POJOKSATU.id - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menggelar International Summer Course on Interprofessional Healthcare bersama Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi.

Tahun ini, tema yang diangkat cukup unik dan relevan dengan isu global: “Promoting Resilient Workplaces and Sustainable Environments for Global Health Equity.”

Kegiatan yang berlangsung pada awal November itu diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai negara seperti Belanda, Thailand, Pakistan, dan Myanmar, termasuk mahasiswa dari Universitas Pattimura, Universitas Islam Internasional Indonesia, serta UGM sendiri.

Baca Juga: Beasiswa Pendidikan Pemimpin Indonesia 2025 Buka Kesempatan untuk Pelajar dan Mahasiswa Berprestasi!

Belajar Keselamatan Kerja Lewat Membatik
Salah satu kegiatan menarik dalam program ini adalah kunjungan ke Desa Batik Giriloyo, Wukirsari, Bantul.

Di sana, para peserta diajak memahami penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja melalui proses membatik secara langsung.

Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dan mencoba membuat batik sendiri dengan alat tradisional.

Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Cara Daftar NPWP Karyawan dan Keuntungan Punya NPWP di 2025

Johan, mahasiswa asal Belanda, mengaku senang dengan kegiatan tersebut.

Namun, ia menilai pentingnya perlindungan diri saat membatik di luar ruangan.

“Menurut saya akan lebih baik untuk menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan agar terhindar dari bahaya panas saat membatik,” ujarnya.

Michelle, peserta lain dari Belanda, menganggap membatik bukan hanya menarik tetapi juga menantang.

Baca Juga: Kadinkes Benarkan Ada Nakes Yang Terjerat Hukum, Karena Mengintip Bidan Pakai Kamera Tersembunyi

“Pembatik harus duduk lama dan menghadapi tingkat kesulitan yang beragam.

Jadi, mereka bisa melakukan olahraga kecil di sela waktu membatik, peregangan, dan memastikan punggungnya tetap baik,” katanya antusias.

Kolaborasi dan Isu Global Health Equity
Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari kolaborasi yang sudah berjalan satu dekade.

Baca Juga: Skolla dan Kitabisa Buka Beasiswa Intensif SNBT 2026 Batch 3, Siapkan Pejuang PTN dari Seluruh Indonesia!

“Tahun ini, kolaborasi dengan Vrije Universiteit Amsterdam sudah memasuki tahun ke-10. Banyak hal yang bisa kita pelajari, terutama soal isu global health equity,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa tema tahun ini memang berbeda.

“Kita bahas bagaimana orang bekerja, risikonya, dan tindakan pencegahannya. Harapannya, para peserta memahami bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada hanya mengobati pasien,” tuturnya.

Baca Juga: Respons Cepat DP3A Pemkab Sukabumi, Lindungi Keluarga Korban Pencabulan di Kadudampit yang Diduga Alami Intimidasi

Dari Batik hingga Puskesmas
Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH., selaku Koordinator Kegiatan Lapangan, menjelaskan bahwa para mahasiswa tidak hanya belajar membatik, tapi juga melakukan observasi di industri batik dan puskesmas setempat.

“Mereka mengamati penerapan keselamatan kerja agar bisa mencegah dampak kesehatan akibat pekerjaan,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga diperkaya dengan sesi pengenalan budaya lokal.

Para peserta mendapat penjelasan langsung dari Tiyastiti Suraya, S.Si., M.E.M., pengelola Desa Batik Giriloyo.

Baca Juga: Kerja di Startup atau Corporate? Ini Perbedaan dan Kelebihannya yang Perlu Kamu Tahu!

Ia memaparkan sejarah batik serta langkah-langkah pembuatan kain batik tradisional.

Desa Giriloyo sendiri dinobatkan sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia pada tahun 2024.

Melalui kegiatan lintas disiplin ini, UGM bukan hanya memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia, tapi juga menanamkan nilai penting tentang kesehatan kerja dan keberlanjutan lingkungan di level global. ***