POJOKSATU.id - Belajar coding sekaligus musik? Wah, ternyata bisa dilakukan dalam satu aktivitas yang seru di kelas.

SMPN 7 Sinjai menghadirkan inspirasi pembelajaran dengan memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) untuk membuat alat musik digital.

Guru SMPN 7 Sinjai, Lia Amalia, menggunakan aplikasi Scratch untuk mengembangkan xylophone digital.

Aktivitas ini memadukan unsur teknologi, seni, dan pembelajaran STEM dalam satu kegiatan yang lebih interaktif.

Baca Juga: Arsip Kemendikdasmen Diserahkan ke ANRI, Jadi Sumber Belajar dan Sejarah Bangsa

Bukan sekadar menghasilkan bunyi, siswa juga diajak memahami bagaimana sebuah karya musik dapat dibuat melalui proses coding.

Setiap bagian dari xylophone digital dapat dirancang melalui Scratch sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mencoba, bereksperimen, sekaligus melihat langsung hubungan antara kode yang dibuat dengan hasil yang muncul.

Bagi Lia, penggunaan PID memberikan pengalaman belajar yang berbeda.

Media tersebut dinilai membantu siswa memahami konsep dengan lebih kuat sekaligus membuat mereka lebih aktif selama proses pembelajaran.

Baca Juga: Dua Warga Pejompongan Korban Kerusuhan Demo 27 Agustus, Satu Tewas Satu Lagi Luka Parah

Suasana belajar pun menjadi lebih menyenangkan karena siswa tidak hanya menerima materi, tetapi ikut terlibat dalam proses menghasilkan sebuah karya.

Coding bertemu kreativitas seni
Aktivitas membuat xylophone digital menjadi contoh bahwa pembelajaran teknologi tidak harus terasa kaku.

Coding dapat dikemas bersama seni musik sehingga siswa memiliki ruang untuk mengembangkan logika sekaligus kreativitas.

Melalui Scratch, siswa dapat belajar menyusun perintah dan memahami cara kerja program.

Baca Juga: 6 Pengaturan WhatsApp yang Wajib Dicek agar Akun Lebih Aman dari Penipuan

Di saat yang sama, mereka bisa mengeksplorasi nada dan menghasilkan karya musik sesuai kreativitas masing-masing.

Pengalaman semacam ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan dunia siswa.

Mereka belajar teknologi sambil berkarya, bukan sekadar mempelajari teori.

Yang menarik, Papan Interaktif Digital juga memberikan ruang bagi guru untuk menghadirkan aktivitas pembelajaran yang lebih visual dan responsif.

Ketika karya musik berhasil dimainkan, rasa bangga pun muncul.

Baca Juga: Mengenal SKPI, Dokumen Pendamping Ijazah yang Bisa Bantu Saat Cari Kerja

Siswa dapat melihat hasil dari proses yang mereka kerjakan sendiri, mulai dari menyusun logika hingga menghasilkan suara.

Model pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa teknologi di ruang kelas bukan hanya soal perangkat canggih.

Yang saling penting adalah bagaimana perangkat itu digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Bagi sekolah lain yang ingin mencoba pendekatan serupa, tutorial membuat xylophone melalui Scratch ala Lia Amalia dapat menjadi salah satu inspirasi untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi, STEM, dan seni musik.

Baca Juga: Akun Tiba-tiba Aneh? Ini 7 Tanda Akun Diretas yang Perlu Dicek

Pembelajaran melalui PID akhirnya tidak hanya membuat kelas lebih interaktif.

Ada proses mencoba, salah, memperbaiki, dan menghasilkan karya yang membuat siswa merasa bahwa belajar bisa sekaligus menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Ketika siswa tersenyum karena berhasil menghasilkan bunyi dari karya yang mereka buat sendiri, di situlah teknologi menemukan maknanya.

Bukan sekadar layar dan kode, tetapi menjadi jalan bagi rasa ingin tahu, kreativitas, dan kebanggaan untuk tumbuh bersama di dalam kelas.***