POJOKSATU.id - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar instrumen untuk mengelola keuangan negara, tetapi menjadi fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan Indonesia Maju 2045.

Pesan itu disampaikan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Prof. (H.C.) Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc., Ph.D., saat memberikan kuliah umum di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jumat 3 Juli 2026.

Dalam kuliah bertema "APBN untuk Indonesia Maju: Menjaga Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan dan Pembangunan", Purbaya menjelaskan bahwa APBN memiliki peran strategis menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan sosial-ekonomi masyarakat di tengah berbagai tantangan global.

Baca Juga: Surplus Perdagangan Indonesia Menyusut Tajam, Mendag Sebut Sektor Nonmigas Masih Jadi Penopang

Ia mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sebagai salah satu pijakan menuju Indonesia Emas 2045.

Target tersebut akan didukung melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sektor pendidikan, penciptaan lapangan kerja, pengembangan wirausaha dan startup, hingga percepatan industrialisasi nasional.

Menurut Purbaya, langkah tersebut juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sehingga daya saing Indonesia di pasar global semakin meningkat.

Baca Juga: WhatsApp Alami Gangguan Riwayat Obrolan di iPhone, Begini Cara Memulihkan Chat yang Hilang

Ia turut menekankan pentingnya membangun ekosistem industri berbasis talenta dengan menyelaraskan pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan SHARE (Social, Humanities, Arts for People, Religious Studies, Economics).

Dalam kesempatan itu, Purbaya memberikan apresiasi kepada Universitas Diponegoro sebagai perguruan tinggi terbaik di Jawa Tengah dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta keterlibatan sivitas akademika melalui program beasiswa LPDP.

Kuliah umum berlangsung interaktif. Mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai pertanyaan kritis mengenai kebijakan fiskal pemerintah di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.

Baca Juga: Rahasia Top Notes, Middle Notes, dan Base Notes pada Parfum, Ini Cara Memilih Aroma yang Cocok untuk Cuaca Indonesia

Salah satu isu yang mendapat perhatian ialah strategi pemerintah menghadapi dampak konflik geopolitik Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sekaligus memengaruhi kondisi APBN.

Mahasiswa juga mempertanyakan dukungan fiskal pemerintah terhadap Program Pembangkit Listrik 100 Gigawatt, termasuk bentuk insentif yang disiapkan untuk mempercepat investasi dan pelaksanaannya.

Selain itu, diskusi turut menyoroti langkah pemerintah menjaga keberlanjutan fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan anggaran untuk membiayai berbagai program prioritas nasional.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Purbaya memberikan jawaban dengan gaya komunikatif.

Baca Juga: Jangan Cuma Fokus SKD! Ini 5 Tahapan Seleksi STAN yang Wajib Dilewati Calon Taruna, Banyak Peserta Gugur di Tengah Jalan

Ia bahkan mengapresiasi berbagai masukan dari mahasiswa dan meminta agar usulan yang disampaikan dapat diberikan secara tertulis sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

Kuliah umum yang digelar di Gedung Serbaguna Muladi Dome UNDIP itu dihadiri sekitar 1.365 mahasiswa, termasuk 101 peserta Komunita (Komunitas #UangKita), komunitas edukasi APBN yang dibentuk Kementerian Keuangan untuk mendukung visi Indonesia Maju 2045.

Meski berlangsung pada masa libur semester, antusiasme mahasiswa tetap tinggi.

Acara dipandu dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP, Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S.E., M.S.E., Ph.D., dan dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Keuangan serta Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si.

Baca Juga: Gerhana Matahari Total Terlama Segera Terjadi, Siang Berubah Gelap Lebih dari 6 Menit

Dalam sambutannya, Prof. Suharnomo menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Keuangan di kampus UNDIP.

Ia juga menilai berbagai kebijakan fiskal pemerintah, seperti menjaga daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan pajak serta mempertahankan ruang fiskal, menjadi langkah penting menghadapi tantangan ekonomi global.

"Pelaut yang hebat tidak lahir dari laut yang tenang. Kami percaya bahwa Pak Menteri bisa menghadapi tantangan makroekonomi fiskal," ucap Prof. Suharnomo.

Rektor UNDIP juga mengungkapkan tingginya antusiasme mahasiswa menjadi bukti semangat sivitas akademika dalam melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Baca Juga: Duta Keselamatan Berkendara Astra Honda Raih Jutaan Views

Berbagai hasil riset seperti mesin desalinasi, pusat hemodialisa, padi salin, nila salin, hingga bone scaffold menjadi contoh hilirisasi teknologi yang terus dikembangkan kampus.

Ke depan, UNDIP juga berencana membangun UNDIP Manufacturing Center sebagai pusat produksi berbagai inovasi kampus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar kuliah umum.

Dialog antara pemerintah dan kalangan akademisi menunjukkan bahwa gagasan, kritik, dan inovasi dari kampus dapat menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih kuat demi mewujudkan Indonesia Maju 2045.***