POJOKSATU.id - Mahasiswa KKN-T IPB University menyelenggarakan program Hidroponik Sederhana di Desa Pesalakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis (24/7/2025)lalu.

Kegiatan tersebut sebagai bentuk keresahan terhadap perubahan signifikan lahan akibat banjir yang merusak irigasi sejak tahun 2024.

Tidak hanya itu, keterbatasan lahan juga menjadi kendala sehingga menyebabkan penurunan hasil produktivitas pertanian. Kondisi ini mendorong perlunya inovasi baru yang dapat menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan pangan di masyarakat.

Program Hidroponik Sederhana kemudian dihadirkan oleh mahasiswa IPB University sebagai alternatif bercocok tanam tanpa ketergantungan pada luas lahan dan aliran irigasi.

Baca Juga: Kementerian PU Edukasi Siswa Sekolah Rakyat di Bali Soal Pilah Sampah: Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

Sistem ini memanfaatkan media air yang diberi nutrisi AB mix untuk menumbuhkan tanaman yang dapat dilakukan di pekarangan rumah dengan peralatan sederhana.

Berlangsung di Dusun Maron dan di dusun Maron Barat, kegiatan ini dihadiri oleh 76 Jemaah Pengajian Wanita.

Program Hidroponik Sederhana ini menawarkan dua sistem, baskomponik dan rakit apung.

Sesuai namanya, baskomponik adalah budidaya sayuran menggunakan baskom berisi larutan AB Mix, sedangkan rakit apung memanfaatkan galon bekas air mineral yang diubah menjadi media apung.

Baca Juga: DIMINTA SEGERA Verval Ijazah di Info GTK 2025, Tapi Justru Guru Hadapi KENDALA Ini, Cek PENYEBAB Gagal Baca Data

Selain hemat biaya, metode ini juga lebih ramah lingkungan karena membantu mengurangi limbah plastik.

Mas’ul Hadi, Crop Specialist sekaligus alumni IPB University jurusan Agronomi dan Hortikultura menambahkan bahwa baskomponik hanyalah salah satu sistem sederhana yang pengembangannya ke arah sistem budidaya yang lebih murah, higienis, tidak perlu olah tanah dan tidak perlu lahan luas untuk bertanam dengan memanfaatkan modifikasi barang yang ada di sekitar rumah untuk bisa bertani menghasilkan sayuran dibandingkan cara konvensional.

“Baskomponik hanyalah teknik dasar yang nantinya diharapkan seperti mas Amin, pemuda yang mau berwirausaha dibidang hidroponik, dan pasar atau peluang tersebut masih terbuka lebar. Dalam artian tidak kesulitan dalam pemasarannya, sehingga bisa meningkatkan taraf pendapatan masyarakat,” ujar Hadi.

Baca Juga: 3 Program Kesejahteraan dan Tambahan Tunjangan Sertifikasi 2 Bulan untuk Guru

Menurut penuturan Kevin Irfansyah, Koordinator Desa KKN-T IPB Univeristy di Desa Pesalakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi solusi praktis untuk masalah irigasi yang rusak serta keterbatasan lahan di Desa Pesalakan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pemberdayaan bagi ibu-ibu PKK.

“Saya dan teman-teman berharap para ibu dapat memanfaatkan waktu luang di rumah dengan kegiatan yang produktif, menghasilkan sayuran segar dan sehat untuk konsumsi keluarga. Lebih dari itu, kami berharap program ini dapat menumbuhkan semangat kemandirian pangan, sehingga setiap keluarga bisa memenuhi kebutuhan sayuran sendiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar,” ungkap Kevin.

“kami juga berharap program Hidroponik Sederhana dapat menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan tidak menghalangi kreativitas dan inovasi untuk menciptakan solusi bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga: Aipda Robig Penembak Siswa SMA di Semarang Tak Terima Divonis 15 Tahun Penjara, Bakal Ajukan Banding

Helmin, salah satu jemaah wanita mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

“Sosialisasi baskomponik yang diadakan oleh mahasiswa KKN-T IPB University di lingkungan masyarakat Desa Pesalakan sangat bermanfaat sekali terutama bagi saya yang memiliki pekarangan rumah sempit. Dari sosialisasi kemaren memotivasi saya untuk membuat baskomponik sendiri dirumah dan setelah mengetahui cara tanam baskomponik, saya sudah membeli beberapa bibit sayuran,” tuturnya. ***