POJOKSATU.id - Universitas Negeri Surabaya menjadi lokasi penyelenggaraan Pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara untuk penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dari PPAPT Kemdiktisaintek, pada Sabtu 1 November 2025.
Beasiswa ADik menyasar mahasiswa dari Papua, wilayah 3T, dan putra-putri TKI di luar negeri agar dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Martadi, Wakil Rektor I Unesa, membuka acara tersebut sambil menekankan urgensi penguatan karakter kebangsaan bagi peserta beasiswa afirmasi.
Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bahas Raperda Seksual Berisiko, PSI Ingatkan Jangan Ada Kriminalisasi Moral
"Kalian adalah the rising star, matahari harapan bangsa. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan negara ini," ujar Murtadi dalam sambutan pembukaan.
Yonny Koesmaryono dari Tim Teknis PPAPT menjelaskan, program ADik adalah wujud keberpihakan negara dalam membuka akses kuliah bagi mahasiswa asal Papua, 3T, dan anak TKI.
"Program ADik bukan sekadar memberikan akses kuliah, tetapi juga membangun kapasitas diri, karakter, dan kepemimpinan generasi muda Indonesia agar mampu menjadi agen pemersatu di tengah keberagaman," ujar Yonny.
Baca Juga: Raja Keraton Surakarta Pakubowono XIII Derita Komplikasi Gula Darah Tinggi, Ini Nama-nama Istrinya
Yonny mendorong penerima beasiswa untuk memiliki disiplin, integritas, dan semangat belajar tinggi sebagai representasi teladan kebinekaan Indonesia di kampus.
Ketua Panitia, Muhammad Farid Ilhamuddin, menyebut kegiatan ini sebagai wujud komitmen perguruan tinggi penyelenggara ADik dalam membina karakter mahasiswa afirmasi.
"Kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam semangat kebangsaan dan solidaritas sosial," ujarnya.
Baca Juga: Heboh Mobil Tangki BBM Terbakar di Cianjur, Pertamina Pastikan Tak Ganggu Pasokan
Kegiatan pembinaan wawasan kebangsaan ini diikuti oleh 224 mahasiswa ADik yang tersebar di 16 perguruan tinggi di Jawa Timur.
Wakil Rektor III Unesa, Bambang Sigit Widodo, dalam sesi interaktif menyoroti tantangan Gen Z menjaga nasionalisme di era global, bukan hanya soal penguasaan teknologi.
"Indonesia adalah taman keberagaman. Perbedaan bukan untuk diseragamkan, tetapi untuk disatukan. Ketika mahasiswa kehilangan daya kritisnya, di situlah roh mahasiswa hilang," ujar Warek Bambang.
PPAPT dan Unesa berharap lulusan program afirmasi ini menjadi agen perubahan yang memegang teguh toleransi, gotong royong, dan bela negara.
Baca Juga: Deretan Film Populer Onadio Leonardo, dari Komedi hingga Psikopat Sadis
"Bangun Indonesia dengan prestasi, bukan provokasi. Kibarkan merah putih di manapun, dengan cara apapun," tutup Bambang.
Pembinaan ini membekali mahasiswa ADik dengan wawasan kebangsaan dan ketangguhan diri, sebagai langkah awal mencetak generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045.***




