POJOKSATU.id - Perguruan tinggi swasta (PTS) tengah berupaya keluar dari tekanan.
Tren jumlah mahasiswa baru di kampus swasta disebut terus menurun dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi tantangan nasional.
Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS), Fathul Wahid, mengakui kondisi tersebut menjadi perhatian bersama para pengelola PTS.
"Saya tidak punya data komprehensif, tapi dari cerita beragam kawan, memang itu tantangan nasional, dan ini bisa jadi sebabnya beragam," kata Fathul dalam workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin, 16 Februari 2026.
Fathul yang juga menjabat Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menyebut, banyaknya jalur penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi salah satu faktor yang diduga memengaruhi penurunan mahasiswa baru di PTS.
"Terutama untuk program sarjana yang beberapa hari yang lalu kita mendapatkan kabar baik, karena kementerian juga tampaknya akan merespons itu," ujarnya.
Baca Juga: TPG Guru 2026 Cair Bulanan, Ini Jadwal Validasi Info GTK dan Waktu Terbit SKTP Terbaru
Banyak Jalur PTN dan Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan
Menurut Fathul, persoalan yang tidak kalah penting adalah daya beli masyarakat.
Kondisi perekonomian yang menekan membuat banyak keluarga harus memprioritaskan pengeluaran pada kebutuhan yang lebih mendesak.
"Itu juga perlu dilihat, apakah memang prioritas pengeluaran keluarga menjadi berubah sehingga kuliah mungkin nomor sekian atau bahkan tetap kuliah tetapi dengan bergeser lokasinya. Misalnya tidak harus jauh dari rumah, tapi nyari yang dekat atau perguruan tinggi setempat," ungkapnya.
Baca Juga: ASN Resmi WFA Saat Lebaran 2026, Ini Jadwal Lengkap dan Aturan dari Kementerian PANRB
Ia menegaskan hingga kini belum ada data pasti yang benar-benar memetakan penyebab utama penurunan mahasiswa baru di PTS.
Menurutnya, kemungkinan besar penyebabnya merupakan kombinasi dari berbagai faktor, termasuk yang dialami perguruan tinggi Islam swasta (PTIS).
Puluhan perwakilan pimpinan PTIS diketahui berkumpul untuk membahas persoalan tersebut dalam forum bersama.
Baca Juga: PNS dan PPPK Bersiap Serba AI 2026, Ini Daftar Layanan ASN Digital yang Bakal Otomatis dan Paperless
Diskusi tersebut diharapkan melahirkan solusi konkret agar kampus swasta tetap bertahan dan berkembang di tengah kompetisi yang semakin ketat.
"Kami ingin kawan-kawan perguruan tinggi swasta, terutama khusus sekarang perguruan tinggi Islam swasta, ini sama-sama menguatkan, karena kita tidak mungkin mengandalkan orang luar dalam merusak masa depan kita sendiri, sehingga ketika kapasitas internal kita itu kuat," jelasnya.
Kampus Swasta Rasakan Stagnasi Lima Tahun Terakhir
Rektor Universitas Islam Al-Azhar Mataram, Muh. Ansyar, turut membenarkan bahwa institusinya juga merasakan dampak serupa.
Baca Juga: Prabowo Tunjuk Mayjen Prihati Pujowaskito Gantikan Ali Ghufron Jadi Dirut BPJS Kesehatan 2026–2031
"Sudah berlangsung lama sebetulnya, sudah lima tahunan mungkin. Mungkin lebih pada hanya stagnan untuk kampus kami, tidak drastis juga turunnya tetapi," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap PTS bukan persoalan sesaat, melainkan tren yang sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.
Persaingan di dunia pendidikan tinggi kini tidak hanya soal reputasi, tetapi juga akses, biaya, dan kedekatan dengan kebutuhan masyarakat.
Tantangan ini menjadi pengingat bahwa transformasi dan kolaborasi menjadi kunci agar PTS tetap bertahan dan terus memberi kontribusi bagi masa depan generasi muda Indonesia. ***




