POJOKSATU.id - Jalan rusak, internet yang baru tersedia, hingga kondisi geografis yang terpencil tidak membuat SD Negeri Rendu Ola, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhenti bergerak.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, Ibu Yosefina Moy atau yang akrab disapa Mama Fin justru mengembangkan berbagai cara agar anak-anak tetap mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas.
Sebagai kepala sekolah, Mama Fin tidak hanya mengandalkan fasilitas.
Ia membangun kekuatan sekolah melalui kedisiplinan, kreativitas guru, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Hasilnya pun terlihat. SDN Rendu Ola mampu mempertahankan capaian literasi dan numerasi dalam kategori Baik selama tiga tahun berturut-turut, yakni 2022 hingga 2024.
Keterbatasan Memicu Kreativitas
SDN Rendu Ola berada di sebuah dusun terpencil di Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo.
Secara geografis, dusun tersebut terpisah dari dusun lainnya.
Akses menuju sekolah menghadapi kondisi jalan yang tidak mudah, sementara listrik dan internet baru tersedia sekitar satu tahun terakhir.
Namun, keadaan tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti melakukan pembaruan.
Justru, keterbatasan mendorong guru, orang tua, dan masyarakat sekitar mencari cara agar proses pendidikan tetap berjalan.
Dari sinilah berbagai praktik baik mulai tumbuh.
Disiplin Dimulai dari Keteladanan
Bagi Mama Fin, disiplin bukan sekadar kumpulan aturan yang harus ditaati siswa.
Budaya tersebut harus dimulai dari orang-orang dewasa di lingkungan sekolah.
Kepala sekolah dan guru berusaha datang lebih awal, menyambut siswa dengan senyuman, serta mempersiapkan pembelajaran dengan baik.
Kebiasaan sederhana itu dilakukan secara konsisten hingga perlahan menjadi budaya sekolah.
Siswa kemudian belajar menghargai waktu dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Orang tua pun ikut merasakan perubahan tersebut.
Disiplin akhirnya tidak hanya menjadi aturan di ruang kelas, tetapi berkembang sebagai kebiasaan bersama.
Selasar Bercerita Bertemu Gong Belajar
Mama Fin juga menghadirkan program yang menghubungkan kegiatan belajar di sekolah dengan pendampingan anak di rumah.
Salah satunya melalui Selasar Bercerita. Setiap hari, siswa diberi kesempatan menceritakan kembali materi yang telah dipelajari.
Kegiatan tersebut bukan hanya melatih keberanian berbicara.
Guru juga dapat melihat sejauh mana siswa memahami pelajaran.
Sementara itu, ada Gong Belajar yang dilaksanakan di rumah.
Melalui program ini, orang tua diajak mendampingi anak belajar pada waktu malam yang telah disepakati.
Keduanya membentuk pola belajar yang tidak terputus ketika siswa meninggalkan sekolah. Ada keterhubungan antara guru, murid, dan keluarga.
Warga Ikut Menjadi Bagian dari Sekolah
Perubahan di SDN Rendu Ola juga tidak dibangun sendirian.
Mama Fin merangkul orang tua dan tokoh adat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Mereka diajak memahami bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama.
Kesadaran tersebut kemudian melahirkan rasa memiliki terhadap sekolah.
Warga ikut memberikan waktu, tenaga, hingga material untuk membantu memperbaiki fasilitas sekolah.
Mereka juga turut memperhatikan proses belajar anak-anak.
Gotong royong akhirnya menjadi salah satu kekuatan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Guru Belajar Teknologi Lewat Sabtu Berbagi
Ketika listrik dan internet mulai tersedia, sekolah tidak ingin hanya menjadi pengguna teknologi.
Para guru juga perlu belajar agar fasilitas tersebut benar-benar memberikan manfaat untuk pembelajaran.
Karena itu, lahirlah program Sabtu Berbagi.
Pada akhir pekan, para guru saling berbagi pengetahuan mengenai laptop, internet, dan berbagai aplikasi pembelajaran.
Mereka belajar bersama untuk membuat materi yang lebih menarik dan interaktif.
Program tersebut menjadi bukti bahwa adaptasi terhadap teknologi bisa dimulai dari langkah sederhana, bahkan di sekolah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses digital.
Literasi dan Numerasi Tetap Terjaga
Berbagai upaya yang dilakukan secara konsisten akhirnya memberikan hasil.
SDN Rendu Ola mampu mempertahankan capaian literasi dan numerasi pada kategori Baik selama periode 2022-2024.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kondisi sarana dan geografis bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas proses pendidikan.
Kepemimpinan sekolah, budaya disiplin, keterlibatan keluarga, gotong royong masyarakat, serta kemauan guru untuk terus belajar menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Sekolah ini juga mengembangkan Kelompok Membaur, yakni pengelompokan murid dari berbagai usia dan kelas.
Program tersebut diarahkan untuk menumbuhkan empati, kolaborasi, dan rasa persaudaraan sekaligus mencegah potensi perundungan atau bullying.***




