POJOKSATU.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Indonesia di tingkat nasional.

Kali ini datang dari Stefanus Evan Winarta, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), yang berhasil meraih dua penghargaan dalam ajang Asia Young Designer Awards (AYDA) Indonesia 2026.

Evan merupakan mahasiswa Magister Desain angkatan 2025. Dalam kompetisi yang digelar di Jakarta pada Februari lalu itu, ia berhasil membawa pulang dua kategori penghargaan sekaligus, yaitu Honorary Mention dan Alumni's Choice.

Baca Juga: Ribuan Dosen ASN Ajukan Keberatan ke Pemerintah, Tuntut Kejelasan Tukin 2020–2024

Penghargaan tersebut diraih berkat karya desain interior yang terinspirasi dari narasi lokal berjudul “Legenda Putri Komodo”.

Persiapan Singkat, Hasil Membanggakan
Perjalanan Evan menuju kompetisi tersebut tidaklah mudah. Di tengah kesibukannya menempuh studi melalui Program Penyatuan Sarjana Magister (PPSM) sekaligus mulai meniti karier profesional, ia tetap memutuskan untuk menantang diri mengikuti kompetisi desain bergengsi tersebut.

Menariknya, Evan baru mengetahui informasi lomba hanya satu pekan sebelum batas akhir pengumpulan karya.

Baca Juga: Jadwal WFA Lebaran 2026 untuk ASN dan Pegawai Swasta, Berlaku Sebelum dan Sesudah Idulfitri

Meski memiliki waktu persiapan yang sangat terbatas, ia tetap optimistis untuk mencoba membawa gagasan akademisnya ke ranah profesional.

Karya yang ia kirimkan merupakan pengembangan dari tugas akhir masa sarjananya di program studi Desain Interior.

Mengangkat Narasi Lokal
Mengusung tema kompetisi “Converge: Crafting Cultural Legacies,” Evan memilih pendekatan unik dengan menggunakan sudut pandang fiksi seorang putri komodo sebagai dasar konsep desainnya.

Baca Juga: Daftar Hitungan Tarif Tol Trans Jawa Lengkap Setelah Diskon 30 Persen Lebaran 2026, Siapkan Biaya Mudik Segini

Melalui konsep tersebut, ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Narasi lokal itu kemudian diterjemahkan menjadi desain interior sebuah resor yang memadukan unsur budaya, alam, dan pengalaman ruang yang bermakna.

“Tantangan terbesarnya adalah memastikan tipologi yang saya pilih sesuai dengan konteks lomba dan bahasa yang saya gunakan dapat menjelaskan ide tanpa membuatnya terlalu abstrak,” tutur Evan.

Selama mengikuti rangkaian kompetisi, termasuk sesi pelatihan intensif dan karantina selama tiga hari, Evan mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas.

Baca Juga: Hijabers Serenity Ride Warnai Ramadan di Cirebon, Komunitas Scoopy Tampil Stylish Sambil Kampanyekan Keselamatan

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya dalam mengasah kemampuan berpikir kreatif sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi dunia profesional.

Dari proses yang singkat namun penuh tantangan itu, Evan membuktikan bahwa keberanian mencoba sering kali menjadi langkah awal menuju pencapaian yang membanggakan. ***