POJOKSATU.id – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bareng Kementerian Agama (Kemenag) sudah resmi membuka pendanaan riset bertajuk Ministry of Religious Affairs The Awakened Indonesia Research Funds atau MoRA The AIR Funds.

Program ini jadi angin segar bagi dosen dan peneliti di kampus keagamaan yang ingin menghasilkan karya riset berdampak luas.

Perlu diinformasikan kembali, pengiriman proposal riset masih dibuka hingga 7 November 2025.

Baca Juga: Aturan Baru BPJS Kesehatan di IGD Tuai Keluhan, Pasien Harus Minta Rujukan Faskes Pertama?

Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag, Ruchman Basori, menjelaskan bahwa ada empat bidang prioritas yang jadi fokus utama yaitu sains dan teknologi, sosial humaniora, ekonomi dan lingkungan, serta kebijakan layanan pendidikan.

Nilai pendanaan riset juga bervariasi, mulai dari maksimal Rp 500 juta.Sedangkan khusus untuk bidang sains dan teknologi bisa tembus hingga Rp 2 miliar.

Wah, jumlah yang bisa banget mendorong riset lebih serius dan terarah, ya!

Baca Juga: 15 Pelajar Terseret Arus Banjir dan Longsor Saat Menyebrangi Sungai, Diketahui Para Korban Adalah Atlet Voli Sekolah yang Hendak Istirahat

Fokus Riset 2025–2029
Program ini diarahkan untuk mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menyoroti isu-isu penting seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan SDM, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Ruchman menekankan, riset yang dihasilkan diharapkan bisa mempercepat hilirisasi, memperkuat kolaborasi antara kampus dan dunia industri, serta berkontribusi langsung pada kesejahteraan masyarakat. Semua itu demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag, Sahiron, menambahkan riset ini diharapkan melahirkan solusi berbasis riset.

Baca Juga: Beasiswa Rp18 Juta per Semester Resmi Dibuka, Tanpa IPK dan Tanpa Syarat Prestasi

“Program ini menjadi terobosan penting bagi Kementerian Agama RI dalam kerangka menyelesaikan problem kemasyarakatan, keagamaan, dan kebangsaan berbasis riset.”

Bidang dan Tema Prioritas
Ada empat rumpun besar riset yang dibuka dalam MoRA The AIR Funds 2025, dengan puluhan tema menarik di dalamnya:

1. Sosial Humaniora (19 Tema): Mulai dari demokrasi, budaya keberagamaan, perempuan dan anak, hingga kearifan lokal dan reformasi agraria. Semua diarahkan untuk menjawab dinamika sosial dan nilai-nilai kebangsaan.

Baca Juga: Airbus A400M Mendarat di Tanah Air, Simbol Era Baru Kekuatan Udara Indonesia, Spesifikasi di Atas Hercules, Bisa Angkut Tank dan Helikopter

2. Sains dan Teknologi (11 Tema): Menjangkau topik besar seperti hilirisasi sains, ketahanan pangan, saintifikasi jamu dan herbal, hingga pengembangan big data dan teknologi biosintesis.

3. Ekonomi dan Lingkungan (13 Tema): Fokus pada ekonomi syariah, green economy, UMKM berbasis perempuan, pengelolaan limbah, hingga digital ekonomi.

4. Kebijakan Layanan Pendidikan dan Keagamaan: Bidang ini mencakup evaluasi kebijakan madrasah, pesantren, pendidikan agama di sekolah, layanan KUA, hingga penyelenggaraan haji dan umroh.

Baca Juga: Utang Whoosh vs Garuda, Dua Raksasa Transportasi, Sama-Sama Berat Menanggung Beban

Sebagai gambaran umum agar peneliti dapat menyesuaikan ide riset sesuai bidang keilmuannya, berikut tema yang bisa dijadikan acuan.

1. Sosial Humaniora dengan 19 tema besar.

Bidang ini mencakup riset tentang pendidikan transformatif, kontekstualisasi teks agama, demokrasi dan identitas bangsa, budaya keberagamaan dan harmoni sosial, hingga hukum yang berkeadilan.

Tema lainnya meliputi globalisasi dan perubahan sosial, inovasi sosial, media dan masyarakat digital, kependudukan dan keadilan sosial, perempuan dan anak, serta budaya dalam pencegahan kekerasan dan radikalisme.

