ikut Tanggung Biaya

"Enggak harusnya, (langsung) penempatan," ucap Deni. Lulusan STMKG harus siap ditempatkan di daerah manapun di Indonesia sebagai konsekuensi ikatan dinas.

Pilih prodi di STMKG sesuai keinginan Oleh karena itu, sejak awal seleksi masuk STMKG mereka sudah harus memilih prodi sesuai keinginan. 

Deni menambahkan, di STMKG ada program studi Meteorologi yang membahas terkait dengan cuaca, atmosfer, yang analisis jangka pendek itu meteorologi.

Baca Juga: Bupati Lampung Tengah Ditangkap KPK, Harta Rp12,85 M Jadi Sorotan Tajam Publik

Kemudian STMKG juga program studi klimatologi, lebih kepada long term analysis. 

"Jadi lebih kepada climate, kemudian perubahan iklim, pemanasan global, kimia atmosfer itu di program studi klimatologi," ujar Deni yang juga alumnus STMKG.

Baca Juga: Empat Anggota DPRD Fraksi PDIP Bekasi Terjerat Skandal, Aktivis: Ketua DPC PDIP Jangan Acuh!

Selain itu, STMKG juga ada Program Studi Geofisika. Geofisika itu lebih ke seismologi. Jadi membahas yang bumi di bawah. Gempa, tsunami. 

"Nah itu kita bahas di program studi geofisika. Ada lagi program studi instrumentasi, lebih kepada teknologi, peralatan, sensor, baik di meteorologi, climate, dan geofisika," paparnya. ***