POJOKSATU.id - Literasi dan numerasi menjadi dua kata kunci yang terus menggema di pendidikan Indonesia.

Karena hasil Asesmen Nasional (ANBK) dan survei internasional seperti Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) menunjukkan bahwa kedua kompetensi dasar ini masih menjadi tantangan besar.

Bahkan, banyak pengamat pendidikan menilai bahwa pembenahan literasi dan numerasi adalah salah satu prioritas paling mendesak demi masa depan generasi muda.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Baca Juga: Persiapkan Ini untuk Penilaian Akhir Semester! Contoh Soal dan Pembahasan Materi Teks Laporan Kelas 9 Semester 2 Kurikulum Merdeka

Dalam konteks Asesmen Nasional, literasi berarti memahami, menganalisis, dan menggunakan berbagai jenis teks untuk berpikir secara kritis dan kontekstual.

Sementara itu, numerasi adalah kemampuan berpikir dengan konsep matematika, menghitung, menganalisis data, dan menerapkan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

Keduanya sesungguhnya bukan mata pelajaran terpisah, melainkan kompetensi fundamental yang menjadi fondasi agar siswa dapat sukses di berbagai bidang.

Literasi dan numerasi bersama-sama mendukung pembelajaran sains, IPS, teknologi, dan lain-lain.

Baca Juga: Aset Tak Kunjung Diserahkan, Pemkot Serang Seperti Dibiarkan Menunggu Tanpa Kepastian

Kondisi Literasi dan Numerasi Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data ANBK 2025, banyak sekolah masih menunjukkan skor literasi dan numerasi yang belum optimal.

Dukungan sarana literasi sangat berdampak pada peningkatan skor numerasi dan literasi.

Di beberapa daerah Indonesia, kemampuan numerasi siswa berada di bawah kompetensi minimum.

Data dari PISA 2022 juga mengungkap data yang mengkhawatirkan.

Skor literasi membaca Indonesia turun menjadi 359 dan skor numerasi (matematika) terukur 366.

Meski begitu, Menteri Pendidikan menyatakan bahwa ada peningkatan peringkat dibandingkan PISA 2018.

Catatan ini menegaskan bahwa masalah literasi dan numerasi tidak hanya bersifat lokal, tetapi merupakan tantangan yang pe menyeluruh bagi pendidikan nasional.

Baca Juga: Penyebab Guru Belum Terpanggil PPG Dalam Jabatan Batch 4 Meski Sudah Lolos Administrasi!

Literasi vs Numerasi: Mana yang Lebih Mendesak untuk Pendidikan Indonesia?

Ada argumen kuat bahwa literasi harus jadi prioritas awal.

Tanpa literasi yang memadai, siswa sulit menyerap soal, instruksi, dan teks pembelajaran yang kompleks.

Kemampuan membaca yang lemah akan menghambat semua mata pelajaran lainnya.

Namun, sebagian ahli pendidikan menekankan bahwa numerasi lebih krusial di era modern.

Siswa tidak hanya butuh membaca, tetapi juga memahami data, grafik, dan angka.

Keterampilan ini sangat relevan untuk kehidupan abad ke-21 dan dunia kerja yang semakin didominasi oleh data.

Keduanya saling terkait, soal numerasi berbasis teks memerlukan kemampuan literasi agar dapat diselesaikan.

Sebaliknya, literasi data menuntut pemahaman numerik agar bacaan lebih bermakna.

Baca Juga: Erupsi Beruntun Semeru, Awan Panas Jangkau Besuk Kobokan, Warga Diminta Menjauh 8 KM

Contoh Dampak Lemahnya Literasi dan Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam konteks akademik, siswa mungkin kesulitan memahami soal cerita matematika karena lembar soal menggunakan teks panjang.

Dalam kehidupan sosial, rendahnya literasi dan numerasi dapat menyulitkan siswa memproses informasi publik.

Informasi tersebut sering kali dipenuhi data dan angka.

Kondisi ini juga membuat siswa lebih rentan salah memahami konteks.

Secara ekonomi, kemampuan berhitung yang lemah dapat menimbulkan berbagai persoalan.

Siswa bisa melakukan kesalahan saat mengatur anggaran jajan atau menghitung diskon.

Mereka juga bisa kesulitan ketika harus membuat keputusan finansial sederhana.

Baca Juga: 10 Jurusan Berpeluang Lolos, Simak Prediksi Formasi Populer di CPNS 2026

Apa yang Harus Lebih Dulu Dibenahi?

Untuk mengatasi masalah ini, perbaikan harus dimulai dari dasar:

1. Penguatan di fase awal

Pendidikan dasar (SD) perlu menjadi titik intervensi utama dengan fokus pada pembelajaran literasi dan numerasi yang kontekstual dan menyenangkan.

2. Pelatihan guru

Guru perlu dilatih dengan strategi pengajaran literasi dan numerasi yang efektif.

Pelatihan tersebut sebaiknya dihubungkan dengan contoh kehidupan nyata.

Cara ini membantu siswa memahami relevansi materi yang dipelajari.

Baca Juga: Usai Ngisap Ganja Bareng-bareng, Selama 2 Jam Pelaku Bunuh Teman Dekatnya Bonio Raja Gadja

3. Pendekatan lintas mata pelajaran

Literasi dapat dibangun melalui berbagai mata pelajaran seperti IPS, PKn, atau seni.

Di sisi lain, numerasi bisa dilatih lewat pelajaran sains, olahraga, maupun prakarya.

Setiap mata pelajaran memiliki peluang untuk memperkuat dua kemampuan dasar tersebut.

4. Kolaborasi keluarga

Orang tua dapat memberikan dukungan literasi dan numerasi di rumah melalui aktivitas sederhana.

Kegiatan tersebut dapat berupa berdiskusi tentang berita, membaca bersama, atau menghitung belanjaan harian.

Mengelola anggaran kecil juga dapat membantu anak memahami konsep bilangan dan pengeluaran.

Baca Juga: Dindikbud Klarifikasi Soal Pengusiran Wartawan Di SMPN 19 Tangsel

5. Pemanfaatan teknologi

Platform digital adaptif dapat digunakan sebagai media pembelajaran literasi dan numerasi.

Video interaktif juga mampu membantu siswa memahami konsep dengan lebih mudah.

Selain itu, simulasi data dapat membuat aktivitas belajar terasa lebih menarik dan efektif.

Pada dasarnya, literasi dan numerasi bukan kompetensi yang bisa diprioritaskan satu atas yang lain, karena keduanya sama penting dan saling menguatkan.

Pembenahan harus dilakukan secara simultan untuk membangun fondasi belajar yang kokoh.

Baca Juga: Tidak Ikatan Dinas dan Belum Tentu PNS, Begini Prospek Kerja STPN Sleman, Dibutuhkan Pemerintah dan Sektor Swasta se Indonesia

Perbaikan literasi dan numerasi di sekolah, rumah, dan lingkungan belajar adalah kunci agar peserta didik siap menghadapi era informasi dan data.

Jika kedua kompetensi dasar ini dikuasai, siswa akan lebih siap bersaing secara global dan berkontribusi secara produktif dalam masyarakat. ***