Oleh: Syarifuddin, S.Pd., M.Biomed., CHt., CCHP., CI
POJOKSATU.ID - Di tengah upaya pemerintah mendorong transformasi pendidikan melalui pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam, ada satu hal mendasar yang kerap
terabaikan: kondisi psikologis dan emosional guru.
Tanpa disadari, luka batin yang belum pulih dalam diri guru dapat menjadi penghalang besar dalam implementasi metode pembelajaran abad 21 ini.
Deep Learning Bukan Sekadar Metode, Tapi Energi Emosional
Deep learning menuntut guru untuk tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi
membimbing siswa untuk berpikir kritis, berkolaborasi, merefleksi, dan menciptakan
makna dari pengalaman belajar.
Baca Juga: Program Kepemimpinan Sekolah: Upaya Mewujudkan Pemimpin Pendidikan yang Adaptif dan Inovatif
Namun, bagaimana mungkin seorang guru bisa menginspirasi makna jika ia sendiri belum selesai dengan masa lalunya?
Banyak guru di Indonesia yang datang ke ruang kelas dengan luka batin yang belum
sembuh akibat trauma masa kecil, tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, bahkan
pengalaman diskriminasi dalam sistem pendidikan itu sendiri.
Luka-luka ini seringkali tidak tampak di permukaan, namun secara perlahan melumpuhkan sensitivitas, empati, dan antusiasme guru dalam mendampingi proses belajar siswa.
Seorang guru tak akan mampu menuntun siswanya menyelami makna hidup lewat
pelajaran, jika ia sendiri belum berani menatap luka-luka dalam batinnya yang selama ini
dikubur rapat.
Pembelajaran yang sejati lahir dari hati yang utuh. Bagaimana mungkin sebuah hati yang masih terluka bisa menjadi cahaya bagi anak-anak yang haus makna?
Siswa Butuh Koneksi Emosional dengan Guru
Konsep deep learning membutuhkan guru yang bukan hanya kompeten secara akademik,
tapi juga hadir secara emosional.
Guru yang penuh luka batin cenderung bersikap defensif, otoriter, atau malah apatis.
Mereka bisa sangat teknis dalam menyampaikan materi, tetapi tidak membangun koneksi emosional yang menjadi kunci pembelajaran yang bermakna.
Penelitian dari Universitas Indonesia tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 62 persen guru
mengalami stres kronis, dan 1 dari 4 guru menunjukkan gejala gangguan kecemasan.
Ironisnya, dalam banyak pelatihan pendidikan, aspek kesehatan mental guru jarang
menjadi fokus utama.
Seorang guru SMA di Luwu Timur, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sering
merasa cemas dan mudah marah di kelas.
“Kadang saya tahu anak-anak butuh saya dengarkan. Tapi jujur, saya sendiri masih bergelut dengan luka masa kecil saya yang belum selesai. Rasanya berat sekali,” ungkap guru tersebut.
Luka yang Tidak Diakui, Akan Mengatur Pola Ajar
Tanpa disadari, luka batin guru memengaruhi pola komunikasi, pola pengambilan keputusan, dan bahkan cara memberi hukuman atau pujian.
Guru dengan luka batin yang belum terselesaikan cenderung mengulangi pola toxic yang pernah ia alami: mengkritik dengan nada merendahkan, menuntut tanpa membimbing, atau menciptakan jarak emosional dengan siswa.
Hal ini menyebabkan deep learning mandek di permukaan. Alih-alih menciptakan ruang
eksploratif dan reflektif, kelas menjadi kaku dan berorientasi pada ketuntasan administrasi, bukan pertumbuhan manusia.
Solusi: Kesembuhan Batin Guru adalah Pondasi Reformasi Pendidikan
Sudah saatnya pemerintah dan lembaga pendidikan melihat isu kesehatan mental guru
bukan sebagai urusan pribadi, melainkan sebagai pondasi utama keberhasilan transformasi
pendidikan.
Pelatihan-pelatihan tentang teaching skill perlu dibarengi dengan pendekatan healing, mindfulness, terapi trauma ringan, dan pendampingan emosional berkelanjutan.
Beberapa daerah sudah mulai bergerak. Di Sulawesi Selatan, misalnya, Master Education
Center meluncurkan program 'Guru Sembuh, Generasi Tumbuh', yang menggabungkan
pelatihan pedagogi dengan terapi pemulihan luka batin.
Program ini mendapatkan sambutan luar biasa dari ratusan guru yang merasa “akhirnya didengar bukan hanya otaknya, tapi juga hatinya.”
Mari Jujur, Kita Semua Pernah Terluka
Menerapkan deep learning bukan hanya soal kurikulum atau strategi. Ia adalah urusan
jiwa.
Guru yang emosinya sehat akan menciptakan ruang belajar yang penuh kehangatan,
keamanan, dan keberanian untuk berpikir kritis.
Sebaliknya, guru yang masih menyimpan luka batin sebagai beban yang tak pernah diselesaikan, akan menciptakan ruang kelas yang sunyi makna meski terlihat sibuk.
Sudah waktunya kita jujur dalam dunia pendidikan: bahwa kesehatan batin guru bukan
sekadar pelengkap, tapi syarat utama menuju pendidikan yang benar-benar memanusiakan
manusia.***




