POJOKSATU.id – Gelombang antusiasme calon guru mengikuti PPG Prajabatan 2025 membuat sejumlah Tempat Uji Kompetensi (TUK) penuh lebih cepat dari perkiraan.

Akibatnya, banyak peserta terpaksa memilih lokasi ujian di luar kota bahkan luar provinsi tempat tinggal mereka.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial sejak pendaftaran dibuka awal November 2025.

Baca Juga: Pemprov DKI Kebut Normalisasi Kali Krukut untuk Akhiri Banjir Kemang

Warganet, khususnya para peserta PPG, mengeluhkan sistem pemilihan lokasi TUK yang dinilai terbatas dan tidak merata antarwilayah.

 

TUK Jadi Sorotan dalam Seleksi PPG 2025

TUK atau Tempat Uji Kompetensi merupakan lokasi resmi pelaksanaan tes substantif PPG Prajabatan, yaitu tahapan awal seleksi untuk menjadi guru profesional.

Ujian ini digelar secara luring dengan sistem berbasis komputer.

Baca Juga: Catat! Ini Formasi CPNS 2026 yang Bisa Dilamar Lulusan SMA/SMK, Simak Syarat dan Cara Daftarmya

Setiap calon peserta wajib memilih TUK saat mendaftar, dan kuota tiap lokasi dibatasi sesuai kapasitas laboratorium ujian.

Tahun 2025, pemerintah menetapkan kuota nasional PPG Prajabatan sebanyak 19.808 peserta di seluruh Indonesia.

Namun, antusiasme tinggi membuat slot di sejumlah kota besar cepat terisi.

Dari pantauan di forum dan grup calon peserta, TUK di wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara menjadi yang paling cepat penuh hanya dalam beberapa hari setelah pendaftaran dibuka.

 

Peserta Terpaksa Ujian ke Luar Kota

Banyak peserta mengaku harus memilih TUK di luar domisili karena seluruh lokasi di wilayah mereka sudah habis.

“Semua TUK di Tasikmalaya dan Bandung sudah penuh, akhirnya saya ambil di Jakarta Timur. Harus siap berangkat jauh demi bisa ikut seleksi,” ujar Hamdan kepada Pojoksatu.id, salah satu calon guru asal Jawa Barat (Minggu, 09/11/2025).

Baca Juga: SELURUH NAKES, Ini Jadwal, Materi dan Link Pelatihan Pengelola Imunisasi di Puskesmas Angkatan 1, Total 5 SKP dan 36 JPL

Di media sosial, tagar PPGPrajabatan2025 dan TUKPPG sempat menjadi bahan pembicaraan hangat karena banyaknya keluhan serupa dari calon peserta di berbagai provinsi.


Respons dan Penjelasan Resmi

Menurut laman resmi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikdasmen, sistem pemilihan TUK memang dibatasi berdasarkan kapasitas infrastruktur setiap lokasi.

Baca Juga: Panitia Pastikan Nadran Laut Ciparagejaya 2025 Aman dan Bersih

Hal ini untuk memastikan ujian berlangsung serentak dan adil.

Namun, belum ada informasi mengenai penambahan kuota atau pembukaan lokasi tambahan.

Sementara itu, jadwal tes substantif PPG 2025 dijadwalkan berlangsung pada 12–15 November 2025, disusul tahap wawancara pada 3–20 Desember 2025.

 

Ketimpangan Distribusi TUK

Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan akses fasilitas PPG antarwilayah.

Pemerintah perlu memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah mitra di daerah agar distribusi TUK lebih merata pada seleksi tahun berikutnya.


Perjuangan Calon Guru di Tengah Keterbatasan

Meski banyak kendala, semangat peserta tetap tinggi.

Sebagian besar menganggap perjalanan jauh bukan halangan untuk meraih peluang menjadi guru profesional.

“Capek sih, tapi ini kesempatan besar. Saya ingin membuktikan kalau niat jadi guru itu bukan cuma soal lokasi,” ujar Hamdan, Minggu (09/11/2025).

Fenomena ini sekaligus menggambarkan dedikasi generasi muda terhadap profesi guru.

Di tengah sistem yang masih belum sempurna, antusiasme tetap menjadi modal utama.

 

Harapan untuk Pemerintah

Banyak calon guru berharap Kemendikdasmen segera melakukan evaluasi teknis terkait penyediaan TUK.

Baca Juga: Pendaftaran DIES ICD Course 2026 Resmi Dibuka, Pelatihan Eksklusif untuk Dekan dan Pimpinan Fakultas Perguruan Tinggi di Asia Tenggara, Cek Syaratnya

Selain memperluas kapasitas, diperlukan sistem pemilihan yang lebih real-time dan transparan agar peserta bisa mengetahui ketersediaan kursi secara akurat.

Selain itu, beberapa peserta menyarankan agar ke depan pemerintah mempertimbangkan opsi TUK hybrid di daerah tertentu, misalnya bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang sudah memiliki fasilitas ANBK.

Kuota TUK yang habis di banyak daerah menjadi bukti nyata tingginya minat lulusan muda untuk menjadi guru.

Namun, kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam memastikan akses yang lebih adil dan merata bagi semua calon pendidik.

Dengan lebih dari 19 ribu kuota nasional, PPG Prajabatan 2025 tetap menjadi momentum penting untuk regenerasi tenaga pendidik Indonesia.

Hanya saja, agar kesempatan ini terasa setara, penyediaan TUK perlu diperluas dan sistem seleksinya lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan.***