POJOKSATU.id — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi luar biasa yang memadukan teknologi dan kepedulian sosial.

Mereka mengembangkan stroller ajaib bernama Smart Augmented Technology for Children Disability (SAMATA), alat bantu pintar yang dirancang untuk membantu anak autisme berkomunikasi sekaligus mengasah kemampuan motorik dan kognitifnya.

Inovasi ini dipimpin oleh Ulytz Sukma Susila, mahasiswa Teknik Industri UMM, dengan bimbingan dosen Amelia Khoidir.

Ulytz menjelaskan, teknologi yang digunakan pada SAMATA mencakup mikrokontroler, sensor interaktif, serta sistem Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbasis gambar.

Baca Juga: Mahasiswa USU Ciptakan BIOFLAEIS, Kemasan Makanan Ramah Lingkungan dari Pelepah Sawit dan Daun Pepaya

“Sistem AAC ini adalah teknologi bantu komunikasi bagi anak-anak yang kesulitan berbicara. Dalam SAMATA, kami integrasikan langsung ke stroller melalui panel gambar interaktif,” jelas Ulytz.

SAMATA sendiri merupakan hasil modifikasi dari stroller konvensional yang diubah menjadi alat bantu komunikasi yang cerdas dan interaktif.

Pendekatan modifikasi ini dipilih agar biaya produksi tetap terjangkau dan penggunaannya mudah diterapkan oleh sekolah luar biasa maupun orang tua anak autisme.

Cara kerja SAMATA pun cukup sederhana namun efektif.

Baca Juga: Regulasi Kenaikan Jabatan Akademik Dosen 2025 Berubah, Ini Langkah dan Strategi yang Harus Disiapkan

Anak hanya perlu menekan simbol gambar pada panel, seperti gambar makanan atau minuman.
Sensor sentuh akan mengirim sinyal ke mikrokontroler, lalu secara otomatis speaker mengeluarkan suara seperti “Saya mau makan” atau “Saya haus.”

Pada saat yang sama, notifikasi juga terkirim ke smartphone pengasuh agar mereka bisa memberikan respons cepat terhadap kebutuhan anak.

Menurut Ulytz, ide ini lahir setelah mereka melakukan identifikasi masalah di lapangan, terutama di SLB Autisme River Kids.

Mereka menemukan hambatan komunikasi yang signifikan pada anak, keterbatasan alat bantu efektif, serta tekanan emosional tinggi bagi guru dan pengasuh.

“SAMATA kami hadirkan sebagai jembatan komunikasi bagi anak autisme, membantu proses belajar, serta meringankan beban emosional guru dan orang tua,” ujarnya.

Namun, proses pengembangan SAMATA bukan tanpa tantangan.

Tim harus merancang desain yang user-friendly, intuitif, dan mudah dipahami oleh anak autisme dengan berbagai tingkat kemampuan.

Selain itu, aspek durabilitas dan keamanan juga menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Rektor UI Raih Penghargaan Internasional dari Tohoku University Jepang karena Hal Ini

Mereka memastikan stroller ini tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat, nyaman, dan aman digunakan setiap hari oleh anak-anak.

Ke depan, Tim SAMATA berencana mengembangkan fitur lebih lanjut, seperti:

Penambahan bank suara dan simbol agar anak dapat mengekspresikan lebih banyak hal.
Sistem cerdas yang mampu menyesuaikan dengan pola perilaku anak.
Desain modular agar komponen stroller mudah dipasang dan dilepas.

“Harapan kami, alat ini bisa menjadi media bagi anak-anak disabilitas untuk menyalurkan kebutuhan dasar mereka, mengekspresikan rasa ingin tahu, sekaligus mendukung perkembangan sensorik dan motorik mereka,” tegas Ulytz.

Melalui inovasi SAMATA, mahasiswa UMM membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan empati dan harapan bagi anak-anak istimewa di Indonesia.***