Baca Juga: Bendungan Seuseupan di Leuwiliang Dapat Perawatan dari Bupati Bogor Rudy Susmanto, 30 Hektare Sawah Kembali Terairi

Selain itu, terdapat kajian mengenai CSR, mobilitas perempuan dan kelompok rentan, reformasi agraria, kearifan lokal, kekayaan intelektual lokal, pariwisata berkelanjutan, serta penguatan karakter bangsa.

2. Sains dan Teknologi, memiliki 11 tema yang mendorong pengembangan sains terapan dan inovasi strategis.

Fokusnya mencakup hilirisasi sains di bidang teknologi, kedokteran dan kesehatan, pertanian serta ketahanan pangan, kemaritiman, transportasi, dan keanekaragaman hayati.

Tema lainnya termasuk kebencanaan, pertahanan dan keamanan, keamanan informasi serta big data, saintifikasi jamu dan herbal, pengembangan biosintesis dan biorefinery, hingga pemanfaatan kearifan lokal dalam pemuliaan tanaman, ternak, dan ikan.

Baca Juga: Teknologi Menghapus Batas Dunia Nyata dan Dunia Digital, Revolusi XR di Tahun 2025, Beyond Virtual Reality

3. Rumpun Ekonomi dan Lingkungan mencakup 13 tema utama yang berfokus pada keseimbangan pembangunan dan keberlanjutan.

Tema-tema di dalamnya meliputi ekonomi syariah, pengentasan kemiskinan ekstrem, green economy, green metrics, green campus, serta penanganan perubahan iklim global.

Selain itu, juga dibahas pengelolaan sumber daya laut dan pesisir berbasis kearifan lokal, budaya sadar bencana, pemulihan sosial dan ekonomi pasca bencana, serta manajemen limbah berbahaya.

Baca Juga: Kemenag Ukur Indeks dan Literasi Beragama Ratusan Ribu Guru PAI serta Siswa SD via ANLDB 2025

Tema lain mencakup peran perempuan dalam kewirausahaan, penguatan koperasi dan UMKM berbasis perempuan, serta pengembangan ekonomi digital dan ekonomi kreatif.

Keseluruhan tema dalam MoRA The AIR Funds 2025 ini tidak dimaksudkan sebagai batas penelitian yang kaku, melainkan arah panduan tematik untuk mendorong riset yang relevan, kontekstual, dan berdampak nyata bagi pembangunan bangsa.

Syarat dan Kolaborasi Dosen Peneliti
Program MoRA The AIR Funds terbuka untuk periset perguruan tinggi keagamaan (PTK) dan ma’had aly. Menariknya, proyek riset wajib dilakukan secara kolaboratif antara PTK dan lembaga riset lain, baik dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Peserta PPG 2025 Dapat Bantuan Rp17 Juta! Ini Rincian Biaya dan Subsidi dari Pemerintah

Beberapa syarat penting di antaranya:
- Dosen PTK harus bergelar doktor (S3) dan minimal menjabat Lektor.

- Memiliki Sinta Score Overall minimal 100.

- Wajib berkolaborasi dengan universitas yang masuk 500 besar QS World University Rankings.

- Untuk dosen ma’had aly, minimal lulusan magister (S2) dengan rekam jejak akademik baik dan rekomendasi dari mudir.

Baca Juga: Peserta PPG 2025 Dapat Bantuan Rp17 Juta! Ini Rincian Biaya dan Subsidi dari Pemerintah

Risetnya bersifat multiyears (1–3 tahun) agar hasilnya bisa benar-benar memberi manfaat jangka panjang.

Pendaftaran dan informasi lengkap bisa diakses melalui laman resmi kemenag.go.id dan risprolpdp.kemenkeu.go.id.

Kalau bapak ibu dosen, peneliti, atau akademisi yang ingin memberi kontribusi nyata lewat riset, inilah saatnya!

Baca Juga: Peringatan Bulan Bakti Karang Taruna ke-65, Wali Kota Sukabumi Dorong Ruang Publik Hidup dan Terbuka

MoRA The AIR Funds bukan cuma soal pendanaan, tapi tentang membangkitkan semangat penelitian untuk Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing tinggi. ***