POJOKSATU.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Pada ajang Anugerah Diktisaintek 2025 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta, Jumat (19/12/2025) lalu, salah satu dosen ITB berhasil meraih penghargaan bergengsi kategori Dosen Berdampak.
Capaian tersebut diraih oleh Dosen Program Studi Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Dr.rer.nat. Suliskania Nurfitri, S.Si., M.Si.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi akademik yang dinilai memberikan dampak nyata bagi pendidikan tinggi, riset, dan masyarakat.
Anugerah Diktisaintek 2025 sendiri merupakan ajang tahunan yang memberikan penghargaan kepada perguruan tinggi maupun individu atas kinerja tridarma perguruan tinggi.
Pada kategori Dosen Berdampak, proses pemilihan dilakukan langsung oleh kementerian berdasarkan penilaian menyeluruh terhadap kiprah dan kontribusi penerima.
Dalam rilis yang ditayangkan portal resmi itb.ac.id, Senin (13/1/2026), informasi awal mengenai terpilihnya Dr. Suliskania sebagai penerima penghargaan sebenarnya disampaikan pada Oktober 2025.
Sementara seremoni penganugerahan dilaksanakan pada Desember 2025 dan mempertemukan para dosen terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Waktu itu saya benar-benar kaget. Saya tidak tahu sebelumnya, tiba-tiba mendapat informasi bahwa saya terpilih dalam kategori dosen berdampak,” ujar Dr. Suliskania.
Baca Juga: DPR Sesumbar KUHP Baru Lebih 'Berkeadilan' Setelah Vonis Laras Faizati Langsung Bebas
Menurutnya, makna dosen berdampak tidak hanya diukur dari capaian riset atau prestasi akademik semata.
Kontribusi dalam menginspirasi mahasiswa, membangun keilmuan secara konsisten, hingga peran kecil yang dilakukan berkelanjutan juga menjadi bagian dari dampak tersebut.
Di luar aktivitas pengajaran, Dr. Suliskania aktif mengembangkan riset melalui berbagai skema pendanaan nasional dan internasional.
Saat ini, ia terlibat dalam riset lintas tahun yang didukung The Asahi Glass Foundation serta Program EQUITY LPDP dengan skema riset penambahan QS by subject.
Riset tersebut berfokus pada proyeksi kondisi perairan Indonesia berbasis model iklim.
Baca Juga: Asta Cashtry
Riset yang dijalankan juga melibatkan mahasiswa secara aktif, termasuk mahasiswa sarjana.
Mereka dilibatkan sejak tahap awal penelitian hingga proses penyusunan publikasi ilmiah, sebagai bagian dari upaya pembinaan generasi akademisi muda.
Perjalanan akademik tersebut dijalani seiring dengan berbagai tanggung jawab lainnya sebagai dosen.
Dr. Suliskania menyadari bahwa kontribusi berbasis sains tidak selalu memberikan dampak yang langsung dirasakan masyarakat.
Namun, konsistensi dalam membangun keilmuan dan membimbing mahasiswa diyakininya menjadi pondasi penting bagi dampak jangka panjang.
“Penghargaan ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga menjadi tanggung jawab. Saya merasa perlu terus menjaga dan meningkatkan dampak dari apa yang saya lakukan sebagai dosen,” tuturnya.
Baca Juga: 10 Bulan Kepemimpinan Om Zein, Jalanan Purwakarta Mulai Mulus Usai Bertahun-tahun Rusak
Selain riset dan pengajaran, Dr. Suliskania juga aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Salah satunya melalui program edukasi bagi pembudidaya ikan air tawar di sekitar Waduk Jatiluhur.
Kegiatan ini berupa pelatihan awal pemanfaatan bahan alternatif pakan berbasis sumber organik yang diharapkan dapat berkembang menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.
Bagi Dr. Suliskania, penghargaan Dosen Berdampak menjadi pengingat bahwa setiap kontribusi memiliki nilai, meskipun kerap tidak disadari secara langsung.
“Kadang kita merasa apa yang kita lakukan tidak signifikan. Tapi ternyata bisa saja ada manfaat bagi orang lain tanpa kita sadari. Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berkembang,” ujarnya. ***




