POJOKSATU.id — Program Sekolah Rakyat besutan Kementerian Sosial (Kemensos) menghadirkan konsep pendidikan yang unik, dengan tujuan utama menyamakan kemampuan belajar siswa dari berbagai latar belakang.
Salah satu langkah kuncinya adalah penerapan masa matrikulasi, sebuah periode awal di mana seluruh siswa dibekali materi dasar secara intensif agar memiliki pondasi pemahaman yang setara sebelum memasuki pelajaran reguler.
Matrikulasi ini menjadi krusial mengingat mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin ekstrem, yang sebelumnya kerap mengalami ketertinggalan pendidikan. Untuk itu, kurikulum pun tidak disamakan dengan sekolah umum.
“Tailor-made artinya disesuaikan dengan kondisi fisik, mental, dan sosial siswa,” jelas pihak Kemensos, menegaskan bahwa materi belajar dirancang sesuai kebutuhan riil anak-anak tersebut.
Baca Juga: Usai Bunuh Karya Listyanti Pertiwi, Aditya Hanafi Tampak Bahagia saat Nikah dengan Teman Korban
Berbeda dari kurikulum nasional yang cenderung seragam, kurikulum Sekolah Rakyat bersifat kontekstual. Penyesuaian ini mencakup metode pengajaran yang lebih fleksibel, penggunaan media belajar yang kreatif, hingga penyisipan materi keterampilan hidup.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mengejar ketertinggalan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, dan rasa percaya diri siswa.
Langkah Kemensos ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan nyata negara pada kelompok masyarakat yang termarginalkan dari sistem pendidikan arus utama.
Dengan menyamakan titik awal kemampuan belajar, Sekolah Rakyat membuka kesempatan yang lebih adil bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.***



