POJOKSATU.ID- Program Studi Sains Komunikasi FISIP UNIDA menghadirkan kegiatan Praktisi Mengajar dalam mata kuliah Bahasa Jurnalistik yang melibatkan langsung praktisi media profesional. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISIP UNIDA untuk memperkuat pemahaman mahasiswa Sains Komunikasi terhadap dunia jurnalistik.

Kegiatan Praktisi Mengajar Bahasa Jurnalistik yang mengangkat tema “Kata, Berita, dan Dunia Maya” tersebut dilaksanakan pada Kamis, 18 Desember 2025, dan diikuti oleh mahasiswa Sains Komunikasi FISIP UNIDA.

Hadir sebagai pemateri dalam kelas Bahasa Jurnalistik Sains Komunikasi, Ahmad Jiddan, wartawan sekaligus videografer Metropolitan.id, berbagi pengalaman serta wawasan seputar dunia jurnalistik kepada mahasiswa FISIP UNIDA.

Ahmad Jiddan merupakan alumni FISIP UNIDA angkatan 2018 dari Program Studi Sains Komunikasi, sehingga materi yang disampaikannya dalam kegiatan Praktisi Mengajar dinilai relevan dengan realitas dunia kerja yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus.

Baca Juga: OTT KPK Kembali Menyasar Kepala Daerah, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang Ditangkap Dini Hari

Ketua Program Studi Sains Komunikasi FISIP UNIDA, Drs. Undang Suryatna, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kehadiran pemateri dalam kegiatan Praktisi Mengajar Bahasa Jurnalistik. Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memahami praktik jurnalistik secara lebih mendalam.

Pemateri yang hadir hari ini merupakan alumni yang telah terjun langsung ke dunia kerja. Saya berharap mahasiswa dapat menyerap ilmunya dengan baik,” ujar Pak Undang.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan yang berlangsung hangat. Dengan gaya komunikasi yang santai dan khas generasi Z, Ahmad Jiddan berhasil menciptakan suasana kelas yang interaktif tanpa mengurangi substansi materi. Hal ini membuat mahasiswa lebih mudah memahami pembahasan yang disampaikan.

Dalam pemaparannya, Jiddan tidak hanya menjelaskan teknik penulisan berita, tetapi juga menekankan nilai profesionalisme yang harus dimiliki seorang wartawan. Menurutnya, jurnalis memiliki posisi yang setara dengan siapa pun saat menjalankan tugas jurnalistik.

Serendah apa pun profesi wartawan, ketika berhadapan dengan presiden kita setara dengan presiden. Begitu juga saat berhadapan dengan tukang becak, ungkapnya.

Baca Juga: Nasib Honorer Gagal PPPK Paruh Waktu Masih Menggantung, Pemda Akhirnya Bicara Terbuka

Diskusi semakin menarik ketika mahasiswa mulai mengajukan pertanyaan. Salah satunya disampaikan oleh Listya Eka Putri, mahasiswi Sains Komunikasi, yang menanyakan pengalaman paling berat selama Jiddan berkarier sebagai jurnalis.

Menanggapi hal tersebut, Jiddan menjelaskan bahwa jam kerja yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri dalam profesi wartawan.

Jam 12 malam masih bisa kerja, dan itu hal biasa. Efeknya, kulit makin menghitam,” ujarnya sambil bercanda.

Lebih lanjut, Jiddan menegaskan bahwa calon jurnalis perlu memiliki keberanian dan rasa percaya diri saat terjun ke lapangan.

Selain itu, pemahaman dasar jurnalistik seperti unsur 5W+1H menjadi bekal penting dalam menyusun berita yang runtut dan logis. Ia juga menekankan bahwa kemampuan menulis akan terus berkembang seiring jam terbang dan pengalaman.

Minimal kita paham 5W+1H supaya bisa merangkai tulisan dengan baik.
Kegiatan Praktisi Mengajar ini memberikan kesan tersendiri bagi mahasiswa. Khalil Alkhairi, mahasiswa FISIP, mengaku mendapatkan pengalaman baru karena kelas Bahasa Jurnalistik diisi langsung oleh wartawan profesional yang juga merupakan alumni FISIP.

Baca Juga: Masih Paruh Waktu? Ini 2 Hal Penentu Pengangkatan Jadi PPPK Penuh Waktu

“Rasanya sangat berkesan, apalagi pematerinya adalah abang-abangan dari FISIP yang sudah terjun langsung ke dunia jurnalistik,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sains Komunikasi FISIP Universitas Djuanda berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori jurnalistik di ruang kelas, tetapi juga memperoleh gambaran nyata mengenai etika, tantangan, dan dinamika kerja wartawan sebagai bekal menghadapi dunia profesional.***