POJOKSATU.ID- Tahukah kamu bahwa Indonesia sedang mengalami fenomena iklim yang ekstrem? Dari banjir besar hingga kekeringan parah, perubahan iklim nyata terjadi di sekitar kita.


Saat mendengar berita tentang cuaca dan iklim, kamu pasti sering mendengar istilah El Niño dan La Niña.


Fenomena kedua di atas memang sangat erat kaitannya dengan perubahan iklim yang sedang terjadi dan kita alami.


Artikel ini akan mengupas tuntas tentang perubahan iklim di Indonesia, khususnya fenomena El Niño dan La Niña yang mempengaruhi cuaca ekstrem di darat.


Apa Itu Perubahan Iklim?


Perubahan iklim adalah perubahan pola cuaca dan kondisi atmosfer dalam jangka panjang. Menurut PBB, perubahan iklim ditandai dengan perubahan suhu dan pola cuaca yang konsisten dari tahun ke tahun.


Berbeda dengan cuaca yang bersifat harian, iklim merupakan pola cuaca dalam jangka waktu yang lebih panjang.


Di Indonesia, perubahan iklim telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pertanian, ketersediaan udara, hingga frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.


Fenomena El Niño dan La Niña di Indonesia


Istilah El Niño dan La Niña bakalan lebih sering kamu dengar di depannya. Ayo cari tahu artinya!


El Nino: Pembawa Kekering


El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah meningkat di atas rata-rata normal.


Bagi Indonesia, El Niño membawa dampak signifikan berikut.


- Penurunan suhu permukaan laut di perairan Indonesia

- Kurangnya proses pembentukan awan

- Turunnya curah hujan

- Kekeringatan yang berkepanjangan


Tahun 2023 hingga awal 2024, Indonesia diperkirakan mengalami El Niño yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya.


Faktanya, BMKG memperkirakan fenomena ini akan berlangsung hingga Februari-Maret 2024.


La Niña: Pengundang Banjir


Sebaliknya, La Niña adalah fenomena penurunan suhu permukaan laut Samudra Pasifik tropis di bawah rata-rata normal. Dampaknya bagi Indonesia antara lain:

- Meningkatnya curah hujan

- Musim kemarau lebih basah dari biasanya

- Meningkatnya risiko banjir dan tanah longsor


Pada tahun 2022, Indonesia mengalami fenomena La Niña “triple dip” yang menyebabkan musim hujan berkepanjangan selama tiga tahun berturut-turut.


Hal ini mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi di banyak wilayah Indonesia.


Bukti Nyata Perubahan Iklim Global


Perubahan iklim tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga secara global. Para ilmuwan telah mengumpulkan berbagai bukti yang menunjukkan perubahan signifikan pada sistem iklim bumi.


Data yang dikumpulkan oleh Institut Goddard NASA untuk Studi Luar Angkasa (GISS) menunjukkan bahwa bumi telah mengalami peningkatan suhu rata-rata global lebih dari 1°C sejak 1880.


Angka ini terlihat kecil, namun dampaknya sangat signifikan. Badan Meteorologi Dunia (WMO) bahkan memprediksi kenaikan suhu udara hingga mencapai 1,5°C pada tahun 2024.


Pada Perjanjian Paris terkait perubahan iklim tahun 2015, para pemimpin dan ilmuwan seluruh dunia pun telah menyepakati untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah angka tersebut.


Peningkatan suhu tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga di lautan. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melaporkan bahwa suhu samudra secara global mengalami peningkatan sebesar 0,02°C pada Agustus 2019.


Sejak tahun 1901 hingga 2020, laju kenaikan suhu permukaan laut rata-rata mencapai 0,14°C setiap dekade.


Kenaikan suhu air laut ini mempunyai dampak serius terhadap ekosistem laut, terutama terumbu karang yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan mengalami pemutihan massal di berbagai belahan dunia.


Bukti nyata lainnya adalah pencairan es di kutub dan pegunungan tinggi. Berdasarkan pengamatan satelit NASA, es Laut Arktik mengalami laju penyusutan sebesar 12,2% per dekade pada musim panas akibat suhu lingkungan yang lebih hangat.


Di Indonesia sendiri, pemandangan di Pegunungan Jayawijaya, Papua, yang dulunya seluas 200 kilometer persegi, kini hanya tersisa satu persennya saja.


BMKG memperkirakan jika kondisi ini terus berlanjut, perubahan tersebut akan hilang sepenuhnya dalam jangka waktu tiga tahun ke depan.


Akibat langsung dari pencairan es global adalah kenaikan permukaan udara laut. Data dari climate.nasa.gov menunjukkan bahwa permukaan udara laut secara global telah meningkat sebesar 97 mm dengan rata-rata kenaikan 3,3 mm per tahun.


Di Indonesia, khususnya di Semarang, berdasarkan data Satelit Altimetri Jason-1, permukaan air laut mengalami laju peningkatan sebesar 12,83 mm per tahun antara 2009-2011.


Situasi ini diperparah dengan terjadinya laju penurunan permukaan tanah (land subsidence) pada kisaran 8 hingga 13 cm per tahun, sehingga meningkatkan risiko banjir rob di wilayah pesisir.


Dampak Perubahan Iklim di Indonesia


Perubahan iklim telah menimbulkan berbagai dampak di Indonesia, di antaranya:

- Gagal panen akibat banjir pada musim La Niña atau kekeringan pada musim El Niño

- Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kemarau panjang

- Kurangnya ketersediaan air bersih

- Penyebaran penyakit seperti ISPA akibat polusi asap dari kebakaran hutan

- Terancamnya pulau-pulau kecil dan pesisir akibat kenaikan permukaan laut

- Banjir rob di wilayah pesisir


Apa yang Dapat Kita Lakukan?


Sebagai pelajar dan generasi muda, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Berikut beberapa di antaranya.


1. Hemat energi - Matikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan

2. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor - Beralih ke sepeda atau transportasi umum

3. Tanam pohon - Partisipasi dalam kegiatan penghijauan di sekolah atau lingkungan

4. Kurangi sampah - Praktikkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle)

5. Edukasi - Bagikan pengetahuan tentang perubahan iklim kepada teman dan keluarga


Tertarik untuk membuktikan adanya perubahan iklim? Aktivitas sederhana berikut bisa kamu lakukan.


Amati atau observasilah di lingkunganmu dan cari data tentang perubahan suhu dan curah hujan di daerahmu dalam 10 tahun terakhir melalui website BMKG.


Bandingkan data tersebut dengan pengamatanmu sendiri dan diskusikan dengan teman-temanmu. Konfirmasikan pula hasilnya kepada gurumu.


Perubahan iklim adalah tantangan nyata yang dihadapi Indonesia dan dunia. Fenomena El Niño dan La Niña semakin sering terjadi dengan intensitas yang lebih kuat.


Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk memahami dan mengambil tindakan terhadap perubahan iklim.


Mulailah dari langkah kecil di sekitarmu. Melalui tindakan kolektif, kita dapat membuat perbedaan untuk masa depan bumi yang lebih baik!***