POJOKSATU.id — Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik. Di madrasah, nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan cinta menjadi bagian penting yang terus ditanamkan.
Inilah semangat yang dibawa Kurikulum Cinta, pendekatan pendidikan khas Kementerian Agama yang kini mulai diterapkan di berbagai madrasah, termasuk di wilayah Jakarta Utara.
Namun, berbeda dengan penyajian berita biasa, informasi ini penting bagi guru dan tenaga pendidik madrasah sebagai referensi dalam mengembangkan pembelajaran berbasis nilai.
Kurikulum Cinta bisa menjadi salah satu cara mengintegrasikan penguatan karakter secara aplikatif dalam pembelajaran intrakurikuler dan kegiatan madrasah lainnya.
Baca Juga: 10 Permainan Tradisional yang Bikin Anak Aktif, Cerdas, dan Jauh dari Gadget
Kurikulum Cinta adalah kurikulum tematik khas madrasah yang menanamkan enam nilai utama:
1. Cinta kepada Allah
2. Cinta kepada Rasul
3. Cinta kepada diri sendiri
4. Cinta kepada sesama
5. Cinta kepada lingkungan
6. Cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca Juga: Apa Itu Jambore Pramuka? Simak Sejarah dan Makna Ajang Bergengsi Ini
Nilai-nilai ini dapat dimasukkan ke dalam perangkat pembelajaran guru dalam bentuk modul ajar, proyek P5RA, hingga kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan rohis. Pendekatan ini cocok untuk semua jenjang: MI, MTs, dan MA.
Kepala Kelompok Kerja Pengawas (Kapokjawas) Kankemenag Jakarta Utara, Sutikno, menyampaikan hal itu dalam kegiatan Bimbingan Teknis Deep Learning dan Kurikulum Cinta di MTsN 5 Jakarta (1/8/2025).
Menurutnya, Kurikulum Cinta bukan hanya tentang pendekatan emosional, tetapi merupakan kerangka kerja pendidikan yang menyatukan aspek kognitif, afektif, dan spiritual siswa.
Guru madrasah diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian target akademik, tapi juga mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam semua mata pelajaran.
Bahkan pelajaran seperti matematika dan IPA bisa menggunakan konteks cinta lingkungan atau kasih sayang dalam soal dan kegiatan projeknya.
Baca Juga: Pemerintah Kini Gunakan DTSEN Sebagai Basis Utama dalam Menentukan Calon Penerima Bansos
Integrasi Kurikulum Cinta dengan pendekatan Deep Learning dari Kemendikbud juga menjadi penting.
Deep Learning mendorong siswa untuk berpikir kritis, reflektif, dan berkarakter. Jika dipadukan, siswa tidak hanya menjadi cerdas, tapi juga peduli dan berempati.
Bagi guru madrasah, Kurikulum Cinta dapat dijadikan panduan dalam merancang asesmen sikap, refleksi harian siswa, hingga penguatan profil pelajar rahmatan lil 'alamin (P5RA).
Ini sejalan dengan arah Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, makna, dan karakter.
Baca Juga: Menkeu: Rp750 Triliun APBN 2025 Dialokasikan untuk Pendidikan, Kunci Penguatan Sains dan Teknologi
Kesimpulannya, Kurikulum Cinta bukan sekadar proyek sesaat, tapi fondasi untuk membentuk generasi madrasah yang unggul secara ilmu dan akhlak.
Dengan integrasi yang tepat, madrasah dapat menjadi ruang belajar yang penuh kasih, makna, dan dampak nyata.
"Apapun pelajarannya, bungkusnya harus cinta," ujar Sutikno dengan penuh keyakinan.***
Kirim komentar dan baca artikel Pojoksatu.id lainnya melalui aplikasi kami di bawah ini:




