POJOKSATU.ID - Kebijakan kontroversial Dedi Mulyadi, mantan Gubernur Jawa Barat, memicu perdebatan sengit.

Pelarangan wisuda TK hingga SMA dan study tour menuai protes pelajar, tetapi disambut baik oleh orang tua.

Dedi Mulyadi beralasan, kebijakan ini meringankan beban finansial orang tua dan mengurangi risiko kecelakaan siswa.

Baca Juga: Dedi Mulyadi TAK GENTAR DITEKAN Hercules, Dinilai MENJAUH, GRIB Jaya Mau KERAHKAN MASSA ke Gedung Sate, KDM Tetap COOL

Aturan ekstrem lainnya adalah pengiriman siswa nakal ke barak militer.

Orang tua yang kesulitan mendidik anak dapat melaporkan ke pihak berwenang.

Siswa yang terlibat tawuran juga akan dikirim ke pelatihan militer. Kejadian ini sempat terjadi di Purwakarta.  

Baca Juga: Ini 4 KRITERIA SISWA Dididik Militer Ala Kang Dedi, Siswa Sering Tawuran, Mabuk-mabukan, Kecanduan Gim, Sering Bolos Sekolah, Cek JADWAL dan METODEnya

Larangan siswa membawa kendaraan bermotor ke sekolah juga diterapkan.

Siswa diwajibkan berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, seperti pemandangan di era sebelum maraknya kendaraan bermotor.

Kebijakan ini bertujuan mengurangi kecelakaan pelajar di bawah umur dan meringankan beban orang tua.

Baca Juga: 15 UMKM Fesyen Jawa Barat Siap Ekspor, BI Targetkan Produk Lokal Tembus Pasar Global

Kebijakan-kebijakan ini menciptakan polarisasi.

Pelajar merasa terbebani, sementara orang tua merasa terbantu.

Kontroversi ini mencerminkan dampak kebijakan publik yang berbeda pada kelompok masyarakat yang berbeda.***