POJOKSATU.id - Terinspirasi dari pengalaman seorang teman yang bergumul dengan persoalan kesehatan mental, Giga Hidjrika Aura Adkhy (23) terdorong mengembangkan solusi teknologi berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu mahasiswa mendapatkan akses pendampingan psikologis yang lebih mudah.

Gagasan tersebut mulai muncul ketika Giga mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024.

Saat itu, ia melihat bagaimana mahasiswa di sana dapat mengakses layanan psikolog kampus dengan mudah, bahkan hanya melalui percakapan via ponsel.

Baca Juga: Remaja 17 Tahun Ditemukan Tewas di Irigasi Jayakerta Karawang

Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan dalam dirinya. Bagaimana jika sistem serupa dapat dihadirkan di Indonesia, khususnya untuk mahasiswa yang membutuhkan layanan kesehatan mental namun terkendala akses dan jumlah tenaga profesional.

Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu kemudian merancang inovasi bernama UGM-AICare atau yang disingkat Aika.

Inovasi tersebut kemudian mendapatkan pengakuan internasional setelah berhasil meraih gelar juara pada kategori “Play Track” dalam ajang EDU Chain Hackathon 2025. Kompetisi teknologi tersebut memiliki total hadiah hingga USD250 ribu.

Baca Juga: Gibran Tinjau Pelatihan AI dan Robotik di Ponpes Baitul Arqom, Dorong Santri Melek Teknologi

Berangkat dari Kesenjangan Akses Layanan Psikolog
Giga menilai kondisi layanan kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Jumlah psikolog dinilai belum sebanding dengan jumlah mahasiswa yang membutuhkan layanan konseling.

Kondisi tersebut membuat akses terhadap layanan kesehatan mental sering kali terbatas, baik dari sisi waktu, ketersediaan tenaga profesional, maupun intensitas pendampingan yang dapat diberikan.

Dari situ lahir ide pengembangan Aika, sebuah sistem AI yang dirancang sebagai “teman digital” bagi mahasiswa.

Baca Juga: Didampingi Wagub Jabar Erwan Setiawan, Wapres Gibran Tinjau Workshop Literasi AI ASEAN di Kabupaten Bandung

Melalui pendekatan komunikasi yang natural, Aika memungkinkan pengguna merasa seperti sedang berbincang dengan sahabat yang siap mendengarkan keluhan mereka.

“Motivasi proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan saya adalah untuk mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Menggunakan Percakapan AI untuk Analisis Awal
Dalam pengembangannya, Aika memanfaatkan layanan percakapan berbasis teks untuk menggali dan menganalisis kondisi psikologis pengguna.

Melalui interaksi tersebut, sistem akan mencoba memahami persoalan yang sedang dialami oleh mahasiswa.

Baca Juga: Putih Sari Serap Aspirasi Warga Karawang soal BPJS dan Fasilitas RS

Jika permasalahan yang teridentifikasi tergolong ringan, Aika dapat memberikan saran mandiri kepada pengguna.

Saran tersebut misalnya berupa teknik pernapasan untuk menenangkan diri, pengaturan pola istirahat, hingga strategi sederhana dalam mengelola stres.

Namun apabila sistem mendeteksi indikasi persoalan yang lebih serius, Aika akan langsung menghubungkan pengguna dengan psikolog atau konselor profesional.

Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tetap dapat memperoleh bantuan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan mereka.

Baca Juga: Masjid Agung Syuhada Pelaihari menjadi masjid tertua di Tanah Laut dan saksi perjuangan rakyat melawan Belanda.

AI Agent yang Menjembatani Mahasiswa dan Psikolog
Berbeda dengan AI large language model (LLM) generatif yang cenderung bersifat pasif, Aika dirancang sebagai AI agent yang memiliki peran lebih otonom dalam proses pendampingan awal.

Pengembangan sistem ini juga mengadopsi pendekatan kerja psikolog, yaitu mengeksplorasi permasalahan melalui dialog yang mendalam untuk memahami kondisi klien.

Dari percakapan tersebut, sistem kemudian menyusun ringkasan kondisi pengguna, melakukan asesmen awal, menyusun kemungkinan diagnosis, hingga memberikan rekomendasi penanganan.

Baca Juga: Om Zein Ada Momentum Bagus Nih, Berlakunya ETLE Bisa Kurangi Penyakit 'Akut ASN Yang Sudah Mendarah Daging'

Hasil analisis tersebut kemudian diteruskan kepada psikolog yang bertugas melakukan tindak lanjut secara profesional.

Dalam implementasinya, Aika melibatkan tiga pihak utama dalam ekosistem layanan.

Pertama adalah mahasiswa sebagai pengguna layanan. Kedua adalah psikolog atau konselor yang menerima laporan serta memberikan penanganan lanjutan. Ketiga adalah administrator sistem yang bertugas mengelola operasional platform.

“Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah, termasuk menghubungkan langsung ke psikolog apabila dibutuhkan pendampingan lebih lanjut,” tegasnya. ***