POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia kampus. Kali ini, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang berhasil mencatatkan namanya di tingkat nasional lewat ajang bergengsi di bidang pangan.
Tim mahasiswa FTP USM sukses meraih peringkat ke-6 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Agricultural Food Competition (AFC) Season 17 yang digelar oleh Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, pada 28–29 Maret 2026.
Kompetisi ini mengangkat tema peningkatan nilai fungsional produk pangan, dengan dua kategori utama yakni Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Business Plan.
Baca Juga: Kampus Tak Hanya Cetak Lulusan, Presiden Minta Perguruan Tinggi Jadi Motor Tata Kota dan Perumahan
Pesertanya datang dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, menjadikan ajang ini sebagai salah satu kompetisi ilmiah yang cukup prestisius di bidang teknologi pangan.
Angkat Isu Keberlanjutan Lewat Inovasi
Tim FTP USM yang terdiri dari Farezha Ilham Raihanda Putra sebagai ketua, bersama Asrul Sani, Fifi Mafawiza, dan Eka Laelatul Magfiroh, tampil membawa gagasan yang cukup relevan dengan isu global saat ini: keberlanjutan.
Dalam presentasinya, mereka mengusung karya berjudul “Optimizing Technology to Achieve the 2030 SDGs Through Sustainable Agricultural Development in Indonesia”.
Baca Juga: Rahasia Video Timelapse Biar Viral, Panduan Lengkap dari Nol Sampai Hasil Cinematic, Anti Gagal!
Fokusnya jelas, bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Farezha menjelaskan bahwa inovasi yang mereka kembangkan berupa Halal Bio-Organic Solvent (H-BOS), yaitu alternatif pelarut ramah lingkungan yang juga bebas dari aspek kritis kehalalan yang sering ditemukan pada pelarut sintetis.
"Bahan baku yang dimanfaatkan adalah limbah kulit ari kedelai dari industri tempe yang dikonversi menggunakan metode Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) guna mengefisienkan waktu produksi."
Baca Juga: 10 Soal Pilihan TKA Matematika SMP 2026 Lengkap Pembahasan, Jadwal dan Cara Ikut Simulasi
"Melalui eksperimen yang membandingkan variasi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi. Secara keseluruhan, riset ini membuktikan bahwa limbah agroindustri yang kerap memicu pencemaran dapat diubah menjadi pelarut fungsional bernilai tinggi dengan menerapkan prinsip zero waste," kata Farezha.
Limbah Jadi Solusi, Bukan Masalah
Inovasi ini menarik karena tidak hanya menawarkan solusi ilmiah, tapi juga menjawab persoalan lingkungan yang selama ini kerap dianggap sepele.
Limbah kulit ari kedelai, yang biasanya terbuang begitu saja, justru diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Pendekatan zero waste yang diusung tim ini sekaligus menunjukkan bahwa limbah bisa menjadi peluang, bukan sekadar masalah.
Tak heran jika karya mereka mampu menembus 10 besar hingga akhirnya finis di posisi keenam dalam kompetisi tersebut.
Apresiasi dan Harapan dari Kampus
Dekan FTP USM, Rohadi, turut memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut.
"Kami mengapresiasi prestasi mereka karena lolos 10 besar dan meraih peringkat keenam," ungkapnya.
Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi pemicu bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berani tampil di berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Baca Juga: Gmail Bisa Ganti Alamat Tanpa Buat Akun Baru, Fitur Google Ini Dirilis Bertahap, Indonesia Kapan?
"Kami selalu mendukung mahasiswa yang kreatif dan memiliki visi untuk maju," tandasnya.
Capaian ini seperti jadi pengingat bahwa ide-ide sederhana, kalau digarap dengan serius, bisa punya dampak besar. ***




