POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tim mahasiswa Teknik Geofisika ITB yang tergabung dalam The Greatest Cislam Team berhasil meraih Juara 1 Seismic Interpretation Competition (SIC) GEOFEST 2025, kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika (HMTG) “MAYAPADA” Institut Teknologi Sumatra (ITERA).
Kompetisi yang mengusung tema “Enhancing Seismic Interpretation in Energy Resource Exploration” ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Baca Juga: Bupati Karawang Siapkan Pembebasan Lahan Rumah Pompa di Karangligar
Ajang tersebut menjadi wadah pengujian kemampuan interpretasi seismik dalam konteks eksplorasi sumber daya energi.
Tim peraih juara pertama terdiri atas Muhammad Aufar Al Ghiffary (12320094) sebagai ketua tim, Bagas Prakasa Akbar (12321062), dan Abid Syabala (12321064).
Dalam kompetisi ini, mereka mengajukan karya tulis berjudul “Evaluation of Hydrocarbon Potential Zones Through the Integration of Seismic Inversion, Multi-Attribute, Probabilistic Neural Network (PNN), Amplitude Variation with Frequency (AVF), and Seismic Stratigraphic Analysis in the Poseidon Field, Lower Plover Formation, Browse Basin, Australia”.
Baca Juga: Masuk Tengah Semester Tidak Otomatis Hangus, Ini Cara Sistem Menilai Hak TPG Guru Baru
Karya tersebut disusun sebagai respons komprehensif terhadap tema lomba, dengan penekanan pada penguatan interpretasi seismik untuk mendukung eksplorasi sumber daya energi secara lebih akurat dan terintegrasi.
Tantangan Studi Kasus Lapangan Australia
Dalam SIC GEOFEST 2025, The Greatest Cislam Team dihadapkan pada studi kasus eksplorasi migas menggunakan data lapangan dari wilayah Australia.
Tantangan utama yang diberikan adalah mengevaluasi potensi minyak dan gas bumi serta melakukan estimasi volumetrik guna menilai keekonomisan cadangan hidrokarbon.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menerapkan pendekatan studi terintegrasi yang memadukan disiplin geologi, geofisika, dan petrofisika.
Analisis dilakukan melalui interpretasi data sumur dan seismik secara kualitatif dan kuantitatif, identifikasi prospek, evaluasi sistem petroleum, penentuan lokasi pengeboran strategis, hingga perhitungan volumetrik sebagai estimasi cadangan dan keekonomisan lapangan.
Baca Juga: KIP Kuliah Berlaku untuk Kampus Islam Negeri? Ini Jawaban Resmi yang Wajib Diketahui
Keberhasilan tim tidak lepas dari persiapan yang matang.
Manajemen waktu yang efektif, pendalaman konsep dasar geofisika dan geologi, serta penguatan pemahaman melalui kajian literatur menjadi kunci utama.
Integrasi berbagai metode dilakukan secara detail agar hasil interpretasi lebih akurat, komprehensif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Inovasi di Tengah Keterbatasan Data
Berbagai kendala turut mewarnai perjalanan tim, salah satunya keterbatasan data berupa seismik post-stack tanpa informasi variasi sudut.
Kondisi ini menyebabkan proses inversi hanya menghasilkan persebaran impedansi akustik.
Namun, keterbatasan tersebut justru melahirkan inovasi.
Baca Juga: Hakim Bebaskan Khariq Anhar, Mahasiswa Universitas Riau Tak Ditahan dalam Kasus Demo Agustus 2025
Tim mengonversi hasil inversi impedansi akustik menjadi penampang densitas menggunakan metode multi-attribute, meningkatkan kualitasnya dengan Probabilistic Neural Network (PNN), hingga menghasilkan volume porositas.
Tidak berhenti di situ, korelasi keberadaan fluida juga dilakukan melalui penerapan metode Amplitude Variation with Frequency (AVF), metode yang relatif jarang digunakan dan dipelajari secara mandiri oleh tim.
Baca Juga: Hak THR Karyawan Wajib Dipenuhi, Ini Sanksi Tegas Perusahaan yang Tak Membayar
Seluruh proses perlombaan ini dijalani tanpa bimbingan dosen pembimbing.
Keputusan tersebut diambil sebagai tantangan untuk menguji kemandirian dan ketangguhan dalam mengaktualisasikan pemahaman keilmuan.
Meski demikian, tim tetap memperoleh masukan evaluatif dari rekan sejawat yang memberikan kritik konstruktif terhadap hasil akhir karya.
Baca Juga: 7 Beasiswa S1 Gratis dari Pemerintah 2026, Nomor 1 Paling Diburu, Ada yang Full Biaya Hidup
Aufar, mewakili tim, menyampaikan pesan reflektif usai perlombaan.
“Dari perlombaan ini kami memperoleh makna mendalam akan pentingnya dedikasi tinggi, inovasi cemerlang, disiplin waktu, dan kerja sama sebagai satu kesatuan tim untuk mencapai satu impian, yaitu menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Raihan Juara 1 SIC GEOFEST 2025 menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa ITB dalam berinovasi, berpikir kritis, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu geofisika dan geologi, khususnya di sektor energi. ***




