POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Eferadina Salsabila Novariantry atau yang akrab disapa Nadin berhasil terpilih sebagai Awardee Student Mobility MBKM Internasional tahun 2026.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya itu akan mengikuti program di Sekolah Indonesia Bangkok, Thailand. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama hampir dua bulan, mulai 1 April hingga 29 Mei 2026.

Baca Juga: Viral! Warga Aceh Tengah Serbu SPBU Bawa Jeriken, Panic Buying BBM Dipicu Isu Cadangan Cuma 20 Hari

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan kebijakan Kementerian Pendidikan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar program studi maupun perguruan tinggi.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi praktis, memperluas pengalaman dunia kerja, serta memberikan fleksibilitas dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi.

Bagi Nadin, kesempatan mengikuti MBKM Internasional merupakan salah satu impian yang ingin ia wujudkan sejak awal perkuliahan.

Baca Juga: Hilangkan Background Foto Secara Mudah dengan Penghilang Background Foto yang Cepat dan Akurat

“Rasanya sangat bersyukur dan senang. MBKM Internasional ini salah satu pencapaianku atau impianku selama aku berkuliah. Ingin belajar bagaimana pendidikan internasional bisa dikolaborasikan dengan pengalaman pendidikan di Indonesia,” ujar mahasiswa asal Mojokerto tersebut.

Jalani Asistensi Mengajar dan Proyek Podcast Pendidikan
Dalam program tersebut, Nadin akan menjalankan kegiatan asistensi mengajar bagi siswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Sekolah Indonesia Bangkok.

Selain membantu proses pembelajaran, ia juga berencana membuat proyek pribadi berupa mini podcast.

Baca Juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Aika, AI Pendamping Kesehatan Mental Mahasiswa yang Raih Penghargaan Internasional

Proyek ini bertujuan untuk menggali perbandingan sistem pendidikan di Indonesia dengan praktik pendidikan di luar negeri.

Melalui podcast tersebut, Nadin ingin mendokumentasikan pengalaman belajar sekaligus membuka ruang diskusi mengenai pendekatan pendidikan yang dapat dikembangkan di Indonesia.

Latar Belakang Pesantren dan Prestasi Akademik
Ketertarikan Nadin pada dunia pendidikan dan komunikasi telah terbentuk sejak masa sekolah. Ia menempuh pendidikan SMP dan SMA di lingkungan pesantren Al-Multazam Mojokerto.

Baca Juga: Remaja 17 Tahun Ditemukan Tewas di Irigasi Jayakerta Karawang

Di lingkungan pesantren tersebut, para santri dibiasakan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Kebiasaan itu kemudian memperkuat kemampuan bahasa asing yang dimiliki Nadin.

Untuk semakin meningkatkan kemampuannya, ia juga mengikuti kelas bahasa di Pare, Kediri, yang dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia.

Baca Juga: Guru Madrasah Segera Lengkapi Data untuk Pencairan TPG, Batas Validasi EMIS GTK Hingga 16 Maret 2026, Ini Poin Pentingnya

Perjalanan akademiknya pun diwarnai sejumlah prestasi. Nadin pernah masuk Top 10 sekaligus meraih penghargaan “Best Speech” pada ajang Puteri Muslimah Award Jawa Timur 2024.

Ia juga berhasil meraih Juara Harapan III dalam lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tidak hanya itu, ia juga telah menerbitkan dua jurnal ilmiah yang terindeks Sinta 4.

Aktif Berorganisasi di Kampus
Selain berprestasi secara akademik, Nadin juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi di lingkungan kampus.

Baca Juga: Gibran Tinjau Pelatihan AI dan Robotik di Ponpes Baitul Arqom, Dorong Santri Melek Teknologi

Ia tercatat sebagai salah satu pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai koordinator divisi kemahasiswaan pada Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Agama Islam.

Nadin juga terlibat dalam tim media fakultas serta berbagai kegiatan akademik mahasiswa.

Baca Juga: Didampingi Wagub Jabar Erwan Setiawan, Wapres Gibran Tinjau Workshop Literasi AI ASEAN di Kabupaten Bandung

Bahkan ia pernah dipercaya menjadi Master of Ceremony (MC) pada acara Grand Final Gus & Ning PAI tahun 2024 yang digelar di Student Central UIN Sunan Ampel Surabaya.

Beragam aktivitas tersebut membuatnya harus mampu mengatur waktu secara disiplin agar tetap dapat menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi.

Proses Seleksi yang Ketat
Untuk bisa lolos dalam program MBKM Internasional, Nadin harus melalui serangkaian proses seleksi yang cukup ketat.

Baca Juga: Putih Sari Serap Aspirasi Warga Karawang soal BPJS dan Fasilitas RS

“Wawancara pertama pakai bahasa Inggris, terus yang kedua itu tesnya disuruh baca sama nulis Al-Qur'an dan tes yang terakhir ini tentang pengetahuan kita tentang keislaman, moderasi beragama dan kompetensi pedagogik seorang guru gitu,” ujarnya.

Menurut Nadin, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya mampu menjalani berbagai proses tersebut dengan percaya diri.

“Karena setiap keputusan yang tak ambil orang tuaku selalu support (mendukung) gitu,” ujarnya.

Baca Juga: Masjid Agung Syuhada Pelaihari menjadi masjid tertua di Tanah Laut dan saksi perjuangan rakyat melawan Belanda.

Bercita-cita Menjadi Guru yang Menginspirasi
Riwayat pendidikan Nadin dimulai dari MI Nurul Huda 2 Mojokerto. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke SMP Al-Multazam Mojokerto dan SMA Al-Multazam Mojokerto yang juga berbasis pesantren.

Lingkungan pendidikan tersebut membentuk karakter disiplin dan kemandirian dalam dirinya sejak dini.

Sejak awal berkuliah, Nadin memang memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Namun bukan sekadar mengajar di kelas, melainkan menjadi pendidik yang mampu memberikan dampak nyata bagi peserta didik.

Baca Juga: Guru Penerima TPG Maret 2026 Diminta Standby Jelang 7 Maret, Pastikan Data Mengajar di Dapodik Benar agar SKTP Tidak Tertunda

Ia ingin menjadi guru yang dapat menginspirasi, membangun karakter, serta membuka wawasan siswa agar siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ke depan, Nadin berharap pengalaman internasional yang ia peroleh melalui program MBKM dapat memperluas wawasan serta memperkaya perspektifnya sebagai calon pendidik.

“Sekarang bukan soal ada waktu atau tidak, ada kesempatan atau tidak, tapi kita mau mengambil tindakan atau tidak. Kalau berani melangkah, kita juga harus siap menghadapi risikonya. Dari situlah pengalaman akan terbentuk,” pungkasnya.***