POJOKSATU.id - Keamanan pangan bukan hanya soal bagaimana makanan dibuat, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami, memilih, mengolah, dan memastikan pangan yang dikonsumsi tetap aman.
Semangat itulah yang dibawa mahasiswa KKNT Keamanan Pangan IPB University ke Desa Babakan Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.
Bersama pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha pangan, mahasiswa menjalankan rangkaian edukasi, pendampingan, hingga penerapan langsung untuk membangun ekosistem pangan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Baca Juga: Prabowo Soroti 7 PTN Indonesia Masuk 500 Besar Dunia, Minta Peringkat Terus Ditingkatkan
Program ini dijalankan melalui Tim Kader Keamanan Pangan (KKP) dan Tim Fasilitator Keamanan Pangan (FKP). Keduanya memiliki sasaran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam menjangkau masyarakat maupun pelaku usaha.
Warga Dilatih Jadi Kader Keamanan Pangan
Langkah pertama dilakukan dengan membentuk Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD).
Kader dipilih dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari sekolah, keluarga, Posyandu, ibu rumah tangga hingga Karang Taruna.
Setelah mendapatkan pelatihan, para kader ikut menyampaikan edukasi melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Komunitas dengan pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).
Baca Juga: SATU UI Resmi Diluncurkan, Sistem Akademik Baru Gantikan SIAK-NG
Kegiatan tersebut antara lain digelar di SMP Negeri 2 Leuwisadeng dan PAUD SPS Garuda dengan materi 5 Kunci Keamanan Pangan di Sekolah dan Keluarga.
Edukasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Peserta juga diajak mempraktikkan langsung cara mencuci tangan yang benar.
Para kader kemudian turun ke lapangan untuk melihat praktik keamanan pangan di kantin sekolah serta melakukan kunjungan door to door ke rumah warga.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Hotel Mewah di Jakarta yang Tawarkan Fasilitas Sangat Lengkap
Dengan pola tersebut, kader tidak hanya dibekali pengetahuan. Mereka juga dipersiapkan menjadi agen perubahan yang dapat meneruskan edukasi keamanan pangan di lingkungan masing-masing.
UMKM Pangan Ikut Didampingi
Jika Tim KKP bergerak di masyarakat, Tim FKP lebih fokus mendampingi pelaku usaha pangan.
Sasarannya cukup beragam, mulai dari Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), usaha pangan siap saji hingga ritel.
Pendampingan diawali dengan pendataan UMKM dan survei kondisi awal.
Baca Juga: Pendaftaran Poltekimipas 2026 Dibuka, Ada 405 Formasi untuk 6 Prodi, Gunakan Seleksi Sistem Gugur
Setelah itu, pelaku usaha mendapatkan sosialisasi mengenai keamanan pangan serta pendampingan dalam memenuhi legalitas usaha.
Salah satu capaian program tersebut adalah berhasil diterbitkannya enam Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha pangan di Desa Babakan Sadeng.
Tim FKP juga mendampingi pelaku IRTP dalam memenuhi persyaratan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT).
Pendampingan tersebut mencakup perbaikan sarana produksi hingga penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).
Harapannya, pelaku usaha tidak hanya memenuhi ketentuan administrasi, tetapi juga semakin memahami pentingnya menjaga mutu dan keamanan produk yang sampai ke tangan konsumen.
Dari Edukasi, Langsung Dipraktikkan
Rangkaian kegiatan kemudian mencapai puncaknya melalui Lokakarya II KKNT Keamanan Pangan IPB University yang digelar di Kantor Desa Babakan Sadeng pada 12 Agustus 2026.
Dalam lokakarya tersebut, Tim KKNT memaparkan berbagai capaian selama program berlangsung.
Baca Juga: Target 25 Ribu Peserta, Gus Fawait Pastikan Tajemtra 2026 Bangkitkan Ekonomi Lokal Jember
Mulai dari pembentukan KKPD, edukasi dan fasilitasi komunitas, pendampingan masyarakat, penerbitan enam NIB hingga pendampingan pemenuhan SPP-IRT bagi pelaku usaha pangan.
Kepala Desa Babakan Sadeng, Wawan, S.Ap turut memberikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa selama program.
“Terima kasih kepada Tim KKN IPB University Desa Babakan Sadeng telah memberi warna serta warni untuk masyarakat Desa Babakan Sadeng, membagikan pengetahuan baru untuk warga,” ungkap Wawan.
Bagi masyarakat, rangkaian kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus mencoba langsung praktik keamanan pangan.
Sementara bagi pelaku usaha, pendampingan membuka peluang untuk memperbaiki proses produksi, mengurus legalitas, dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk mereka.
Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, Pertamina Patra Niaga JBB Bawa 10 UMKM Binaan ke MyPertamina Pasar Rakyat
Pada akhirnya, keamanan pangan memang tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan kerja bersama antara masyarakat, kader, pelaku usaha, pemerintah desa dan perguruan tinggi agar pengetahuan yang diberikan tidak berhenti sebagai materi pelatihan.
Ketika kader diberdayakan, warga dilibatkan dan UMKM didampingi, edukasi perlahan dapat berubah menjadi kebiasaan.
Dari Desa Babakan Sadeng, gerakan tersebut menunjukkan bahwa membangun pangan yang aman bisa dimulai dari langkah sederhana: dari cara mencuci tangan, dapur rumah tangga, kantin sekolah hingga tempat produksi UMKM.
Lebih jauh, sinergi tersebut diharapkan mampu meninggalkan pengetahuan dan keterampilan yang tetap hidup di masyarakat setelah program mahasiswa selesai. ***




