POJOKSATU.id - Liburan akhir tahun sering kali menjadi momen paling ditunggu keluarga. Anak-anak antusias, orang tua penuh rencana, dan koper pun disiapkan sejak jauh hari.

Namun di balik semangat itu, perjalanan panjang di jalan sering berubah menjadi tantangan tersendiri, terutama saat liburan bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru.

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, pada periode liburan akhir tahun, mobilitas masyarakat Indonesia meningkat signifikan hingga puluhan juta perjalanan.

Menariknya, survei keselamatan transportasi mencatat lebih dari 60 persen perjalanan liburan dilakukan bersama keluarga inti, termasuk anak-anak.

Artinya, sebagian besar kendaraan di jalan membawa penumpang usia dini yang memiliki kebutuhan khusus selama perjalanan.

Baca Juga: Panduan Lokasi SPBU dan Rest Area Jalur Selatan Jawa Barat untuk Liburan Akhir Tahun dan Tahun Baru

Di sinilah persoalan mulai terasa. Anak lebih cepat bosan, sensitif, dan mudah lelah ketika harus duduk lama di kendaraan. Jika tidak disiapkan dengan baik, perjalanan liburan yang seharusnya menyenangkan justru memicu stres sejak di jalan.

Beberapa faktor membuat perjalanan liburan akhir tahun bersama anak terasa lebih berat dibanding hari biasa.

Durasi perjalanan lebih panjang
Saat Nataru, waktu tempuh bisa bertambah 20–50 persen akibat kemacetan. Bagi anak, tambahan waktu ini sangat terasa.

Rutinitas anak berubah
Jam makan dan tidur bergeser. Studi perilaku anak menunjukkan perubahan jadwal bisa meningkatkan rewel hingga dua kali lipat.

Lingkungan yang tidak familiar
Suara bising, panas, dan kondisi sempit di kendaraan membuat anak lebih cepat lelah secara emosional.

Baca Juga: Panduan Lokasi SPBU dan Rest Area Jalur Pantura Jawa Barat – Jawa Tengah untuk Liburan Akhir Tahun dan Tahun Baru, Banyak Rest Area yang Keren

Kenai jam rawan yang sebaiknya dihindari bersama anak. Memilih waktu berangkat menjadi kunci perjalanan yang lebih tenang.

Pukul 09.00–15.00
Ini adalah jam favorit keluarga lain memulai perjalanan. Kepadatan tinggi membuat anak lebih lama terkurung di kendaraan.

Pukul 17.00–22.00
Anak cenderung lelah dan mengantuk, sementara arus lalu lintas kembali padat.

H-2 hingga H+2 libur besar
Pada periode ini, volume kendaraan bisa melonjak lebih dari 40 persen dibanding hari normal.

Dengan persiapan yang tepat, perjalanan panjang tetap bisa dilalui dengan nyaman.

Baca Juga: Rekomendasi SPBU dan Rest Area Tol Trans Jawa untuk Liburan Akhir Tahun dan Tahun Baru, Ini Lokasi yang Buka 24 Jam

Berangkat di jam ramah anak
Dini hari sebelum pukul 06.00 sering menjadi waktu ideal. Anak masih mengantuk dan jalan relatif lengang.

Siapkan jeda istirahat terencana
Idealnya berhenti setiap 2–3 jam. Penelitian keselamatan berkendara menyebut jeda rutin menurunkan tingkat kelelahan hingga 30 persen.

Bawa bekal favorit anak
Camilan sehat dan minuman membantu menjaga mood tetap stabil, terutama saat terjebak macet.

Sediakan hiburan sederhana
Buku cerita, mainan kecil, atau lagu favorit jauh lebih efektif daripada layar penuh sepanjang perjalanan.

Libatkan anak dalam perjalanan
Ajak anak mengenali rute, menghitung kendaraan, atau melihat pemandangan. Aktivitas kecil ini membantu mengurangi rasa bosan.

Baca Juga: DAM Tebar Promo Spesial Motor Honda Sepanjang Desember 2025

Banyak orang tua terlalu fokus pada tujuan, lupa bahwa perjalanan adalah bagian dari liburan itu sendiri.

Memaksakan jadwal ketat, menunda istirahat, atau mengabaikan tanda lelah pada anak justru meningkatkan risiko konflik di dalam kendaraan.

Anak sangat peka terhadap emosi orang dewasa. Ketika orang tua mulai tegang karena macet, anak cenderung ikut gelisah. Sebaliknya, suasana tenang dan komunikasi ringan terbukti membantu anak beradaptasi lebih baik selama perjalanan panjang.

Liburan akhir tahun bersama anak memang membutuhkan energi ekstra. Namun dengan memahami jam rawan, mengenali batasan anak, dan menyiapkan perjalanan secara realistis, jalan panjang tidak harus menjadi sumber stres. ***