POJOKSATU.id - Ribuan guru yang mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025 tengah menunggu hasil substantif yang menjadi tahap awal dalam proses seleksi nasional.
Namun banyak peserta belum memahami bahwa lolos substantif tidak otomatis menjamin lolos PPG.
Setelah tahap substantif diumumkan, peserta harus melewati proses lain yang jauh lebih menantang, yaitu seleksi wawancara.
Pada tahap ini, pemerintah menilai aspek-aspek yang tidak bisa diukur melalui ujian akademik seperti karakter, motivasi, etika, dan kompetensi personal.
Artinya, peserta masih harus bertarung pada babak kedua untuk memastikan kelolosan masuk PPG dalam jabatan.
Tahap wawancara inilah yang sering menentukan siapa yang benar-benar layak dan siap menjadi peserta PPG.
Seleksi Substantif Hanya Menilai Aspek Akademik Peserta
Dalam seleksi substantif, pemerintah menilai kompetensi akademik peserta melalui materi pedagogik, profesional, dan kemampuan dasar mengajar.
Tahap ini digunakan untuk menyaring peserta secara objektif berdasarkan kemampuan kognitif.
Namun tahap substantif tidak menilai karakter, cara berpikir, atau kesiapan emosional seorang guru.
Inilah sebabnya peserta yang lulus substantif tetap harus menjalani wawancara guna melengkapi penilaian.
Banyak guru mengira lolos substantif sudah cukup untuk diterima PPG, padahal masih ada evaluasi lanjutan.
Tahap substantif hanyalah gerbang pertama sebelum memasuki asesmen lebih mendalam.
Wawancara Jadi Penentu Karakter, Etika, dan Profesionalisme Guru
Pada tahap wawancara, tim penguji menggali bagaimana karakter peserta ketika menghadapi masalah nyata di kelas.
Penguji juga menilai kemampuan komunikasi, empati, kemampuan refleksi, serta komitmen terhadap profesi guru.
Peserta yang hanya menguasai teori tetapi tidak mampu menunjukkan sikap profesional berisiko gagal di tahap ini.
Baca Juga: TPG Tidak Cair Meski Sudah Sertifikasi? Ini Proses yang Sering Dilupakan
Wawancara juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk menjelaskan pengalaman mengajar dan alasan kuat ingin mengikuti PPG.
Karena penilaian bersifat langsung, peserta perlu memahami bahwa wawancara merupakan faktor penentu terbesar dalam kelulusan.
Di sinilah kualitas calon guru diuji secara komprehensif.
Tidak Semua Peserta Lolos Wawancara Meski Nilai Substantif Tinggi
Banyak kasus peserta yang nilai substantifnya tinggi namun tidak lolos wawancara karena kurang siap secara mental dan komunikasi.
Baca Juga: Terungkap! Ini Cara Kerja Validasi TPG yang Menentukan Cair Tidaknya Tunjangan Guru
Hal ini menunjukkan bahwa wawancara bukan sekadar formalitas, melainkan seleksi nyata yang menyaring ketulusan, integritas, dan kecakapan personal.
Peserta yang grogi, tidak fokus, atau memberikan jawaban tidak relevan sering kehilangan poin penting.
Sebaliknya, peserta dengan nilai substantif biasa saja namun tampil kuat dalam wawancara justru bisa lolos.
Artinya, setiap peserta memiliki peluang yang sama asalkan mempersiapkan diri dengan baik.
Kuota PPG Terbatas, Tahap Wawancara Menjadi Filter Akhir
Meskipun pemerintah memperbesar kuota PPG setiap tahun, jumlah peserta tetap jauh lebih banyak dibanding kuota nasional.
Karena itu, wawancara digunakan sebagai filter akhir untuk memilih peserta terbaik.
Peserta yang lolos wawancara dinyatakan layak mengikuti PPG dalam jabatan, sementara yang tidak lolos harus menunggu seleksi berikutnya.
Proses ini memastikan hanya guru yang betul-betul siap secara kemampuan dan karakter yang masuk ke program PPG.
Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan kualitas guru tidak hanya bergantung pada kompetensi akademik, tetapi juga integritas dan profesionalisme.
Baca Juga: Perbandingan Lengkap! Begini Perubahan Penghasilan Guru ASN Saat Single Salary Diterapkan
Oleh sebab itu, wawancara menjadi tahap seleksi yang paling menentukan.
Mental, Materi, dan Komunikasi
Untuk menghadapi wawancara dengan percaya diri, peserta perlu mempersiapkan diri lebih matang.
Baca Juga: Teknik Double Cleansing untuk Kulit Berjerawat, Penting atau Berlebihan?
Mulailah dengan mempelajari kembali konsep pedagogik dan teknis pembelajaran sesuai bidang.
Latih kemampuan berbicara di depan kamera atau orang lain untuk meningkatkan kejelasan komunikasi.
Siapkan jawaban reflektif terkait pengalaman mengajar, strategi menghadapi siswa, dan cara menyelesaikan konflik di kelas.
Peserta juga perlu memahami nilai dasar profesi guru dan visi pendidikan nasional.
Dengan persiapan yang cukup, peserta meningkatkan peluang lolos dari tahap wawancara penentu.
Wawancara Adalah Penentu Utama, Bukan Sekadar Formalitas
Lolos substantif memang langkah awal yang penting, tetapi tidak menjamin peserta diterima sebagai calon guru PPG.
Tahap wawancara justru menjadi penentu utama yang menguji karakter, profesionalisme, dan kesiapan peserta menghadapi dunia nyata pendidikan.
Pemerintah memastikan seleksi wawancara dilakukan ketat untuk menjaring calon guru berkualitas.
Peserta harus mempersiapkan diri lebih serius karena tahap inilah yang paling menentukan masa depan mereka di PPG.
Dengan kesiapan mental dan teknis yang baik, peluang untuk lolos PPG 2025 akan jauh lebih besar.***




