POJOKSATU.id - Kulit bawang merah yang biasanya berakhir di tempat sampah ternyata bisa diolah menjadi pewarna alami yang memiliki nilai ekonomi.

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi pewarna batik jumputan berbahan kulit bawang merah bernama Allium Dye by Nafuma.

Inovasi tersebut merupakan bagian dari Proyek Kepemimpinan PPG UMM. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggandeng 25 anggota Kelompok Tani Wanita (KWT) Putri Pandan Wangi di Balai Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Rabu (16/9/2026).

Para anggota KWT diajak mempraktikkan secara langsung proses pengolahan dan ekstraksi kulit bawang merah yang sebelumnya menjadi limbah hingga menghasilkan pewarna alami yang dapat digunakan.

Baca Juga: Lomba OSN 2026 Mulai Digelar di UMM, 297.955 Siswa Mendaftar dan 570 Peserta Lolos ke Babak Final

Kandungan Kulit Bawang Merah Jadi Pewarna
Ketua Kelompok PPG UMM Aminatus Zuhriah menjelaskan, kulit bawang merah memiliki kandungan pigmen alami, terutama antosianin dan flavonoid.

Antosianin dapat menghasilkan warna merah hingga keunguan dan sensitif terhadap perubahan tingkat keasaman atau pH.

Sementara flavonoid turut memberikan warna sekaligus memiliki sifat antioksidan.

Hasil ekstraksi kulit bawang merah dapat menghasilkan warna kecokelatan hingga kemerahan.

Pewarna tersebut kemudian diaplikasikan pada kain menggunakan teknik jumputan.

Baca Juga: Beasiswa Umm Al-Qura University Arab Saudi, Kuliah di Mekah Gratis untuk Mahasiswa Internasional

Dengan proses tersebut, kulit bawang merah yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama untuk menghasilkan pewarna alami bagi produk tekstil.

Nama Allium Dye Punya Makna
Inovasi ini juga memiliki identitas produk yang disebut Allium Dye by Nafuma.

Nama Allium dipilih karena merujuk pada genus dalam klasifikasi ilmiah tumbuhan bawang-bawangan.

Sementara Dye berarti pewarna dalam bahasa Inggris.

“Nama ini kami pilih karena ingin menunjukkan bahwa bahan utama produk berasal dari bawang-bawangan dan hasil akhirnya berupa pewarna alami,” jelas Aminatus.

Proyek tersebut dikembangkan bersama sembilan anggota lainnya, yakni Ahmad Al Hafidz Ibnu Ruhanis, Faradia Syahfitri, Mila Rosalia Almahgfiro, Muhamad Mahrus Ali, Muhammad Nurudin Wicaksono, Muhammad Rizky Firmansyah, Nabila Aulia Rahma, Nishfatul Lailiyah, dan Siti Fatimatuh Zahro.

Dari Limbah Jadi Karya Bernilai
Mengusung tagline “From Waste to Art”, Allium Dye by Nafuma tidak hanya menawarkan cara memanfaatkan limbah, tetapi juga menghubungkan kreativitas dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca Juga: Profesor UMM Masuk Jajaran Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia, Raih Predikat World Top 5% Scientist 2025

Kulit bawang merah yang sebelumnya tidak bernilai diubah menjadi pewarna alami untuk menghasilkan karya batik jumputan dengan nilai estetika sekaligus peluang ekonomi.

Kolaborasi mahasiswa dan KWT tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produk secara berkelanjutan.

Keterampilan yang diperoleh masyarakat juga dapat menjadi modal untuk memanfaatkan limbah rumah tangga maupun pertanian menjadi bahan baku produk kreatif yang lebih ramah lingkungan.***