POJOKSATU.id - Tumpukan limbah ban yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan ternyata masih menyimpan nilai ekonomi.
Peluang itulah yang dilihat Kayla Kwok, Nabil Sachio Refat, dan Abyana Zahida, tiga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
Ketiganya membawa gagasan tersebut dalam kompetisi Bioenergy Talent 2026 yang diselenggarakan Aspebindo (Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia).
Alih-alih melihat ban bekas hanya sebagai sampah, mereka mencoba mengolahnya kembali melalui teknologi tyre pyrolysis.
Baca Juga: Resto Kuburan
Proses tersebut dilakukan dengan memanaskan limbah ban dalam kondisi minim oksigen.
Material yang terkandung di dalamnya kemudian dapat diuraikan dan dipulihkan menjadi sejumlah produk bernilai guna.
Beberapa hasil yang dapat diperoleh antara lain Recovered Carbon Black (rCB), zinc, pyrolysis oil, dan steel.
Menariknya, ketiga mahasiswa ini justru datang dari latar belakang ilmu ekonomi, bukan teknik.
Baca Juga: Tak Perlu Bingung Cari Tempat Nongkrong Malam, 5 Taman Jakarta Ini Buka 24 Jam
Perbedaan keilmuan tersebut sempat menjadi tantangan ketika mereka bertemu peserta lain yang memiliki latar belakang teknis.
Namun, kondisi itu justru membuka cara pandang baru.
Mereka melihat persoalan lingkungan tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sebuah solusi dapat memberikan dampak sekaligus mempunyai model bisnis yang layak dijalankan.
Dari situlah konsep pengolahan limbah ban dikembangkan lebih jauh.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau September 2026 Pertanda Megathrust Selat Sunda? Ini Faktanya
Menurut mereka, keberlanjutan tidak cukup hanya dengan menghasilkan solusi yang baik bagi lingkungan.
Sebuah inovasi juga perlu memiliki nilai ekonomi dan model usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Melalui tyre pyrolysis, mereka melihat adanya peluang untuk menghasilkan beberapa jenis produk sekaligus membuka multiple revenue streams.
Dengan pendekatan tersebut, limbah ban tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai beban lingkungan.
Baca Juga: Hari Sudoku Internasional 9 September, Ternyata Permainan Ini Bukan Berasal dari Jepang
Material yang sebelumnya terbuang justru dapat dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk menciptakan nilai.
Perjalanan mengikuti Bioenergy Talent 2026 juga memberikan pengalaman lebih luas bagi Kayla, Nabil, dan Abyana.
Mereka berkesempatan berdiskusi serta menerima masukan dari peserta dan berbagai pemangku kepentingan.
Mereka juga mendapat kesempatan mendengarkan langsung pandangan Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI mengenai isu sustainability di Indonesia.
Perpaduan perspektif lingkungan, teknologi, dan ekonomi tersebut membawa tim mahasiswa FEB UI meraih juara pertama Bioenergy Talent 2026, sebuah kompetisi inovasi dan solusi nyata di sektor bioenergi serta ekonomi hijau.***




