POJOKSATU.id - Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi deteksi dini penyakit tuberkulosis (TBC) melalui sistem skrining berbasis suara batuk. 

Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya kasus TBC di Indonesia yang masih menjadi penyumbang beban TBC terbesar kedua di dunia.

Sistem tersebut dirancang untuk menjawab keterbatasan akses masyarakat terhadap alat skrining dan diagnosis TBC yang selama ini cenderung mahal dan sulit dijangkau. 

Baca Juga: Ahok Ledek Wacana Pilkada DPRD: Mengambil Hak Rakyat! Sistem Ini Memang Dibuat untuk Curang!

Padahal, TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang berkembang biak di jaringan paru-paru.

Salah satu gejala utama TBC paru adalah batuk kronis yang berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu. 

Berangkat dari kondisi itu, metode skrining berbasis suara batuk dinilai sebagai pendekatan medis inovatif yang lebih efisien, hemat biaya, dan berpotensi diterapkan secara luas di masyarakat.

Baca Juga: Tunjangan Sertifikasi Guru Bakal Cair Per Bulan di 2026, Pemerintah Akui Tantangan Ini Paling Berat

Ketua tim, Nathania Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa pengolahan sinyal suara batuk memiliki tantangan tersendiri. 

Suara batuk bersifat inharmonik dengan pola spektral yang tidak beraturan, sementara sebagian besar sistem kecerdasan buatan masih berfokus pada fitur akustik tertentu, seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC). 

“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” jelasnya.

Baca Juga: Ahok Blak-blakan Soal Chromebook Nadiem: Kalau Saya Jadi Menteri, Saya Juga Akan Beli!

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim memanfaatkan metode deep learning guna mengekstraksi karakteristik akustik dari suara batuk pasien TBC. 

Data suara kemudian diproses menggunakan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) untuk memvalidasi jenis suara. 

Nathania menyebut, model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi suara batuk di berbagai kondisi lingkungan.

Baca Juga: Pendaftaran PPPK KemenHAM 2026 Tidak Perlu SKCK! Tapi Diperlukan di Tahap Ini

Tim bimbingan dosen Dr Eng Dhany Arifianto ST MEng yang beranggotakan Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, dan M. Rizki Dwi Kurnia Putra juga melakukan modifikasi pada arsitektur deep learning. 

Modifikasi dilakukan melalui ekstraksi fitur MFCC yang selanjutnya diproses menggunakan model Long Short-Term Memory (LSTM) untuk membedakan batuk TBC dan non-TBC dengan tingkat akurasi yang lebih optimal.

Tak berhenti di situ, tim yang menamai inovasinya TBCare ini turut merancang perangkat perekaman suara batuk yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). 

Baca Juga: Agar Tak Error, Ini Jam Sepi Akses SSCASN Saat Daftar PPPK KemenHAM 2026

Perangkat tersebut dapat terhubung langsung dengan basis data rumah sakit, sehingga proses pengiriman dan pengelolaan data medis dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan. 

“Perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TB portable yang mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” ujar Nathania.

Inovasi TBCare telah melalui uji validasi medis dan menunjukkan tingkat sensitivitas klasifikasi batuk tuberkulosis sebesar 76 persen. 

Baca Juga: Begini Cara Daftar PPPK KemenHAM 2026 di SSCASN! Dari Login, Upload Dokumen, Hingga Cetak Kartu

Sistem ini juga dikembangkan menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dengan tingkat kesiapterapan teknologi berada di level 6.

Capaian tersebut mengantarkan tim Program Kreativitas Mahasiswa kategori Karsa Cipta (PKM-KC) ITS meraih medali emas pada ajang Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025. 

Lebih dari sekadar prestasi, inovasi ini turut mendukung pencapaian tujuan ke-3, ke-9, dan ke-10 Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mewujudkan kehidupan sehat dan mengurangi ketimpangan melalui teknologi.

Baca Juga: Kontrak Kinerja Perguruan Tinggi Berdampak 2026, Arah Baru Kampus Menuju Indonesia Emas 2045

Di akhir, Nathania berharap inovasi yang dikembangkan bersama timnya ini dapat menjadi bagian dari solusi nasional dalam mendukung target eliminasi penyakit TBC di Indonesia pada tahun 2030. ***