POJOKSATU.id - Pendidikan menjadi senjata paling strategis untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Jika tak ada pendidikan, pembangunan hanya menjadi jargon tanpa masa depan.

Di sebuah sudut desa yang sering luput dari peta pembangunan, seorang pemuda bernama Agus Akmaludin memilih menjadi cahaya.

Baca Juga: Seleksi CPNS 2026 Makin Fleksibel, Tapi Isu 400 Ribu Formasi Dibantah, Ini Fakta Sebenarnya

Bukan dengan pangkat, bukan dengan fasilitas, melainkan dengan tekad yang membuat anak-anak kembali percaya bahwa mimpi bukan hanya milik kota.

Agus Akmaludin seorang pemuda kelahiran Bandung, 26 November 1993 menjadi tombak perjuangan lahirnya pendidikan di wilayah yang kurang sentuhan akan hadirnya akses pendidikan yang berkualitas.

Agus mendirikan sekolah bernama SMP Djuantika yang terletak di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Motivasi Agus mendirikan SMP Djuantika ini karena "balas dendam".

Baca Juga: Resmi Dilantik Hari Ini! PPPK Paruh Waktu Sulsel Langsung Terima Gaji Mulai 1 Oktober, Begini Aturan TMT-nya

Dahulu setelah lulus SMP Ayah Agus memintanya untuk berhenti sekolah karena alasan biaya, Ayah Agus bekerja sebagai guru ngaji dan buruh tani.

Sejak SMP Agus memiliki nilai tertinggi dan bisa masuk SMA favorit, ia pun bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA.

Akhirnya, Agus dibiayai oleh pamannya semasa SMA, pengalaman itu yang membekas di dalam diri Agus.

Baca Juga: The Green Peak ARTOTEL Curated Suguhkan Rangkaian Liburan Akhir Tahun Paling Meriah 2025!

Ia pun membalaskan dendamnya agar tidak ada lagi anak-anak di lingkungannya yang terhalang biaya sekolah padahal memiliki keinginan kuat untuk belajar.

Hal itulah yang membuat Agus dan teman-temannya membuat misi untuk menyelamatkan anak-anak yang terancam putus sekolah.

Kesibukan Agus saat ini sebagai kepala sekolah dan Guru di SMP Djuantika, selain itu juga ia mengembangkan lebaga pelatihan edumind dan co-founder Tala Kembara lembaga pelatihan anak muda berbasis pengembaraan.

Baca Juga: Tim Gabungan SAR Dikerahkan untuk Mencari 2 Pemancing yang Hilang Terseret Ombak di Pantai Cikeueus Sukabumi

Alasan awal Agus dan teman-temannya membangun SMP Djuantika yang sebelumnya bernama Sekolah Rakyat Cicalengka adalah karena banyaknya anak-anak di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka yang putus sekolah.

Mereka putus sekolah karena akses pendidikan setingkat SMP yang jauh, dan latar belakang ekonomi masyarakat yang membuat anak-anak kesulitan mendapatkan akses pendidikan.

Untuk sekedar berangkat ke sekolah pun para orang tua harus mencari sekitar 30 ribu rupiah untuk ongkos ojeg, sedang mayoritas anak yang putus sekolah orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani atau kerja serabutan lainya.

Baca Juga: Kenapa Guru Lain Sudah Cair TPG Sementara Anda Belum? Simak Penyebab Validasi Tak Serentak

Hal tersebutlah itulah yang membuat Agus dan teman-temannya mendirikan Sekolah Rakyat Cicalengka sebelum beralih jadi SMP Djuantika.

Dahulu sekolah rakyat ini dinamai oleh masyarakat karena dibangun dengan semangat kerakyatan, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sejak tahun 2018 seiring izin resmi turun dari Kemendikbud Sekolah Rakyat Cicalengka berubah nama menjadi SMP Djuantika.

Baca Juga: AWAS PENIPUAN! Modus Rekrutmen Calon Pilot Dibongkar Polres Bandara Soetta, Uang Rp1,3 miliar Hasil Keuntungan Diamankan

Nama Djuantika sendiri merupakan gabungan dari dua pahlawan yang memiliki sejarah dengan Cicalengka yakni Ir. H. Djuanda dan Rd. Dewi Sartika.

Dalam tahap proses pembangunan SMP Djuantika Agus dan teman-temannya tentu menghadapi rintangan ketika berada di lapangan.

