POJOKSATU.id - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra menyoroti video kedekatan oknum guru sekolah dasar dengan siswinya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang viral di media sosial.
Menurut Jasra, konten tersebut tidak bisa dianggap sekadar candaan, melainkan menjadi indikasi serius dari fenomena child grooming yang masih marak terjadi di Indonesia.
Jasra menilai, kasus yang mencuat ke ruang publik ini hanyalah bagian kecil dari persoalan yang jauh lebih besar.
Ia menyebut praktik child grooming sebagai fenomena gunung es, di mana banyak kasus serupa tidak terungkap dan luput dari perhatian masyarakat.
Menurutnya, di balik konten yang kerap dianggap iseng atau biasa saja, terdapat pola kejahatan yang bersifat sistematis.
Pola tersebut memanfaatkan kerentanan anak dan kondisi keluarga untuk membangun relasi yang tidak sehat dan berbahaya.
“KPAI memandang kasus ini sebagai pintu masuk untuk membongkar praktik child grooming yang kian canggih dan manipulatif. Saya kira kita perlu bersikap tegas pada fenomena child grooming,” kata Jasra dalam keterangannya, Sabtu, 7 Februari 2026.
Ia mengingatkan bahwa pelaku child grooming tidak bekerja secara sembarangan.
Baca Juga: Otw Ramadan 2026: Intip Jadwal Awal Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah yang Perlu Kamu Tahu
Mereka kerap melakukan riset terlebih dahulu terhadap calon korban, baik melalui media sosial maupun pengamatan langsung di lingkungan sekitar.
Target utama pelaku biasanya adalah anak-anak dari keluarga yang rentan, baik secara ekonomi maupun psikologis.
Kondisi tersebut dinilai memudahkan pelaku untuk masuk dan membangun kedekatan dengan korban serta keluarganya.
“Pelaku masuk bak pahlawan, seperti membantu biaya sekolah, melunasi utang keluarga, menjanjikan prestasi, atau memberikan pekerjaan. Ada juga yang memanfaatkan konflik anak dan keluarga, serta kekurangan figur orang tua pada korban. Tujuannya menciptakan ketergantungan dan utang budi,” jelasnya.
Baca Juga: 5 Film Baru Tayang Akhir Pekan Ini di Bioskop, dari Human Resource hingga Return to Silent Hill
Jasra menegaskan, kesadaran publik menjadi kunci penting untuk memutus mata rantai kejahatan ini.
Ia mendorong semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas, untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal child grooming demi melindungi anak-anak dari potensi kekerasan dan eksploitasi.
Kasus dugaan kedekatan tak wajar antara guru dan siswa ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak boleh lengah.
Kewaspadaan bersama dan keberanian bersikap tegas menjadi langkah awal agar anak-anak tumbuh aman, bermartabat, dan terbebas dari manipulasi yang merusak masa depan mereka. ***




