POJOKSATU.id - Mahasiswa S1 Teknik Tenaga Listrik Institut Teknologi PLN, Dionisius Aprisal Fenanlampir, berhasil meraih juara 3 dalam ajang kompetisi nasional.
Kompetisi tersebut bertajuk Sustainable Livestock Transformation Research and Innovation Competition for Young Scientists yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Dalam kompetisi yang menjadi bagian dari International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation 2026 itu, Dionisius menampilkan riset berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi penyebaran penyakit hewan lintas provinsi di Indonesia.
Baca Juga: UNJA Tambah Dua Jurnal SINTA 2, Kini Total Capai Tujuh Jurnal Terakreditasi
Riset tersebut berangkat dari kasus wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022 yang menjadi salah satu krisis peternakan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Wabah ini diketahui menginfeksi ratusan ribu ternak di puluhan provinsi tanpa adanya sistem prediksi sebelumnya.
Dionisius menjelaskan bahwa model yang ia kembangkan menggunakan pendekatan machine learning dengan memanfaatkan data publik.
Hasilnya, model tersebut mampu memprediksi dengan akurasi tinggi hingga 100 persen provinsi yang berpotensi terinfeksi, bahkan dua minggu sebelum kasus benar-benar muncul.
Menurut Dionisius, riset ini tidak hanya difokuskan pada satu jenis penyakit, tetapi dirancang sebagai kerangka kerja yang dapat diterapkan pada berbagai penyakit hewan lainnya seperti flu burung H5N1, Lumpy Skin Disease, hingga African Swine Fever.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama riset ini adalah membangun sistem surveilans kesehatan hewan berbasis AI di Indonesia yang dapat berfungsi sebagai peringatan dini.
Baca Juga: Dian Kusdianto Ajak Anak Muda Cirebon Lawan Narkoba Lewat Ruang Kreatif dan Aksi Positif
Hal ini dinilai penting mengingat selama ini respons terhadap wabah cenderung bersifat reaktif.
Dionisius juga menyoroti keterbatasan akses data surveilans yang masih belum terbuka secara luas untuk peneliti.
Padahal, menurutnya, data yang tersedia sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem prediksi yang lebih akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ketertarikannya terhadap isu ini juga dipicu oleh pengalaman pribadi, ketika keluarganya kehilangan seluruh ternak akibat wabah African Swine Fever pada 2025.
Baca Juga: 6.509 Peserta Lolos SNBP 2026 di Unesa, 1.293 di Antaranya Penerima KIP Kuliah
Pengalaman tersebut menjadi titik awal ia mengembangkan gagasan sistem peringatan dini berbasis teknologi.
Dalam kompetisi tersebut, Dionisius mengaku mendapatkan banyak wawasan dari para juri internasional yang berasal dari BRIN dan FAO, khususnya terkait arah pengembangan peternakan berkelanjutan di masa depan.
Meski berasal dari bidang non-peternakan, ia menilai pendekatan lintas disiplin justru menjadi kekuatan tersendiri dalam riset yang ia lakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari kolaborasi berbagai bidang keilmuan.
Baca Juga: 21.995 Siswa PIP Lolos SNBP 2026 dan Berpeluang Dapat KIP Kuliah, Ini Rinciannya
Ke depan, Dionisius berencana mengembangkan risetnya dalam beberapa tahap, mulai dari validasi model di tingkat kabupaten, perluasan ke penyakit lain, hingga pengembangan platform data terbuka yang ia sebut sebagai Livestock Disease Data Commons.
Jika diterapkan secara luas, sistem ini diharapkan mampu membantu pemerintah dan peternak dalam mengantisipasi penyebaran penyakit lebih cepat. ***