Awalnya Agus dan teman-temannya merasa kesulitan untuk meyakinkan orang tua tentang pentingnya pendidikan.

Baca Juga: Profil Cucun Ahmad Syamsurijal dan Sorotan Tajam atas Ucapannya soal Ahli Gizi Program MBG

Kebanyakan anak-anak lulus SD bisa bekerja di ladang membantu orang tua atau bekerja lain yang menghasilkan uang, sekarang mereka diajak untuk melanjutkan sekolah.

Respon awal masyarakat terbagi menjadi pro dan kontra, yang pro mendukung dan ikut membantu membangun bangunan semi permanen, dan kontra karena merasa skeptis dan curiga.

Masyarakat curiga karena ditakutkan membawa misi tertentu, namun setelah berjalan berbulan-bulan dan sekolah mulai menorehkan prestasi masyarakat yang kontra mulai mendukung program dan gerakan sekolah ini.

Baca Juga: Ternyata Begini Jejak Karier Cucun Ahmad Syamsurijal Dari Santri NU hingga Wakil Ketua DPR Sampai Sekarang Malah Dihujat!

Hingga saat ini mayoritas masyarakat mendukung karena merasakan manfaatnya bagi anak-anak mereka. Hingga saat in, sudah lebih dari 500 anak yang terselamatkan dari putus sekolah.

Program yang dibawakan Agus dan teman-temannya pun tidak hanya menyasar anak-anak usia sekolah, tetapi juga kepada orang tua mereka.

Beberapa program yang dibawakan antara lain seperti kelas parenting dalam bentuk majelis taklim, penyaluran bantuan kepada keluarga yang membutuhkan, pemeriksaan kesehatan gratis dan program lainnya.

Baca Juga: Apakah PPPK Paruh Waktu Juga Dapat Gaji Pensiun? Ini Aturan Resmi Sesuai UU ASN 2023

Program-progam tersebut bermaksud untuk meyakinkan masyarakat bahwa dengan diadakannya pembangunan ini hendak membantu memberdayakan mereka.

Hingga saat ini guru dan siswa SMP Djuantika sudah mendapatkan beragam prestasi dari Lomba Cerdas Cermat Mandiri hingga Lomba hafiz quran.

Agus berharap, dengan di bangunnya SMP Djuantika ini dapat menciptakan pendidikan yang berkualitas secara merata hingga pelsok Desa. sehinga tidak ada ketimpangan yang signifikan antara SDM kota dan Desa.

Baca Juga: Tes Ulang hingga Nilai 2 Tahun, CPNS 2026 Lebih Fair, Tapi Kok Formasi Masih Rahasia?

SMP Djuantika saat ini sudah memberikan beasiswa kepada siswa terbaik lulusannya yang membutuhkan biaya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA, harapannya SMP Djuantika bisa terus memberikan dampak bagi pendidikan di daerahnya.

Berkat program inovasinya "Menyelamatkan Anak Desa dari Putus Sekolah" Agus mendapatkan penganugerahan sebagai pemenang Satu Indonesia Awards dari PT Astra Internasional. tbk pada tahun 2019.

Tentu hal ini merupakan apresiasi sangat luar biasa yang astra berikan kepada setiap orang yang memberikan dampak positif untuk pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: 189 Kades Kepung Gedung DPRD Banyuwangi, Protes Tuduhan 80 Persen Korupsi Bansos

Agus pun merasa senang dan bersyukur, hadiah yang diberikan oleh astra digunakan untuk pengembangan pembelajaran di SMP Djuantika.

Selain itu, apresiasi ini juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak desa di wilayah Cicalengka.

Tak lepas dari itu, penghargaan terbesarpun selalu datang dari orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang mengetahui kekurangan dan kelebihanya.

Baca Juga: Tes Ulang hingga Nilai 2 Tahun, CPNS 2026 Lebih Fair, Tapi Kok Formasi Masih Rahasia?

Penghargaan merekapun terasa sangat besar dan berarti. Dan itu sudah Agus dapatkan dari masyarakat dan anak-anak di daerahnya.

Semoga perjuangan Agus dalam membangun pendidikan selalu lancar dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah karena terkendala biaya.

Sebab, Pendidikan merupakan tombak untuk pembangunan bangsa dan sumber daya manusia yang berkualitas.

Baca Juga: Redenominasi Rupiah Mulai Disiapkan: Apa Dampaknya ke Uang Tunai dan Tabungan Bank?

"Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di Desa" Bung Hatta
#SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia. ***