POJOKSATU.id - Kerusakan jembatan dan terputusnya pasokan listrik kerap muncul bersamaan ketika bencana banjir terjadi.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar dan komunikasi ketika akses menuju wilayah terdampak terputus.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar belakang lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mengembangkan Solar Bridge, konsep infrastruktur darurat yang menggabungkan fungsi jembatan dengan penyediaan listrik sementara.
Gagasan tersebut dikembangkan melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) 2026.
Solar Bridge dirancang untuk membantu menyediakan akses mobilitas sekaligus pasokan listrik sementara bagi masyarakat di wilayah terdampak banjir.
Tim diketuai Amanda Syifa Lusayni dari Program Studi Kedokteran Gigi angkatan 2024. Ia berkolaborasi dengan Daniys Aqela Shaleha dari Kedokteran Gigi, Muhammad Akbar Rabbani dari Teknik Elektro, Annisa Hasna Aliefia dari Teknik Arsitektur, dan Rainy Azzahra dari Teknik Sipil.
Tim tersebut berada di bawah bimbingan drg. Hendri Susanto, M.Kes., Ph.D., Sp.PM.
“Kami melihat adanya kebutuhan untuk menghadirkan solusi yang dapat memulihkan akses sekaligus membantu memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat dalam kondisi darurat,” ujar Amanda, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Lowongan Kerja BNI Life 2026 untuk Lulusan SMA hingga S1, Cek Posisi, Syarat dan Cara Melamar
Solar Bridge Dirancang Modular dan Mudah Dipindahkan
Dari sisi konstruksi, Solar Bridge mengadaptasi prinsip struktur Jembatan Bailey dengan rangka baja sebagai penopang utama.
Sementara itu, lantai jembatan menggunakan sistem modular interlocking atau saling mengunci yang dirancang menggunakan material alternatif berbasis limbah.
Penggunaan sistem modular membuat rancangan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan material di lokasi bencana.
Konsep bongkar-pasang juga memungkinkan jembatan dirakit dan dipindahkan ke lokasi lain sesuai kebutuhan.
“Kami merancang struktur yang modular agar SOLAR BRIDGE dapat lebih mudah dirakit dan disesuaikan dengan kondisi di lokasi bencana, termasuk melalui pemanfaatan material alternatif yang tersedia,” tutur Amanda.
Baca Juga: BBM Nelayan Muara Angke Aman, Pertamina Bahas Perluasan BBM Satu Harga ke Kepulauan Seribu
Konsep tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan akses yang sering muncul setelah infrastruktur penghubung rusak akibat banjir atau bencana lainnya.
Panel Surya Jadi Sumber Listrik Darurat
Tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung, Solar Bridge juga dirancang untuk menyediakan energi listrik sementara.
Panel surya diintegrasikan pada struktur jembatan untuk mengubah energi matahari menjadi listrik.
Energi tersebut kemudian disimpan dalam baterai sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik cadangan.
Baca Juga: Lapas Tangerang Kembali Kirim 9 Napi Risiko Tinggi ke Nusakambangan
Sistem Solar Bridge juga dilengkapi solar tracker yang dirancang untuk membantu memaksimalkan penyerapan energi matahari.
Selain itu, tim mengusulkan pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) agar kinerja panel surya dapat dipantau secara real-time.
Dengan konsep tersebut, satu infrastruktur diharapkan dapat menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni membantu memulihkan akses mobilitas dan menyediakan sumber energi sementara.
Digagas Lima Mahasiswa dari Lintas Disiplin
Pengembangan Solar Bridge juga menjadi contoh kolaborasi mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan.
Tim terdiri atas mahasiswa Kedokteran Gigi, Teknik Elektro, Teknik Arsitektur, dan Teknik Sipil. Perbedaan latar belakang tersebut digunakan untuk melihat persoalan kebencanaan dari berbagai perspektif.
Baca Juga: Akun belajar.id Guru SD Kena Pesan Spam, Jangan Klik Link! Ini Langkah yang Harus Dilakukan
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan gagasan Solar Bridge dalam skema PKM-VGK 2026.
Melalui skema tersebut, tim menuangkan konsepnya dalam bentuk video naratif yang mengangkat Solar Bridge sebagai gagasan jembatan darurat terintegrasi.
“Kolaborasi lintas bidang membantu kami melihat persoalan kebencanaan dari berbagai sudut, sehingga konsep SOLAR BRIDGE dapat dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan akses sekaligus energi,” tambah Amanda.
Solar Bridge Masih dalam Tahap Gagasan
Video PKM-VGK tersebut menjadi media bagi tim untuk memperkenalkan konsep Solar Bridge sekaligus mengangkat urgensi penyediaan infrastruktur yang adaptif dalam kondisi bencana.
Namun, Solar Bridge saat ini masih berada pada tahap gagasan yang dikembangkan melalui PKM-VGK 2026. Artinya, konsep tersebut belum dapat disebut sebagai infrastruktur yang telah diterapkan atau digunakan langsung di wilayah bencana.
Baca Juga: KPR Sering Ditolak? Ini 7 Jenis Pekerjaan yang Perlu Siapkan Dokumen Lebih Lengkap
Implementasi di lapangan masih membutuhkan tahapan pengembangan dan pengujian lebih lanjut, termasuk untuk memastikan aspek keamanan, kekuatan struktur, ketahanan material, sistem kelistrikan, serta kesesuaian dengan kondisi lokasi bencana.
Daniys berharap gagasan yang dikembangkan bersama timnya dapat terus dikaji dan berpeluang menjadi alternatif dalam merespons kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak bencana.
“Kami berharap Solar Bridge dapat menjadi gagasan alternatif dalam penanganan bencana, terutama dengan menggabungkan fungsi akses dan energi dalam satu sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” pungkasnya. ***




